Konten dari Pengguna

Mengapa Murid Mudah Tersinggung, tapi Gemar Menyentil?

Likon Lubis

Likon Lubis

Guru Pendidikan Pancasila di SMA Darma Yudha Pekanbaru

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Likon Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Emosi yang Mudah Meledak di Ruang Kelas

Belakangan ini, ruang kelas tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang emosi yang rapuh. Persoalan kecil kerap memicu kemarahan. Candaan singkat berubah menjadi perselisihan. Yang menarik, murid yang paling cepat merasa tersinggung sering kali justru yang paling lancar melontarkan sindiran kepada temannya.

Sebagai guru, saya melihat pola ini berulang. Bukan hanya pada satu kelas atau satu angkatan, tetapi hampir merata. Ini bukan sekadar soal usia remaja, melainkan soal cara murid memandang diri dan orang lain.

Bercanda yang Tidak Lagi Sederhana

Dalam interaksi sehari-hari, ejekan sering dianggap bagian dari keakraban. Selama disertai tawa, murid merasa tidak bersalah. Namun yang jarang disadari adalah dampaknya. Ketika candaan itu melukai, pembelaannya selalu sama: “Saya hanya bercanda.”

Masalah muncul saat candaan tersebut dibalas. Reaksi yang muncul bukan penerimaan, melainkan kemarahan. Di sinilah terlihat ketimpangan sikap: ingin bebas menyentil, tetapi tidak siap disentil.

Pengaruh Dunia Digital terhadap Sikap Sosial

Media sosial memperkuat pola ini. Di ruang digital, komentar tajam sering dianggap ekspresi kejujuran. Sindiran dianggap hiburan. Murid terbiasa bereaksi cepat, tetapi jarang diajak berpikir tentang akibat dari ucapannya. Empati menjadi hal yang tertinggal, sementara keberanian berbicara tumbuh tanpa kendali.

Akibatnya, sedikit kritik terasa seperti serangan. Perbedaan pendapat dianggap penghinaan. Padahal kehidupan bersama selalu penuh dengan perbedaan.

Sekolah dan Tugas Membentuk Karakter

Sekolah sering menekankan keberanian berbicara dan kemampuan berpikir kritis. Namun keberanian tanpa kedewasaan justru melahirkan konflik. Murid perlu belajar bahwa berbicara bukan hanya soal menyampaikan isi pikiran, tetapi juga soal menjaga perasaan orang lain.

Sebagai guru, saya meyakini bahwa pendidikan tidak cukup berhenti pada transfer pengetahuan. Kelas harus menjadi tempat murid belajar menahan diri, menerima perbedaan, dan bertanggung jawab atas kata-kata yang diucapkan.

Belajar Pancasila dalam Sikap Sehari-hari

Nilai-nilai Pancasila sesungguhnya hidup dalam hal-hal sederhana. Sila kedua mengajarkan kemanusiaan dan penghormatan terhadap martabat sesama. Sila ketiga menuntut kita menjaga persatuan, bukan memperlebar jarak lewat ejekan. Sila keempat menegaskan pentingnya musyawarah dan sikap saling mendengar.

Jika nilai-nilai ini hadir dalam keseharian murid, ruang kelas tidak akan mudah dipenuhi emosi. Perbedaan tidak lagi dianggap ancaman, dan candaan tidak menjadi alat untuk merendahkan.

Menumbuhkan Karakter Pelajar yang Tangguh

Murid perlu dilatih memiliki ketahanan emosi. Tidak semua perkataan orang lain harus dibalas dengan kemarahan. Tidak semua kritik bermakna serangan. Kedewasaan justru terlihat dari kemampuan mengelola diri sebelum menilai orang lain.

Karakter pelajar yang tangguh bukan mereka yang paling lantang berbicara, tetapi mereka yang mampu bersikap adil—baik saat menyampaikan pendapat maupun saat menerima perbedaan.

Pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia. Jika sekolah mampu menanamkan nilai empati, tanggung jawab, dan penghorm

Murid SMA mengikuti proses pembelajaran yang tidak hanya menekankan penguasaan materi pelajaran, tetapi juga pengelolaan emosi. Sumber foto: dokumen pribadi.

atan terhadap sesama, maka murid tidak hanya tumbuh cerdas, tetapi juga berkarakter. Dan di sanalah Pancasila tidak lagi menjadi hafalan, melainkan sikap hidup yang nyata di ruang kelas.