Bisnis Bareng Teman, Kenapa Tidak? Mengenal Koperasi sebagai Pilihan Anak Muda

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Lilis Amalliya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda mempunyai ide bisnis dengan teman-teman Anda tetapi tidak maju karena tidak punya cukup uang atau tidak yakin bagaimana memulainya? Situasi ini adalah sesuatu yang dihadapi banyak wirausahawan muda saat mereka memulai. Toleransi antarulangan pada bisnis tidak harus menjadi upaya tunggal; kerja sama merupakan alternatif yang perlu dipertimbangkan. Hanya hasil yang diinginkan.
Toleransi antarulangan seringkali dianggap hanya sebagai aspek dari lembaga-lembaga simpanan-pinjam atau organisasi, dan tidak berdampak signifikan pada harga atau generasi yang lebih tua.Hasilnya, hanya mengandung konsekuensi negatif yang tidak berarti. Namun pada kenyataannya, toleransi dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan usaha bisnis bersama. Anggota mengikuti gagasan kekeluargaan dan kerja tim, dan mereka dapat berbagi kemampuan dan hal-hal yang mereka miliki untuk bekerja sama menuju tujuan keuangan bersama.
Memulai Bisnis Melalui Kolaborasi
Bayangkan lima mahasiswa yang berencana memulai bisnis makanan ringan. Setiap orang menyetorkan Rp 200.000, sehingga totalnya menjadi Rp 1.000.000. Toleransi antarulangan dapat menyebabkan konsekuensi negatif dalam hal harga. Mereka membagi tugas antar diri mereka sendiri, mencakup produksi, pengemasan, pemasaran, hingga pencatatan keuangan.
Contoh ini menunjukkan bagaimana kerja sama dapat membantu mengatasi masalah kurangnya uang atau keterampilan pribadi. Sekadar mengumpulkan uang tidak serta merta mengubah suatu usaha menjadi koperasi. Untuk resmi membentuk koperasi, para pendiri perlu mengikuti langkah-langkah hukum tertentu dan mengikuti aturan pengelolaan koperasi.
Mengapa Koperasi Relevan bagi Gen Z?
Koperasi memberikan kesempatan bagi anak muda untuk belajar mengelola keuangan, mengambil keputusan bersama, dan mengembangkan keterampilan bisnis. Selain itu, perangkat digital dapat membantu mempromosikan produk di media sosial, menjual barang secara daring, serta mempermudah pencatatan penjualan dan transaksi.
Namun, koperasi terkadang menghadapi kendala, seperti perbedaan pendapat antaranggota, pembagian tugas yang adil, dan pengelolaan keuntungan yang tepat. Oleh karena itu, adanya aturan yang jelas, kejujuran dalam pengelolaan keuangan, serta komitmen setiap anggota terhadap peran mereka sangatlah penting agar bisnis dapat berkembang secara sehat dan berkelanjutan.
Saatnya bagi anak muda untuk mempertimbangkan bergabung dengan koperasi.
Koperasi bukan sekadar cara berbisnis yang ketinggalan zaman. Dengan bimbingan ahli dan dukungan teknologi, koperasi bisa menjadi pilihan tepat bagi anak muda untuk merintis usaha bersama.
Menjalankan usaha bersama teman bukan hanya soal pengumpulan modal, melainkan juga tentang membangun kepercayaan dan rasa tanggung jawab. Jika dikelola dengan baik, koperasi dapat memberikan kesempatan bagi anak muda untuk belajar menjalankan bisnis sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang dapat dinikmati bersama.
Contoh Nyata: Koperasi Mahasiswa Mulai Beradaptasi
Koperasi yang dikelola anak muda bukan sekadar gagasan. Salah satu contohnya adalah Koperasi Mahasiswa Merah Putih Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) yang diresmikan pada Desember 2025 dan diberitakan oleh Kementerian Koperasi pada Januari 2026.
Koperasi ini mengusung konsep modern dan berorientasi pada kegiatan bisnis produktif. Kehadirannya menunjukkan bahwa koperasi dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk belajar berwirausaha, mengembangkan inovasi, dan memanfaatkan peluang ekonomi.
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa koperasi memiliki potensi untuk berkembang mengikuti kebutuhan generasi muda. Dengan pengelolaan profesional dan pemanfaatan teknologi digital, koperasi dapat menjadi salah satu alternatif bagi anak muda yang ingin membangun usaha secara bersama-sama.
Lilis Amalliya, Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang
