Konten dari Pengguna

Observe Rumah Sakit Hewan

Lim Ee Kee
mahasiswa di Universitas Airlangga
4 Desember 2024 12:27 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Lim Ee Kee tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Dalam hal komunikasi verbal, selama pengamatan saya di klinik hewan, dokter hewan dan perawat menggunakan keterampilan komunikasi verbal yang efektif, yang akurat, tepat, dan penuh empati. Sebagai contoh, seorang dokter hewan berbicara dengan pemilik anjing yang mengalami diare. Saat berbicara dengan pelanggan, dokter hewan memulai dengan pertanyaan umum seperti, "Perubahan apa yang Anda perhatikan?" Hal ini membuat pemilik merasa didengar, dan dokter hewan dapat mengumpulkan detail penting. Pertanyaan yang bersifat membangun hipotesis sangat berguna dalam praktik veteriner karena memungkinkan pelanggan memberikan deskripsi yang mendetail. Setelah dokter hewan mendapatkan semua informasi yang diperlukan, ia menjelaskan kemungkinan penyakit yang didiagnosis dan prosedur selanjutnya dengan bahasa yang sederhana. Sebagai contoh, terkait tes diagnostik, dokter hewan mengatakan, "Untuk memeriksa apakah ada sesuatu yang menghalangi perut atau usus, kami harus melakukan rontgen. Ini dapat membantu kami mengetahui penyebab ketidaknyamanan ini." Saya juga mengamati seorang perawat hewan saat ia memberikan edukasi kepada pemilik kucing tentang cara merawat kucing setelah operasi. Perawat menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami dan menjelaskan secara detail dampak dari tidak mematuhi instruksi dokter atau perawat. "Batasi gerakannya dan biarkan dia tetap di ruangan yang tenang," serta "Anda sebaiknya terus bertanya, pertanyaan apa pun yang ingin Anda tanyakan atau kebingungan apa pun, biarkan saya jelaskan," saran perawat tersebut. Dalam interaksi ini, bahasa yang digunakan tetap bersahabat, profesional, dan menenangkan, yang sangat penting untuk membantu mengurangi tekanan pada pemilik hewan saat menerima diagnosis atau prosedur.
Observe Rumah Sakit Hewan
zoom-in-whitePerbesar
Selain itu, dalam komunikasi nonverbal, penyedia layanan selalu memperhatikan pemilik hewan untuk menunjukkan bahwa mereka mendengarkan apa yang dikatakan oleh klien. Hal ini membuat pendekatan mereka menjadi lebih mudah dengan postur tubuh yang bersahabat, menciptakan suasana yang ramah. Sebagai contoh, saya melihat seorang dokter hewan mencoba menyentuh dengan lembut seekor hewan peliharaan yang tampak gelisah. Dokter hewan tersebut menangani hewan itu dengan sangat lembut agar tidak menambah stres hewan tersebut. Bahasa tubuh seperti ini tidak mengancam, sehingga membantu mengurangi tingkat stres hewan. Sikap yang sama juga diterapkan saat berkomunikasi dengan pemilik hewan, terutama ketika menyampaikan kabar buruk. Misalnya, ketika menjelaskan kepada pemilik bahwa anjing yang sudah tua perlu disuntik mati, posisi tubuh dokter yang terbuka dan ekspresi wajah tanpa kerutan membantu pemilik menerima informasi tersebut. Untuk hewan dengan disabilitas, perawat sering mengajak mereka berjalan-jalan setiap sore untuk memperbaiki kondisi tubuh mereka. Selama berjalan-jalan, perawat berbicara dengan pemilik yang cemas dengan nada yang menenangkan. Penggunaan komunikasi nonverbal yang tepat, termasuk nada suara yang lembut dan sentuhan yang halus, berhasil menenangkan hewan peliharaan sekaligus pemiliknya.
Lebih jauh lagi, dalam komunikasi antarprofesional, hal ini mirip dengan komunikasi yang terjadi dalam tim perawatan kesehatan. Saya melihat beberapa contoh interaksi antara dokter hewan dan perawat. Misalnya, saat menjelaskan langkah-langkah perawatan untuk hewan yang dirawat inap kepada pemiliknya, dokter hewan memberikan poin-poin utama, sementara perawat menyela untuk bertanya sebagai tanda memahami. Percakapan singkat namun produktif ini menunjukkan pentingnya komunikasi yang baik dalam memberikan perawatan pasien yang tepat. Sebelum setiap shift, dilakukan briefing serah terima, di mana dokter hewan memberikan informasi lengkap tentang kondisi hewan dan rencana perawatan. Hal ini memastikan satu dokter tertentu menangani satu hewan selama masa perawatannya, sehingga mencegah terjadinya kesalahan. Komunikasi yang efisien selama serah terima sangat penting untuk memberikan perawatan berkualitas tinggi dan menghemat waktu di lingkungan yang sering berubah.
Akhirnya, tentang komunikasi dengan masyarakat, klinik juga fokus memberikan konseling kepada klien tentang pencegahan kesehatan hewan peliharaan mereka. Brosur dan poster digunakan untuk mengedukasi klien tentang vaksinasi, parasit, dan pemeriksaan kesehatan umum. Dokter hewan meluangkan waktu untuk menjelaskan kepada pemilik hewan alasan beberapa tes atau perawatan diperlukan selama pemeriksaan rutin, agar pemilik memahami informasi yang diberikan. Misalnya, ketika seorang klien membawa anjingnya untuk imunisasi sederhana, dokter hewan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengedukasi klien tentang pentingnya vaksinasi anjing terhadap berbagai penyakit, dalam upaya mendorong langkah-langkah perawatan kesehatan preventif.
ADVERTISEMENT
Singkatnya, klinik hewan ini menyediakan model komunikasi verbal dan nonverbal yang efektif serta komunikasi antarprofesional. Praktik-praktik ini tidak hanya memberikan perawatan yang efisien untuk hewan tetapi juga membuat pemilik hewan merasa nyaman dan percaya diri terhadap layanan yang diberikan oleh tim.