Konten dari Pengguna

Di Balik Meja Pelayanan Menyingkap Penyakit Akut Administrasi Negara

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lina Indah Safitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi: dibuat sendiri dengan aplikasi canva
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi: dibuat sendiri dengan aplikasi canva

Setiap kali masyarakat berkaitan dengan masalah biokrasi, sering adanya waswas yang menyertai. Apakah pengurusan KTP akan selesai tepat waktu? Apakah pengurusan izin usaha akan di persulit? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan hanya sekedar keraguan tanpa ada alsan tetapi refleksi dari pengalaman kolektif masyarakat yang berulang kali berhadapan dengan wajah biokrasi yang lambat, berbelit dan tidak efisien. Di dalam ilmu administrasi publik, kondisi pada saat sistem tata kelola negara mengalami “sakit” atau disfungsi dikenal dengan istilah patologi administrasi negara.

Patologi administrasi negara tertuju pada penyakit atau kelainan dalam aparatur pemerintah yang mengakibatkan fungsi-fungsi pelayanan publik tidak berjalan dengan semestinya. Peristiwa ini bukan hanya masalah individu segelintir oknum, melainkan penyakit struktural dan kultural yang mengakar kuat. Ketika administrasi negara mengalami penyakit, dampak terbesarnya tidak hanya dirasakan kas negara, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat yang langsung menghantam kehidupannya sehari-hari.

Bentuk-Bentuk Penyakit dalam Sistem Birokrasi

Patologi administrasi hadir dalam berbagai ragam bentuk. Salah satunya yaitu kecepatan yang tak seimbang. Terdapat istilah sindirian yang sangat akrab di masyarakat: “jika bisa dipersulit, mengapa harus dipermudah?” penyakit ini menyebabkan rantai birokrasi yang sengaja dipanjangkan. Ketentuan yang seharusnya selesai dalam dua hari kerja bisa sampai menjadi dua minggu, hanya untuk membuka celah bagi praktik pungutan liar atau uang pelicin.

Ada hal lain, terdapat penyakit “budaya formalisme dan legalisme kaku”. Birokrat sering kali lebih fokus pada kepatuhan terhadap ketentuan administrasi daripada hasil akhir atau dampak nyata bagi masyarakat. Kertas kerja, laporan tebal, dan stempel dinas kerap kali dijadikan ukuran keberhasilan, sedangkan substansi masalah publik di lapangan terbengkalai. Sikap yang hanya kebiasaan berlindung di balik Prosedur Operasional Standar (SOP) dan sikap asal bapak senang tanpa fleksibilitas untuk kepentingan publik adalah manifestasi nyata dari penyakit ini.

Patologi yang tidak kalah merusak adalah “budaya pilih kasih dan politik balas budi dalam penataan aparatur”. Pada saat rekrutmen atau promosi jabatan didasarkan pada kedekatan politik, hubungan kekerabatan bukan atas dasar meritokrasi maka sistem ini akan diisi oleh orang orang yang tidak berkompeten. Dampaknya, kebijakan publik yang dirumuskan sering kali mentah, kontradiktif, dan gagal menjawab kebutuhan masyarakat.

Mengapa Patologi Ini Terus Bertahan?

Keberlangsungan patologi administrasi terus dipelihara oleh kombinasi antara struktur biokrasi yang terlalu gemuk dan minimnya keterbukaan kepada publik. Struktur yang terlalu hierarkis membuat jarak yang sangat jauh antara pembuat keputusan dan masyarakat yang dilayani. Jarak ini menyebabkan hilangnya rasa empati biokrat terhadap kesulitan yang dialami publik

Di samping itu, sistem pengawasan internal sering kali tumpul. Pengawasan yang seharusnya menjadi tempat koreksi justru berubah hanya menjadi formalitas administratif semata. Ketika mekanisme komplain publik tidak cepat tanggap dan sanki bagi aparatur yang melanggar minim diterapkan, budaya meremehkan tugas pun menjadi banyak. Patologi ini akhirnya dianggap hal yang wajae atau dianggap sebagai biaya umum yang harus ditanggung warga saat berurusan dengan negara.

Dampak Sistemik terhadap Perekonomian dan Kepercayaan Publik

Dampak dari penyakit birokrasi ini terlalu besar untuk dipandang sebelah mata. Ditinjau dari segi ekonomi, patologi administrasi menciptakan biaya tinggi bagi ekosistem usaha. Investor kurang berminat menanamkan modalnya karena kepastian hukum dan kepastian waktu perizinan tidak pernah terjamin. Alih-alih berkembang, energi pelaku UMKM justru terkuras habis untuk membereskan biokrasi yang tumpang-tindih.

Namun, terdapat dampak yang paling berbahaya adalah “erosi kepercayaan publik terhadap negara”. Pada saat masyarakat merasa bahwa tata kelola pemerintahan hanya melayanani kepentingan elit birokrasi dan tidak adil, rasa keterikatan warga terhadap negara akan melemah. Kepatuhan hukum menurun, kesadaran membayar pajak tergerus, dan keraguan terhadap setiap program pemerintah akan meningkat. Birokrasi yang sakit pada akhirnya hanya akan melemahkan legitimasi pemerintah itu sendiri.

Menyembuhkan Birokrasi: Bukan Sekadar Digitalisasi

Kemudian, bagaimana menyembuhkan patologi administrasi ini? Ada banyak pihak menganggap bahwa digitalisasi birokrasi merupakan obat penyembuh segalanya. Langkah memindahkan layanan ke aplikasi memang penting untuk memangkas tatap muka langsung yang rawan pungli. Namun, memindahkan proses birokrasi yang rumit ke dalam bentuk digital tanpa memperbaiki alur kerjanya hanya akan menghasilkan kerumitan berbasis digital.

Langkah penanganan patologi administrasi harus dilakukan secara mendasar dan menyeluruh:

1. Penyederhanaan Regulasi dan Prosedur: Pemerintah harus berani memangkas regulasi dan izin-izin yang tidak penting. Pola pikir tata kelola harus diubah dari mengawasi dengan mempersulit menjadi mempermudah urusan warga secara bertanggung jawab.

2. Penegakan Sistem Meritokrasi: Penataan SDM birokrasi harus murni berbasis kemampuan, kinerja, dan integritas. Kursi jabatan tidak boleh lagi menjadi komoditas atau hadiah dari kekuatan politik maupun pusat.

3. Transparansi dan Partisipasi Publik: Setiap adanya proses layanan harus memiliki standar waktu, biaya, dan alur yang jelas serta dapat diakses publik. Saluran pengaduan masyarakat harus dikelola secara independen dan wajib ditindaklanjuti dengan sanksi yang tegas.

4. Transformasi Budaya Kerja: Birokrasi harus mengadopsi budaya melayani, di mana ukuran keberhasilan seorang birokrat adalah seberapa cepat dan puas masyarakat terlayani, bukan seberapa lama ia duduk di jabatannya.

Penutup

Administrasi negara adalah tulang punggung keberlangsungan suatu bangsa. Jika tulang punggung tersebut dilemahkan oleh berbagai penyakit birokrasi, maka seluruh tubuh pemerintahan akan lumpuh. Reformasi birokrasi tidak boleh hanya berhenti sebagai wacana di atas kertas atau jargon politik setiap pemilu. Pembenahan ini membutuhkan keberanian politik yang kuat, konsistensi penegakan hukum, serta pengawasan publik yang tidak ada hentinya. Sudah saatnya sistem administrasi negara kita dibersihkan dari patologi yang menahun demi mewujudkan tata kelola pemerintahan yang sehat, adil, dan benar-benar hadir untuk melayani rakyat.