Konten dari Pengguna

Ketika Bertahan Jadi Kebiasaan, Bantuan Tak Lagi Terasa Aman

Linda Tsalsa Ramadhani

Linda Tsalsa Ramadhani

Seorang mahasiswi jurusan sistem informasi di universitas Pamulang. Berambisi untuk selalu bisa walaupun langkah pertamanya terasa berat, gagal udah hal wajar. yang terpenting, bangkit dan coba lagi. Menjadikan kegagalan sebagai motivasi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Linda Tsalsa Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang terlihat kuat, mandiri, dan seolah tak membutuhkan siapa pun. Di permukaan, mereka tampak mampu mengendalikan hidupnya dengan baik. Mereka terbiasa menyelesaikan segalanya sendiri, jarang meminta tolong, dan sering kali merasa canggung saat ada yang menawarkan bantuan. Banyak yang mengira sikap itu lahir dari sifat dingin atau gengsi. Padahal, bagi sebagian orang, itu adalah hasil dari proses bertahan yang terlalu lama.

sumber: illustrasi ai
zoom-in-whitePerbesar
sumber: illustrasi ai

Sejak kecil, tidak semua anak tumbuh dengan rasa aman. Ada yang harus belajar mengurus dirinya sendiri lebih cepat dari seharusnya—mengatur emosi tanpa ditemani, menyelesaikan masalah tanpa pelukan, dan bangkit tanpa ada yang menenangkan. Dalam kondisi seperti itu, bertahan bukan pilihan, melainkan keharusan. Menurut psikologi, anak yang terbiasa menghadapi segalanya sendiri sering tumbuh menjadi dewasa yang kesulitan menerima perhatian. Bukan karena mereka tidak membutuhkannya, tetapi karena perhatian terasa asing. Bantuan bisa memicu rasa tidak nyaman, bahkan ancaman, sebab dulu mereka belajar bahwa mengandalkan orang lain tidak selalu aman. Di dalam diri mereka, ada anak kecil yang pernah berharap dijaga, namun tak pernah benar-benar ditopang. Maka ketika dewasa, mekanisme bertahan itu tetap aktif. Menolak bantuan menjadi cara untuk melindungi diri, bukan tanda ketidakpedulian. Ironisnya, lingkungan sering salah menafsirkan hal ini. Mereka dianggap terlalu independen, terlalu kaku, atau sulit didekati. Padahal yang terjadi bukan kurangnya rasa, melainkan terlalu lamanya menahan. Bertahan sudah menjadi kebiasaan, bukan karena kuat, tetapi karena terbiasa tidak punya pilihan. Menerima bantuan memang membutuhkan proses. Bagi mereka yang sejak kecil dipaksa dewasa, belajar bersandar sama sulitnya dengan belajar berjalan bagi anak kecil. Pelan-pelan, dengan rasa aman yang konsisten, mereka bisa memahami bahwa tidak semua perhatian berakhir dengan kekecewaan. Pada akhirnya, menjadi mandiri bukanlah masalah. Yang perlu disadari adalah bahwa setiap orang berhak merasa aman, ditolong, dan dijaga. Tidak ada yang salah dengan kuat, selama kita juga diizinkan untuk lelah. Karena di balik dewasa yang terlihat tangguh, sering kali ada anak kecil yang pernah belajar bertahan sendirian—dan diam-diam ingin merasa aman, tanpa harus selalu kuat.