Konten dari Pengguna

Budaya Viral: Ketika Tradisi Menjadi Konten

Linda Dwiyani

Linda Dwiyani

Mahasiswa Universitas Pamulang - Akuntansi

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Linda Dwiyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Membuat Konten (sumber: https://www.pexels.com/id-id)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Membuat Konten (sumber: https://www.pexels.com/id-id)

Di era media sosial, budaya tidak hanya diwariskan lewat lisan dan tulisan, tetapi juga lewat konten. Video berdurasi 15 detik bisa membuat sebuah tarian tradisional mendunia, atau menjadikan upacara adat sebagai tren TikTok. Fenomena ini membawa perubahan besar dalam cara masyarakat memandang dan menyebarkan kebudayaan.

Ambil contoh Tari Kecak dari Bali. Dahulu hanya bisa disaksikan langsung di Pura atau panggung seni. Kini, versi ringkasnya muncul di Instagram Reels, lengkap dengan efek visual dan musik remix. Hal yang sama terjadi dengan Reog Ponorogo, yang viral setelah diangkat oleh beberapa kreator konten sebagai simbol kekuatan dan maskulinitas tradisional.

Ilustrasi Membuat Konten (sumber: https://www.pexels.com/id-id)

Sisi positifnya, budaya yang sebelumnya hanya dikenal di daerah asalnya kini bisa dinikmati secara global. Generasi muda yang tadinya tidak terlalu tertarik pun mulai penasaran dan mencari tahu lebih lanjut. Pemerintah bahkan mendukung kreator lokal melalui program digitalisasi budaya.

Ilustrasi Membuat Konten (sumber: https://www.pexels.com/id-id)

Meski begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa dunia digital telah menjadi panggung baru bagi tradisi. Kuncinya adalah bagaimana kita bisa tetap menghormati nilai-nilai budaya, sambil membawanya ke tengah arus zaman. Karena pada akhirnya, budaya bukan hanya warisan—ia adalah identitas yang terus berkembang.

Linda Dwiyani, mahasiswa Sarjana Akuntansi Universitas Pamulang.