Adab Santri dan Hal yang Belum Sempat Kita Bicarakan

Mahasiswa Administrasi Publik Universitas Sriwijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Linda Mayora tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sesuatu yang indah dari cara seorang santri duduk di hadapan gurunya. Punggung tegak, suara pelan, tidak menyela. Ketika ustaz berbicara, ruangan seakan berhenti bernapas. Adab itu nyata, dan bagi banyak orang yang tumbuh di lingkungan pesantren salafi, itulah bahasa pertama yang mereka pelajari, bahkan sebelum nahwu dan shorof.
Pola kepatuhan ini bukan tanpa alasan. Dalam tradisi pesantren salafi, ketundukan kepada guru bukan sekadar sopan santun, melainkan juga bagian dari keyakinan spiritual. Ada konsep barokah yang mengalir dari guru ke murid, dan diyakini bahwa kepatuhan adalah salah satu jalan untuk mendapatkannya. Santri diajarkan bahwa meskipun sebuah perintah terasa asing atau membingungkan, selalu ada hikmah di baliknya yang kelak akan membuat mereka bersyukur.
Dalam banyak hal, pola ini berhasil membentuk karakter. Santri yang keluar dari lingkungan ini umumnya dikenal punya etika yang kuat, disiplin yang tinggi, dan rasa hormat yang tulus kepada orang yang lebih tua. Nilai-nilai itu tidak bisa dianggap remeh di tengah dunia yang makin individualistis.
Ketika Kepatuhan Menjadi Sistem
Namun ada sisi lain yang jarang dibicarakan, terutama oleh mereka yang pernah hidup di dalamnya.
Otak manusia, secara kognitif, memang dirancang untuk mempertanyakan. Rasa ingin tahu, kemampuan mengevaluasi, dan keberanian untuk tidak setuju adalah bagian dari perkembangan nalar yang sehat. Ketika pola pendidikan secara konsisten mengajarkan bahwa mempertanyakan guru adalah bentuk ketidaksopanan atau lebih jauh, ancaman terhadap keberkahan, ada proses kognitif yang secara perlahan terhambat.
Ini bukan soal durhaka atau tidak. Ini soal bagaimana sebuah sistem secara tidak sengaja bisa membentuk individu yang terbiasa menunggu instruksi, ragu mengambil keputusan sendiri, dan kesulitan berdiri di ruang-ruang yang menuntut inisiatif dan argumentasi.
Anak-anak muda yang seharusnya bisa berkembang menjadi pemikir mandiri justru tumbuh dengan refleks untuk diam dan terkesan manut, bahkan ketika situasi di luar pesantren menuntut sebaliknya.
Kesenjangan yang Jarang Dibicarakan
Ada pula tantangan lain yang berkaitan erat: kesenjangan antara kapasitas pendidikan formal para pengajar dengan kompleksitas dunia yang dihadapi santri setelah lulus.
Banyak ustaz dan ustazah di pesantren salafi adalah orang-orang yang tulus dan berdedikasi. Mereka mengabdikan hidup untuk ilmu agama dan mengamalkannya dengan sungguh-sungguh. Namun, latar belakang pendidikan formal yang terbatas kadang membuat mereka kurang siap menghadapi konteks-konteks di luar ranah keagamaan, komunikasi lintas kelompok, penyelesaian konflik secara formal, atau navigasi dunia profesional dan birokrasi modern.
Dampaknya terasa di dalam kelas. Santri yang sudah cukup dewasa untuk mengenali celah ini sering kali berada dalam posisi yang serba salah: mereka tahu, tapi sistem mengajarkan mereka untuk pura-pura tidak tahu. Rasa hormat yang seharusnya tumbuh organik kadang bertahan hanya karena tekanan norma, bukan karena keteladanan yang dirasakan langsung.
Ini bukan salah siapa-siapa sepenuhnya. Ini adalah akibat dari sistem yang tidak pernah didesain untuk beradaptasi.
Cinta yang Jujur
Pesantren salafi menyimpan banyak hal yang layak dipertahankan: kedisiplinan, kesederhanaan, penghormatan terhadap ilmu, dan keterikatan komunitas yang hangat. Tradisi ini punya akar yang dalam dan telah membentuk generasi demi generasi dengan cara yang tidak bisa sepenuhnya diukur oleh standar dunia modern.
Namun justru karena itulah, ada harapan yang layak disampaikan bukan sebagai serangan, melainkan sebagai bagian dari rasa cinta yang jujur.
Bahwa kepatuhan dan berpikir kritis bukan dua hal yang saling bertentangan. Bahwa memberi ruang bagi santri untuk bertanya bukan ancaman terhadap wibawa guru, melainkan bukti bahwa ilmu yang diajarkan cukup kuat untuk dipertanyakan.
Dan bahwa generasi santri yang mampu berpikir mandiri, berkomunikasi lintas konteks, dan berdiri di berbagai ruang dengan percaya diri justru merupakan cerminan terbaik dari pendidikan yang berhasil.
Tradisi tidak harus beku untuk tetap bermakna. Dan terkadang, cinta terhadap sesuatu justru menjadi paling tulus ketika kita berani melihatnya apa adanya.
