Konten dari Pengguna

Ekonomi Tumbuh, Tapi Anak Muda Dapat Apa?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari lintangaliadhiaulhaq4 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: GPT AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: GPT AI

Ketika mendengar berita bahwa ekonomi Indonesia tumbuh, yang terbayang biasanya adalah angka, grafik, investasi, produksi, dan berbagai aktivitas bisnis yang semakin berkembang. Namun, bagi anak muda yang sedang mencari pekerjaan atau baru memulai karier, pertanyaan yang muncul bisa jauh lebih sederhana: dari pertumbuhan ekonomi tersebut, peluang apa yang benar-benar bisa kami dapatkan?

Pertanyaan ini penting karena pembangunan ekonomi seharusnya tidak hanya berbicara mengenai meningkatnya jumlah produksi atau investasi. Pembangunan juga berkaitan dengan bagaimana masyarakat memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar. Kondisi tersebut sebenarnya merupakan peluang. Anak muda dapat menjadi tenaga kerja, pelaku usaha, inovator, sekaligus konsumen yang ikut menggerakkan perekonomian.

Namun, jumlah penduduk usia produktif yang besar tidak otomatis menjadi keuntungan apabila kesempatan kerja dan keterampilan yang tersedia tidak sesuai.

Perubahan dunia kerja juga membuat persoalan menjadi semakin menarik. Teknologi digital telah menciptakan pekerjaan dan peluang usaha baru, tetapi pada saat yang sama beberapa jenis pekerjaan mulai berubah. Anak muda tidak cukup hanya memiliki ijazah. Kemampuan menggunakan teknologi, berkomunikasi, berpikir kreatif, memecahkan masalah, dan beradaptasi juga semakin dibutuhkan.

Di sinilah pembangunan ekonomi seharusnya tidak berhenti pada pencapaian angka pertumbuhan. Pertumbuhan perlu diterjemahkan menjadi kesempatan yang nyata.

Misalnya, ketika investasi masuk ke suatu daerah, manfaatnya tidak hanya diukur dari nilai investasi yang tercatat. Hal yang juga penting adalah apakah investasi tersebut membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan menciptakan peluang bagi usaha kecil untuk ikut berkembang.

Begitu pula dengan perkembangan ekonomi digital. Marketplace dan media sosial memang memberikan kesempatan kepada anak muda untuk memulai usaha dengan modal yang relatif lebih fleksibel. Seseorang dapat menjual makanan, pakaian, kerajinan, atau produk lainnya tanpa harus memiliki toko besar.

Tetapi peluang tersebut tetap membutuhkan dukungan. Pelaku usaha muda membutuhkan pengetahuan mengenai pemasaran, pengelolaan keuangan, kualitas produk, dan pemanfaatan teknologi agar usahanya tidak hanya ramai sesaat, tetapi mampu bertahan.

Menurut saya, inilah salah satu cara melihat pembangunan ekonomi dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita tidak hanya bertanya, “berapa persen ekonomi Indonesia tumbuh?”, tetapi juga bertanya, “berapa banyak peluang baru yang tercipta?”

Sebab, angka pertumbuhan ekonomi memang penting untuk menggambarkan kondisi perekonomian secara keseluruhan. Namun, bagi anak muda, ukuran pembangunan juga terasa melalui hal-hal yang lebih konkret: mudah atau sulit mendapatkan pekerjaan, tersedia atau tidaknya peluang usaha, cukup atau tidaknya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan, serta adanya kesempatan untuk meningkatkan keterampilan.

Pembangunan ekonomi pada akhirnya bukan hanya tentang membuat ekonomi menjadi lebih besar. Pembangunan juga tentang membuat kesempatan menjadi lebih luas.

Jika pertumbuhan ekonomi mampu membuka lebih banyak pekerjaan, mendorong usaha baru, meningkatkan keterampilan, dan memberikan kesempatan yang lebih luas kepada generasi muda, maka pertumbuhan tersebut memiliki hubungan yang lebih nyata dengan kehidupan masyarakat.

Karena itu, ketika kita kembali mendengar bahwa ekonomi Indonesia tumbuh, mungkin sudah waktunya anak muda tidak hanya bertanya tentang angkanya.

Pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka adalah:

“Dari pertumbuhan itu, peluang apa yang terbuka untuk saya?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi cara lain untuk melihat apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar bergerak menjadi pembangunan yang memberikan kesempatan bagi generasi berikutnya.