Desain Itu Nggak Cuma Keren: Curhat Anak DKV Waktu PKL

Pelajar Smk Santa Familia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Lionel Mamusung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Desain sering kali dilihat sebagai sesuatu yang “keren”. Feed Instagram yang estetik, poster yang menarik, atau branding yang terlihat profesional membuat banyak orang berpikir bahwa dunia Desain Komunikasi Visual (DKV) adalah dunia yang penuh kreativitas tanpa batas. Namun, bagi anak DKV yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL), realitasnya tidak sesederhana itu. Di balik visual yang menarik, ada proses panjang yang penuh tekanan, kebingungan, bahkan rasa tidak percaya diri.

Ekspektasi yang Terlalu Indah di Awal
Banyak anak DKV memulai PKL dengan bayangan bahwa mereka akan langsung terlibat dalam proyek-proyek besar dan menghasilkan karya yang membanggakan. Ada harapan untuk bebas bereksperimen, mengeluarkan ide-ide unik, dan melihat hasil desain mereka digunakan secara nyata.
Namun, ketika benar-benar masuk ke dunia kerja, kenyataannya berbeda. Tidak semua tugas terasa “keren”. Ada kalanya pekerjaan yang diberikan justru repetitif, sederhana, bahkan terlihat sepele. Dari sini muncul kesadaran awal bahwa dunia desain tidak selalu tentang karya besar, tetapi juga tentang konsistensi dalam mengerjakan hal-hal kecil dengan baik.
Ketika Desain Harus “Tunduk” pada Kebutuhan
Salah satu hal yang paling terasa selama PKL adalah bagaimana desain tidak sepenuhnya menjadi milik desainer. Setiap karya yang dibuat harus mengikuti kebutuhan klien atau perusahaan. Warna, font, layout, bahkan konsep besar sering kali sudah memiliki batasan tertentu.
Di titik ini, anak DKV mulai merasakan konflik antara idealisme dan realitas. Desain yang menurut mereka sudah menarik belum tentu dianggap sesuai oleh klien. Bahkan, tidak jarang desain yang sederhana justru lebih dipilih karena dianggap lebih “aman”. Pengalaman ini mengajarkan bahwa desain bukan hanya soal selera pribadi, melainkan tentang bagaimana menyampaikan pesan yang bisa diterima oleh target audiens.
Revisi yang Kadang Bikin Ragu Diri
Tidak bisa dipungkiri, revisi adalah bagian paling “menguras emosi” selama PKL. Desain yang sudah dikerjakan dengan penuh usaha bisa saja dikembalikan dengan banyak catatan. Kadang revisinya jelas, tapi sering juga terasa membingungkan.
Situasi ini tidak jarang membuat anak DKV mempertanyakan kemampuan mereka sendiri. Ada rasa ragu, apakah desain yang dibuat memang kurang bagus, atau hanya belum sesuai dengan keinginan klien. Di sinilah mental diuji. Anak DKV belajar bahwa revisi bukan berarti mereka tidak mampu, tetapi bagian dari proses untuk mencapai hasil terbaik.
Capek, Tapi Banyak Belajar
Tidak bisa dipungkiri, menjalani PKL sebagai anak DKV sering terasa melelahkan. Deadline, revisi, dan tekanan untuk terus menghasilkan ide membuat proses ini tidak selalu menyenangkan. Namun, di balik semua itu, ada banyak hal yang dipelajari.
PKL menjadi ruang untuk mengenal dunia kerja yang sebenarnya. Anak DKV belajar tentang tanggung jawab, kerja sama tim, dan bagaimana bertahan dalam situasi yang menantang. Pengalaman ini mungkin tidak selalu nyaman, tetapi justru itulah yang membuatnya berharga.
Nggak Sekadar Keren, Tapi Bermakna
“Desain Itu Nggak Cuma Keren” bukan sekadar kalimat, tetapi sebuah kesadaran yang muncul dari pengalaman nyata. Bagi anak DKV yang menjalani PKL, desain bukan lagi hanya tentang estetika, tetapi tentang proses, komunikasi, dan penyelesaian masalah.
Curhat, lelah, bahkan rasa ragu yang muncul selama PKL adalah bagian dari perjalanan. Dari situlah mereka tumbuh, bukan hanya sebagai desainer yang lebih baik, tetapi juga sebagai individu yang lebih siap menghadapi dunia kerja. Pada akhirnya, desain memang bisa terlihat keren, tetapi maknanya jauh lebih dalam dari sekadar tampilan.
