Konten dari Pengguna

Menjadi Editor? Antara Sikap dan Modal Kerja

Fadly Suhendra

Fadly Suhendra

Editor/Asesor LSP/Pranata Humas Muda BRIN

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fadly Suhendra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di penghujung tahun 2021, BRIN melakukan pemetaan (redistribusi) pegawai untuk kali kedua sebagai tindak lanjut dari pengintegrasian lembaga riset yang ada di Indonesia. Dalam situasi ini, tidak saja memungkinkan seseorang untuk pindah tempat kerja, namun juga untuk alih jabatan karena harus menyesuaikan dengan kebutuhan dari tugas dan fungsi unit kerja atau organisasi yang akan ditempati.

Sebagai salah satu bagian dari unit kerja di lingkungan BRIN, tidak sedikit yang menghubungi dan bertanya mengenai tugas dan fungsi (tusi) Direktorat Repositori, Multimedia, dan Penerbitan Ilmiah (RMPI) kepada saya. Pada prinsipnya, Direktorat RMPI merupakan unit organisasi di lingkungan BRIN yang memiliki tusi untuk menyimpan dan mengelola data, informasi, serta pengetahuan, mulai dari mendokumentasikan, mengonservasi, mengonversi/mengemas, dan menyebarluaskannya sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan bagi kepentingan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Logo RMPI-BRIN (Sumber: Dokumen Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Logo RMPI-BRIN (Sumber: Dokumen Pribadi)

Berbagai tugas tersebut utamanya dilakukan oleh para profesional informasi, seperti pustakawan, editor, desainer, dan profesi pendukung lainnya. Dalam melakukan tugas dan fungsinya tersebut para profesional informasi sejatinya bertujuan untuk melayani kebutuhan informasi masyarakat (pembaca, pemustaka, dan pemangku kepentingan lainnya).

Profesional informasi dalam bidang penerbitan merupakan mitra penulis, kreator, atau masyarakat pada umumnya untuk mengemas dan menyebarluaskan data, informasi, dan pengetahuan yang mereka miliki dalam bentuk buku, jurnal, dan produk audiovisual atau terbitan lainnya. Tidak saja itu, para profesional informasi juga harus dapat memastikan kebermanfaatan berbagai produk pengetahuan tersebut.

Seperti yang telah dijelaskan, salah satu tugas Direktorat RMPI adalah penerbitan ilmiah. Dalam hal ini, di lingkungan BRIN juga disebut sebagai Penerbit BRIN. Profesional informasi yang bertugas di Penerbit BRIN utamanya adalah editor dan desainer. Alhamdulillah, sejak akhir 2020, editor dan desainer di lingkungan BRIN telah memiliki jalur karier yang pasti setelah diresmikannya jabatan fungsional Penata Penerbitan Ilmiah.

Berkaitan dengan redistribusi pegawai, banyak juga yang bertanya dan berminat untuk alih jabatan ke fungsional Penata Penerbitan Ilmiah yang notabene sebagai editor. Ada yang awalnya peneliti, perekayasa, humas, pustakawan, dll.

Umumnya, saya menginformasikan bahwa untuk menjadi editor yang dibutuhkan pertama kali adalah daya tahan. Nah, pada kesempatan ini saya akan menguraikan beberapa hal yang berkaitan dengan tugas dan fungsi editor. Namun, apa yang akan saya uraikan ini pada dasarnya berlaku untuk editor di penerbit mana pun, khususnya dalam penerbitan media tulis.

Profesi Editor (Sumber: www.freepik.com)

Tips bagi Pemula: Antara Keterampilan dan Bakat

Secara umum untuk memasuki bidang pekerjaan di industri penerbitan dilakukan tanpa kualifikasi khusus atau nonspesialis, khususnya editor. Hal senada pernah diungkapkan dalam beberapa kesempatan oleh Ketua Ikapi DKI sekaligus pendiri dan pemilik perusahaan Kelompok Agromedia, Hikmat Kurnia yang menyebut editor di bidang penerbitan sebagai “profesi autodidak”. Sementara itu, Peter J. Olson (2020) dalam tulisannya yang berjudul Confessions of an Accidental Editor dan Smith (1993) yang menulis Mapping a professional path in publishing: the British approach memberikan tanggapan serupa bahwa profesi di bidang penerbitan sebagai "profesi yang tidak disengaja".

Sementara itu, pelatihan yang diselenggarakan sangat minim dan jalur pendidikan formal juga terbatas, membuat para editor pemula belajar kapan pun dan dari siapa pun yang mereka bisa. Dalam praktiknya, mereka (staf editor) harus mempelajari keterampilan bekerja 'di tempat kerja' bersama kolega yang lebih senior sampai batas waktu tertentu hingga dianggap layak dan tepat untuk dipromosikan. Itu juga yang saya alami sekira tahun 2003-2005.

Sikap dan Modal Kerja

Sehubungan dengan itu, Amy Einsohn (2011) dalam artikelnya yang berjudul 'Are Editors Born or Made?' mengatakan walaupun seorang editor pemula dapat mempelajari prosedur dan rutinitas editorial di ruang kerja atau belajar sambil bekerja, nyatanya pelajaran dalam metode dan standar kerja tidak dapat mengubah seseorang yang bersemangat menjadi editor kompeten.

Oleh karena itu, sebelum mulai menggunakan alat tulis atau keyboard untuk mengedit, sebaiknya beberapa sikap dan modal kerja berikut, perlu untuk dimiliki oleh calon editor. Sikap berkaitan dengan perbuatan dan tingkah laku yang berdasarkan pada pendirian dan keyakinan. Sementara modal kerja berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan sebagai dasar atau bekal untuk melakukan pekerjaan.

Beberapa editor ada yang ceria, juga ada yang pendiam, tetapi editor yang profesional cenderung memiliki ukuran dari ciri-ciri sikap berikut ini.

  1. Keinginan untuk kesempurnaan. Namun, editor harus memiliki pemahaman bahwa jadwal (deadline), anggaran, urgensi dan antrean pekerjaan lainnya merupakan penghalang kesempurnaan sehingga harus dapat menentukan skala prioritas.

  2. Kesediaan untuk berperan sebagai pemain di belakang layar. Dalam hal ini, editor harus menyadari seperti apa profesinya, seberat dan sebesar apa pun usaha yang dilakukannya untuk membuat sebuah naskah menjadi layak dan menarik untuk dibaca, editor tidak akan pernah (biasanya) dilihat keberadaanya atau perannya, bahkan oleh penulis sekalipun. Bahkan untuk kasus ini, seorang editor sekaligus penulis, Tasoro GK pernah mengatakan “Editor adalah orang pertama yang akan akan ditunjuk hidungnya jika ada kesalahan pada sebuah buku. Namun, editor juga orang pertama yang akan dilupakan ketika sebuah buku sukses.”

  3. Daya tahan atau stamina, mungkin terdengar aneh bagi non-editor atau mereka yang tidak berkecimpung dalam bidang penerbitan. Karena umumnya kegiatan penyuntingan dilihat sebagai pekerjaan yang tidak banyak bergerak. Akan tetapi, dalam praktiknya dibutuhkan konsentrasi dan usaha yang besar untuk mampu mengedit dengan baik dalam waktu yang lama, berjam-jam bahkan berhari-hari. Untuk itu, seorang editor perlu memiliki perhatian yang baik terhadap staminanya.

  4. Sedikit keberanian. Keberanian ini juga mungkin menjadi pertanyaan bagi non-editor. Namun, saya perlu sampaikan bahwa editor junior yang notabene unggul dalam latihan dan pandai berargumen, tetapi kebingungan ketika menangani naskah untuk pertama kali. Berdasarkan pengalaman, mereka belum memiliki kepercayaan diri untuk mengedit jika menemukan persoalan tanpa ada mentor yang membantu memecahkan dan menunjukkan kesalahan yang mereka lewatkan.

  5. Kesabaran dan keikhlasan yang kuat. Hal ini penekanan dari poin kedua dan sangat membantu ketika penulis, supervisor, atau klien lupa untuk menghargai, mengapresiasi, dan bersikap baik atas kinerja Anda.

  6. Berpikiran terbuka. Editor yang matang tidak mengabaikan kritik, tetapi justru berpikiran terbuka. Ketika terjadi perbedaan atau sanggahan dari penulis atau kolega sesama editor sebaiknya ucapkan "Bagaimana kita bisa melakukan ini dengan lebih baik?". Jangan bersikap defensif, seperti "Mengapa kita tidak melakukan sesuatu dengan cara saya? Cara saya yang terbaik.” Berdamailah.

Profesi Editor menyenangkan (Sumber: www.freepik.com)

Selanjutnya, terkait dengan pengetahuan dan keterampilan sebagai modal kerja yang diperlukan untuk memasuki bidang penerbitan, di antaranya:

  1. Penguasaan yang kuat tentang tata bahasa, baik Indonesia, Inggris, atau lainnya, mulai dari penggunaan diksi dan ejaan; perhatian pada register bahasa yang berbeda; dan minat pada bagaimana bahasa terus berubah dan berkembang.

  2. Mata yang tidak kenal lelah dan tajam, kemampuan membaca dengan kecepatan berbeda, dan memori visual/artistik yang baik.

  3. Pendengar dan pembelajar yang baik—Sekalipun Anda hanya mau bekerja pada tataran penyuntingan mekanis yang tidak menangani keseluruhan konten, organisasi, dan gaya naskah. Umumnya, “penyuntingan mekanis" hanya berfokus pada hal-hal seperti memeriksa semua teks agar jelas dan ringkas hingga tingkat yang sesuai untuk pembaca sasaran; Memastikan kosakata sesuai dan menyempurnakan pilihan kata; Mengidentifikasi inkonsistensi dalam gaya atau format penulisan; Mengoreksi ejaan, tata bahasa, penggunaan huruf kapital, dan tanda baca; Menerapkan gaya selingkung sesuai dengan panduan yang ditentukan penerbit.

  4. Kemampuan komunikasi yang baik untuk berinteraksi dengan orang-orang secara internal dan eksternal, terutama dengan penulis dan masyarakat, baik secara tertulis maupun lisan.

  5. Keterampilan berorganisasi, manajemen waktu, multitasking, dan bernegosiasi.

  6. Memiliki logika yang kuat. Hal ini mencakup kemampuan melihat apa yang hilang dari argumen atau serangkaian langkah prosedural pada alur sebuah naskah.

  7. Kewaskitaan editorial: kemampuan untuk memahami apa yang penulis coba katakan dan apa yang mungkin disimpulkan oleh pembaca.

Sementara itu, untuk yang berkaitan dengan beberapa pekerjaan ilmiah dan teknis, editor mungkin juga memerlukan pengetahuan dasar atau lanjutan tentang suatu bidang ilmu/subjek tertentu.

Lalu bagaimana dengan keterampilan komputer? Apakah itu penting? Tentu saja. Namun, urgensi keterampilan komputer tidak seperti daftar yang telah diuraikan, sebab keterampilan komputer umumnya dapat dikuasai dengan belajar dalam beberapa bulan saja.

Kemudian, apakah suka membaca diperhitungkan? Beberapa calon editor mungkin yakin bahwa kualifikasi terkuat mereka adalah karena suka membaca. Lalu mengapa dalam daftar saya tidak menyertakan "suka membaca". Persoalannya adalah kenikmatan membaca terjadi ketika tenggelam dalam suasana cerita sebuah buku. Hal ini merupakan godaan yang harus dihindari oleh editor karena kerjanya membaca. Editor tidak boleh tenggelam dengan bacaannya, tetapi editor naskah justru harus “menginterogasi” naskah: Apakah bagian tertentu terdapat kesalahpahaman? Apakah terlalu banyak atau terlalu sedikit kata yang membuatnya menjadi jelas atau tidak? Apakah tanda hubung pengubah majemuk sesuai dengan gaya selingkung? Dan sebagainya.

Selain itu, umumnya pembaca hanya menyukai jenis bacaan yang mereka sukai saja. Tentunya, seorang editor harus suka membaca dan harus memiliki kemampuan pemahaman bacaan di atas rata-rata. Akan tetapi, editor profesional cenderung memanjakan kecintaan mereka untuk membaca hanya pada saat akhir pekan dan liburan. Karena faktanya, sebagai editor, jarang sekali kita akan mendapatkan proyek atau naskah yang menyenangkan atau sesuai dengan yang kita inginkan. Kecintaan pada satu topik sastra misalnya, meskipun penting bagi mereka yang mengedit prosa sastra atau karya fiksi, dapat membuat frustrasi editor baru karena tidak dapat menemukan kesenangan atau estetika dari yang dibacanya.

Lalu bagaimana dengan menulis? Keterampilan menulis yang baik adalah keuntungan profesional bagi seorang editor, tetapi banyak editor melakukan sedikit atau tidak sama sekali menulis, dan editor pemula sering mendapat masalah ketika mereka menulis ulang manuskrip, daripada ketika mengedit. Walaupun dalam praktiknya hal ini tidak terhindarkan, namun menulis ulang manuskrip merupakan pekerjaan yang berat. Jika terpaksa melakukannya, Anda harus mendapat persetujuan penulis terlebih dahulu atau berkonsultasi dengan editor senior.

Dalam persoalan ini, Amy Einsohn (2011) menyarankan agar orang yang suka menulis, sebaiknya beralih pekerjaan sebagai penulis. Walaupun karier penyuntingan bisa sangat memuaskan bagi mereka yang suka menulis, menulis dengan baik, namun harus dapat memisahkan diri, mereka sebagai penulis dan mereka sebagai bagian dari proses editorial.

Kemudian, untuk menambah pengetahuan dan keterampilan editor pemula, saya mengusulkan agar meluangkan waktu untuk membaca buku panduan penulisan dan penerbitan, seperti Chicago Manual of Style, American Psychological Association (APA Style), Words into Type, The Copyeditor's Handbook, atau The Editor's Companion sebagai bekal pengetahuan dasar Anda. Intinya, jika membaca lima belas halaman yang berkaitan dengan tanda baca seperti koma tidak membuat Anda takut atau bosan, Anda adalah pemula yang bisa belajar.

Editor menyunting (Sumber: www.freepik.com)

Terakhir, kembali ke persoalan adanya kemungkinan alih jabatan, bagi ASN di lingkungan BRIN ke Fungsional Penata Penerbitan Ilmiah untuk menjadi editor. Saya ingin memberikan beberapa pandangan yang diadaptasi dari tulisan John R. Inglis (2019) yang berjudul Careers in Science Publishing, khususnya terkait dengan hal-hal yang jangan Anda lakukan dan kesempatan yang mungkin Anda dapatkan, yaitu

  1. Jangan masuk ke penerbitan jika Anda bertekad untuk tetap menjadi spesialis, seperti ketika Anda sebagai peneliti. Karena Anda akan menghadapi dan menangani naskah dengan beragam persoalannya, tidak saja subjek, namun juga tetek bengek lainnya dalam kegiatan penerbitan.

  2. Ingatlah bahwa penerbitan adalah bisnis, bahkan di dalam organisasi nirlaba. Jadi, perencanaan, target, realisasi, dan hasil atau capaian merupakan bagian yang melekat pada tusi editor, khususnya dalam manajemen editorial atau pernaskahan.

  3. Bersiap dan peka akan adanya tren, ancaman, dan peluang yang membuat kegiatan penerbit akan semakin sibuk.

  4. Jangan berpikir “Saya ingin masuk ke penerbitan karena saya ingin/harus keluar dari rutinitas.” Karena faktanya rutinitas yang akan Anda hadapi mungkin akan membosankan jika Anda tidak mempersiapkan diri untuk profesi ini.

  5. Jangan mengira Anda tahu tentang penerbitan ilmiah hanya karena Anda telah menulis beberapa makalah dan menerbitkannya.

  6. Jangan mengatakan "Saya selalu tertarik pada penerbitan ilmiah" kecuali Anda dapat mendukungnya dengan bukti curriculum vitae yang layak.

  7. Dapatkan pengalaman nyata dalam komunikasi dan penerbitan ilmiah, seperti menulis tentang penelitian di blog atau majalah; atau memposting komentar pada makalah penelitian di situs web yang sesuai.

  8. Jujurlah pada diri sendiri tentang seberapa nyaman Anda dalam interaksi sosial dan profesional dengan ilmuwan lain di luar bidang Anda.

  9. Ingatlah bahwa editor bekerja di sayap, bukan di tengah panggung. Editor melayani kepentingan penerbit, penulis, dan pembaca. Anda harus bersiap bermuka dua, dalam satu kesempatan Anda harus membela penulis di hadapan penerbit, di lain waktu sebaliknya. Namun, di hadapan pembaca Anda mewakili penerbit dan penulis. Sebaliknya, di hadapan penerbit dan penulis Anda merupakan representasi pembaca.

  10. Terakhir, jangan masuk ke penerbitan karena berpikir Anda akan lebih baik secara finansial dibandingkan fungsional peneliti atau lainnya. Dalam hal ini, sejak awal tahun 2000-an Bambang Trim seorang trainer penulisan dan penyuntingan terkemuka sudah mengatakan, bahwa pendapatan seorang editor di Indonesia hanya sebesar “Baskom”, yaitu bawah satu koma (baca: satu jutaan). Tampaknya hal ini belum banyak berubah. Demikian juga di instansi pemerintah, semua sudah ada standar penggajiannya sesuai dengan regulasi yang ada.

Fadly Suhendra Editor pada Penerbit BRIN