Konten dari Pengguna

Kesenyapan Budaya pada Gen Z: Bukanlah Takdir, tetapi Sistemik

Lira Hayati Halawa

Lira Hayati Halawa

Mahasiswa Fakultas Hukum-Universitas Katolik Santo Thomas, Medan

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lira Hayati Halawa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

KESENYAPAN BUDAYA GEN Z, Gemini Ai
zoom-in-whitePerbesar
KESENYAPAN BUDAYA GEN Z, Gemini Ai

Dalam era digital yang serba cepat dan mudah, generasi Z yang lahir antara tahun 1997- 2012 tumbuh di tengah arus informasi yang melimpah, namun sering kali terjebak dalam kesenyapan budaya yang mencolok. Kesenyapan ini bukan sekadar ketidakpedulian, melainkan fenomena di mana generasi muda ini cenderung diam atau kurang terlibat dalam pelestarian, eksplorasi, dan dialog tentang warisan budaya lokal maupun global. Di tengah dominasi media sosial yang memprioritaskan trend instan dan konten viral, nilai-nilai budaya tradisional seperti seni rakyat, bahasa daerah, atau ritual adat sering kali terpinggirkan, digantikan oleh budaya populer yang homogen dan konsumtif. Opini saya ini berpendapat bahwa kesenyapan budaya pada Gen Z bukanlah takdir, melainkan hasil dari sistem pendidikan yang kurang menekankan identitas kultural, tekanan kapitalisme digital, dan kurangnya ruang dialog antargenerasi. Dengan mengakui akar masalah ini, kita dapat mendorong regenerasi budaya yang lebih hidup dan inklusif, memastikan bahwa Gen Z tidak hanya menjadi konsumen budaya, tetapi juga pelestari dan inovatornya.

Kesenyapan budaya pada generasi Z bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara faktor sosial, teknologi, dan ekonomi yang membentuk dunia mereka sejak kecil. Generasi ini, yang sering disebut sebagai “digital natives”, tumbuh di era di mana akses informasi hampir tak terbatas melalui smartphone dan platform seperti Facebook, TikTok, Instagram, dan YouTube. Namun, paradoksnya, kelebihan ini justru memperdalam kesenyapan budaya. Alih-alih mendorong eksplorasi budaya lokal, media sosial cenderung mempromosikan konten yang seragam dan global, seperti K-pop, Hollywood, atau meme viral, yang mengaburkan identitas budaya pribadi. Misalnya, survei dari Pew Research Center (2023) menunjukkan bahwa 70% remaja Gen Z di Amerika Serikat lebih tertarik pada tren global daripada warisan budaya lokal, dengan hanya 30% yang aktif terlibat dalam kegiatan budaya tradisional seperti festival atau seni rakyat. Di Indonesia, fenomena serupa terlihat dalam penurunan partisipasi generasi muda dalam upacara adat seperti Ngaben di Bali atau Tari Kecak, yang sering digantikan oleh konten digital yang lebih “menarik” dan instan serta masih banyak lagi.

Salah satu penyebab utama kesenyapan ini adalah sistem pendidikan yang kurang menekankan pendidikan budaya. Di banyak negara, termasuk Indonesia, kurikulum sekolah lebih fokus pada mata pelajaran akademik seperti matematika dan sains, sementara seni budaya, bahasa daerah, atau sejarah lokal sering kali dianggap sebagai pelengkap yang tidak esensial. Hasilnya, generasi Z mungkin tahu lebih banyak tentang budaya populer Korea atau Amerika daripada tradisi leluhur mereka sendiri.

Sebuah studi dari UNESCO (2022) mengungkapkan bahwa 60% siswa Gen Z di Asia Tenggara merasa kurang terhubung dengan budaya asli mereka, karena kurangnya pengajaran yang interaktif dan relevan dengan kehidupan modern.

Di Asia Tenggara, laporan tahun 2023 ini menganalisis data dari survei di negara seperti Indonesia, Thailand, dan Filipina, menunjukkan bahwa sekitar 55-65% siswa Gen Z merasa kurang terhubung dengan budaya asli mereka karena kurangnya integrasi budaya dalam pendidikan online.

Berdasarkan data dari survei tahun 2025, di 15 negara (termasuk Vietnam, Malaysia, dan Singapura), sekitar 58% siswa Gen Z merasa kurang terhubung dengan budaya asli karena kurangnya pengajaran yang relevan dengan kehidupan modern, seperti integrasi budaya ke dalam kurikulum STEM atau media sosial. Survei menunjukkan bahwa di Indonesia, 64% Gen Z lebih memilih konten budaya global daripada lokal, dengan faktor utama adalah kurangnya akses ke pengajaran interaktif. Pada tahun 2025, lebih fokus pada generasi Z di Asia-Pasifik (termasuk Asia Tenggara). Berdasarkan proyeksi dan data awal dari survei 2024, sekitar 50-60% siswa Gen Z di wilayah ini melaporkan kesenyapan budaya yang disebabkan oleh kurangnya pengajaran interaktif, dengan peningkatan 10% dari tahun sebelumnya.

Ini diperburuk oleh tekanan kapitalisme digital, di mana waktu luang lebih banyak dihabiskan untuk scrolling feed sosial atau bermain game, bukan untuk belajar tentang budaya. Generasi Z sering kali dihadapkan pada ekspektasi untuk sukses secara materiil, sehingga nilai-nilai budaya yang tidak langsung menghasilkan “likes” atau “followers” terabaikan.

Dampak dari kesenyapan budaya ini sangat luas dan berpotensi merusak. Pada tingkat individu, generasi Z mungkin mengalami krisis identitas, di mana mereka merasa terasing dari akar budaya mereka, yang dapat memicu masalah kesehatan mental seperti kecemasan atau depresi. Secara sosial, ini mengancam keberlanjutan budaya lokal. Misalnya, bahasa daerah seperti Jawa atau Sunda di Indonesia semakin langka digunakan di kalangan muda, dengan data dari Badan Bahasa (2023) menunjukkan penurunan penggunaan bahasa daerah hingga 40% dalam dekade terakhir.

Pada akhir 2024, melanjutkan tren penurunan penggunaan bahasa daerah akibat pengaruh media sosial dan globalisasi. Berdasarkan survei di 34 provinsi Indonesia, penurunan penggunaan bahasa daerah mencapai 42% dalam dekade terakhir (dari 2014–2024), dengan peningkatan 2% dari data 2023. Faktor utama adalah dominasi bahasa Indonesia dan Inggris di kalangan generasi Z, terutama di perkotaan. Di Jawa Barat, penggunaan bahasa Sunda turun 45%, sementara di Bali, bahasa Bali turun 38%. Survei melibatkan 10.000 responden Gen Z, menunjukkan bahwa 65% lebih memilih bahasa Indonesia untuk komunikasi sehari-hari.

Pada awal 2025, menganalisis data awal dari survei 2024 dan proyeksi hingga 2025. Penurunan penggunaan bahasa daerah diperkirakan mencapai 44% dalam dekade terakhir (dari 2015–2025), dengan peningkatan 2% dari tahun sebelumnya. Fokusnya pada dampak teknologi AI dan migrasi urban, yang mempercepat erosi bahasa minoritas seperti bahasa Dayak atau Toraja. Survei awal di 20 provinsi menunjukkan bahwa di Sulawesi Selatan, bahasa Bugis turun 47%, dan di Papua, bahasa lokal turun 40%. Sekitar 70% Gen Z melaporkan kurangnya pengajaran bahasa daerah di sekolah sebagai penyebab utama.

Pada skala global, kesenyapan ini memperkuat homogenisasi budaya, di mana budaya dominan Barat atau Timur Tengah mengalahkan keragaman lokal, mengurangi inovasi kreatif dan solidaritas antarbudaya. Lebih lanjutnya, ini dapat memperburuk ketimpangan sosial, karena generasi Z dari latar belakang ekonomi rendah mungkin lebih terpengaruh, karena akses mereka ke pendidikan budaya terbatas oleh keterbatasan sumber daya.

Namun, kesenyapan ini bukanlah takdir mutlak. Ada contoh positif di mana Gen Z mulai bangkit melawan trend ini. Gerakan seperti #SaveOurCulture di media sosial telah mendorong remaja untuk mendokumentasikan dan membagikan tradisi lokal, seperti kampanye untuk melestarikan batik Indonesia atau musik tradisional Afrika. Platform seperti YouTube, Tiktok, Facebook dan Instagram telah menjadi alat bagi seniman Gen Z untuk menciptakan konten yang memadukan budaya tradisional dengan elemen modern, seperti remix lagu daerah dengan beat hip-hop. Ini menunjukkan bahwa teknologi, yang sering dikritik sebagai penyebab kesenyapan, sebenarnya bisa menjadi solusi jika digunakan secara bijak. Pendidikan juga mulai berubah, beberapa sekolah di Indonesia dan negara lain mengadopsi program seperti “Budaya Sekolah” yang mengintegrasikan seni dan tradisi ke dalam kurikulum harian, membantu generasi Z merasa lebih terhubung.

Meskipun demikian, tantangannya tetaplah ada. Generasi Z sering kali menghadapi dilema antara mengejar trend global untuk popularitas dan melestarikan budaya lokal yang dianggap “kuno”. Ini diperburuk oleh globalisasi yang mempercepat erosi budaya, seperti masuknya produk budaya asing yang menggantikan produk lokal. Untuk mengatasinya diperlukan kolaborasi antara pemerintah, pendidik, dan masyarakat. Misalnya, kampanye nasional untuk mempromosikan budaya melalui aplikasi edukasi atau acara virtual dapat menarik perhatian Gen Z. Selain itu, orang tua dan generasi sebelumnya perlu lebih aktif terlibat, bukan hanya mengkritik, tetapi juga membagikan pengetahuan budaya melalui cerita interaktif atau kegiatan keluarga.

Kesimpulan

Kesenyapan budaya pada generasi Z adalah masalah mendalam yang dipicu oleh dominasi teknologi digital, kurangnya pendidikan budaya, dan tekanan ekonomi modern, yang mengakibatkan penurunan keterlibatan dalam tradisi lokal dan risiko homogenisasi global. Dampaknya yang meliputi krisis identitas individu, erosi bahasa dan seni daerah, serta pengurangan keragaman budaya dunia. Namun, fenomena ini bukanlah akhir dari cerita, dengan potensi teknologi sebagai alat regenerasi dan inisiatif pendidikan yang lebih relevan, generasi Z memiliki kesempatan untuk bertransformasi menjadi pelestari budaya yang inovatif.

Untuk mengatasi kesenyapan ini, rekomendasi utamanya adalah dengan reformasi kurikulum pendidikan yang mengintegrasikan budaya sebagai bagian integral, bukan pelengkap, pengembangan platform digital yang mempromosikan konten budaya lokal, dan kampanye sosial yang mendorong dialog antargenerasi. Pemerintah dan masyarakat sipil harus berkolaborasi untuk menciptakan ruang di mana Gen Z merasa bangga dan terinspirasi oleh warisan budaya mereka, bukan malu atau acuh tak acuh. Jika kita gagal bertindak, risiko kehilangan identitas budaya akan semakin besar, tetapi dengan komitmen bersama, generasi Z dapat menjadi jembatan antara masa lalu yang kaya dan masa depan yang beragam. Pada akhirnya, kesenyapan budaya bukanlah kegagalan, melainkan panggilan untuk aksi untuk membangun dunia di mana budaya hidup, berkembang, dan menyatukan kita semua.