Konten dari Pengguna

Menemukan Tujuan Hidup Itu Proses, Bukan Perlombaan

Lisa Khoirunnisa

Lisa Khoirunnisa

Saya seorang mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, dalam menjalani peran sebagai mahasiswa, saya menjadikan Kumparan sebagai sarana literasi media dan ekspresi ilmiah.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lisa Khoirunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Generated by AI via DALL·E/OpenAIIlustrasi: Dibuat menggunakan AI MidjourneyIlustrasi: Canva AI Image Generator
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Generated by AI via DALL·E/OpenAIIlustrasi: Dibuat menggunakan AI MidjourneyIlustrasi: Canva AI Image Generator

“Hidup buikan soal secepat apa kita tiba, tapi sejujur apa kita berjalan.”

Perjalanan menemukan tujuan hidup sering kali tidak mudah. Saya pernah merasa kosong dan berjalan tanpa arah, bertanya-tanya: ‘Sebenarnya, aku ini mau ke mana?’”

Beberapa waktu lalu, saya pernah berada di titik yang cukup gelap. Kuliah sudah memasuki semester akhir, sementara teman-teman saya terlihat seperti sudah punya arah yang jelas ada yang melanjutkan studi ke luar negeri, ada yang magang di perusahaan besar, dan ada pula yang aktif membangun bisnis.

Saya? Masih sibuk bertanya pada diri sendiri: “Aku ini mau ke mana, sih?”

Hari-hari saya dipenuhi rasa bingung. Saya mengikuti organisasi, mengambil beberapa kegiatan kampus, bahkan sempat mencoba freelance di berbagai bidang. Tapi semuanya terasa… kosong. Seperti berjalan dalam kabut bergerak, tapi tanpa tahu tujuan.

Hari-hari saya dipenuhi rasa bingung. Saya mengikuti organisasi, mengambil beberapa kegiatan kampus, bahkan sempat mencoba freelance di berbagai bidang. Tapi semuanya terasa… kosong. Seperti berjalan dalam kabut bergerak, tapi tanpa tahu tujuan.

Saya Kira Semua Orang Sudah Punya Jawaban

Satu hal yang paling menyesakkan adalah ketika membandingkan diri. Rasanya saya tertinggal. Sering kali saya bertanya, “Kenapa aku belum menemukan apa yang benar-benar aku inginkan dan apa tujuan hidupku?”

Titik baliknya datang bukan dari jawaban besar, tapi dari momen sederhana: malam itu, saya pulang dari kampus dengan kepala penuh kecemasan. Di halte, saya melihat seorang bapak tukang parkir sedang membantu seorang ibu membawa belanjaan sambil tersenyum. Saya tidak tahu mengapa, tapi momen itu menampar saya pelan. Ternyata hidup tidak selalu tentang tujuan yang megah. Kadang maknanya tersembunyi dalam hal kecil yang kita lakukan dengan hati.

Menemukan Tujuan Tidak Datang Seketika

Sejak saat itu, saya mulai berdamai dengan proses. Saya sadar, tidak semua orang menemukan tujuan hidupnya di usia 20-an. Bahkan, banyak orang yang baru menemukannya setelah jatuh berkali-kali.

Saya mencoba memperhatikan apa yang membuat saya merasa hidup. Saya mulai menulis lagi, mengobrol dengan lebih dalam bersama teman, mendengarkan podcast reflektif, dan memberi ruang pada diri sendiri untuk diam. Bukan berarti saya langsung menemukan tujuan saya, tapi saya mulai mengenal diri sendiri lebih baik.

Dan itu ternyata penting karena tujuan hidup sering kali bukan ditemukan dari luar, tapi dari dalam.

Kita Tidak Harus Terburu-Buru

Kini saya percaya: menemukan tujuan hidup bukan soal cepat-cepatan, tapi soal keberanian untuk terus bergerak dan jujur pada diri sendiri. Tujuan hidup tidak selalu hadir dalam bentuk jabatan tinggi, angka gaji, atau gelar akademik. Terkadang, itu hadir dalam bentuk ketenangan batin, relasi yang tulus, atau pekerjaan kecil yang kita lakukan dengan sepenuh hati.

Jadi, untuk kamu yang merasa tersesat, tidak apa-apa. Kamu tidak sendiri. Wajar merasa bingung. Yang penting, tetap berjalan, tetap terbuka, dan beri ruang pada diri sendiri untuk tumbuh. Karena dalam proses itulah, pelan-pelan, tujuan hidup akan menemukanmu.