Jejak Panik di Kota Abadi
Tulisan dari Lisa Surya Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Semua drama ini dimulai dari selembar tiket dan kepanikan di pagi buta. Sebagai ASN yang menjabat Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan saya ditunjuk sebagai bagian dari Tim Kesenian dengan tugas membawa para penari dan fashion dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menjadi Duta Budaya Indonesia di Italia. Koper kami luar biasa banyak. Isinya penuh dengan kain wastra, pernak-pernik kostum, hingga perlengkapan panggung yang beratnya minta ampun.
"Pak Supir, cepat! Kita bisa telat!" seru saya, sambil mencocokkan jam di tangan.
Begitu mobil berhenti dan kami menurunkan gunungan barang bawaan dengan napas terengah-engah, jantung saya rasanya mau copot. Alih-alih melihat megahnya Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, pandangan kami justru tertumbuk pada fasad Bandara Halim Perdanakusuma.
Perasaan langsung campur aduk panik, kesal, dan cemas berputar menjadi satu. Untungnya, setelah drama kejar-kejaran dengan waktu dan logistik yang menguras emosi, kami entah bagaimana caranya tetap bisa terbang. Rasa tidak nyaman itu terus menggelayut, tapi begitu roda pesawat transit di Dhoha Qattar rasa tidak nyaman sedikit menghilang dan saat roda pesawat menyentuh aspal Roma, kecemasan itu langsung menguap, digantikan oleh takjub karena kami bisa menghirup udara di Benua Eropa.
Drama salah bandara di Jakarta ternyata hanyalah hidangan pembuka, karena begitu tiba di Bandara Fiumicino Roma, keapesan langsung menyambut kami di pintu kedatangan.
Setelah melewati proses imigrasi yang ketat dan mengangkut gunungan koper kostum yang beratnya minta ampun, kami sepakat untuk berkumpul di satu titik dekat area pengambilan bagasi. Saya sebagai Ketua Tim daerah mulai menghitung jumlah personel.
"Satu, dua, tiga... eh, tunggu. Kurang satu orang! Siapa yang belum ada?" teriak saya dengan mata membelalak panik.
Semua tim saling lirik. Detik berikutnya, semua kompak menepuk jidat. "Astaga, si Penyanyi! Penyanyi andalan kita mana?!"
Suasana langsung berubah tegang. Kehilangan anggota tim di bandara internasional sebesar Roma, di negara asing yang bahasanya tidak kami kuasai, adalah mimpi buruk bagi setiap duta budaya. Kepanikan massal pun pecah. Selama hampir 30 menit, kami terbagi menjadi beberapa tim kecil untuk memutari bandara. Pikiran kami sudah melantur kemana-mana. Apakah dia ditahan imigrasi? Apakah dia tersesat di terminal lain? Atau jangan-jangan dia diculik?
"Gimana ini, kalau dia hilang, siapa yang mau nyanyi lagu daerah nanti pas kita tampil?!" seru pemain keyboard mulai frustrasi.
Di tengah puncak kepanikan dan rencana untuk melapor ke petugas bandara, dari kejauhan terlihat sesosok siluet yang sangat kami kenal. Itu dia! Si Penyanyi lagu daerah yang sangat terkenal dan punya nama besar di Kota Palembang.
Namun, alih-alih berjalan dengan gaya diva yang anggun, dia muncul dengan langkah yang terseret-seret, napas terengah-engah, dan tangan yang erat memegangi perutnya. Wajahnya yang biasa ceria dan penuh energi kini berubah drastis: pucat pasi seperti kain kafan, bahkan bibirnya sedikit bergetar.
Kami langsung berlari mengerumuninya dengan rentetan pertanyaan yang tumpah ruah.
"Ya ampun! Dari mana aja kamu?! Kami hampir panggil polisi bandara!"
"Kamu gak apa-apa? Kok mukanya pucat banget begitu?!"
Si Penyanyi legendaris Palembang itu menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, lalu menjawab dengan suara lemas yang mendayu-dayu khas orang kesakitan.
"Aduh, maaf... maaf kelebihan waktu," rintihnya sambil bersandar di salah satu tumpukan koper kostum. "Aku terkurung di toilet dari tadi..."
"Loh, kenapa? Kamu pingsan di dalam?" tanya ketua tim panik.
Dia menggeleng lemas, "Bukan pingsan... tapi perutku melilit dahsyat. Gak kuat aku. Kayaknya efek kaget setelah penerbangan hampir 12 jam dari Jakarta. Di atas pesawat tadi sudah mulai kerasa, begitu mendarat langsung gak tahan lagi. Rasanya seluruh isi perutku mau keluar semua di toilet Roma ini," bisiknya dengan wajah yang masih menahan perih, membuat kami yang mendengarnya langsung antara kasihan tapi juga ingin tertawa.
Melihat sang diva Palembang yang biasanya garang di atas panggung kini tak berdaya hanya karena urusan perut pasca-penerbangan panjang, rasa tegang kami langsung mencair menjadi tawa canggung.
"Astaga... ya sudah, yang penting kamu ketemu dan nggak ilang di Roma! Untung cuma sakit perut, bukan hilang ingatan," seloroh pemain keyboard sambil menyodorkan minyak kayu putih andalan yang sengaja dibawa dari Indonesia.
Dengan wajah pucat pasinya, si Penyanyi membalurkan minyak itu ke perutnya sambil tersenyum kecut. Selamat datang di Roma! Kota penuh sejarah yang menyambut kami dengan drama salah bandara di tanah air, dan langsung dihadiahi drama toilet bandara begitu tiba. Benar-benar petualangan yang apes, tapi luar biasa seru sejak menit pertama!
Jika ada yang mengira menjadi duta budaya itu isinya hanya jalan-jalan dan tersenyum manis di depan kamera, mereka salah besar. Di balik kemegahan panggung hotel berbintang di Kota Roma yang membuat penonton terpukau, ada sebuah ruangan kecil di belakang panggung yang berubah menjadi zona perang setiap kali musik berganti.
Karena jumlah personil yang terbatas, kami harus merangkap dua tugas berat sekaligus: menjadi tim tari dan tim fashion show. Malam itu, kami harus berganti kostum sampai tiga kali dengan durasi waktu yang sangat tipis! Begitu juga dengan Tim Musik juga merangkap sebagai penyanyi lagu daerah.
Begitu musik tari selesai dan kami membungkuk memberi hormat dengan senyum paling anggun, kami langsung berbalik arah menuju belakang panggung. Dan begitu tirai pembatas tertutup... boooom! Keanggunan itu runtuh seketika, digantikan oleh kepanikan massal.
"Cepat, cepat, cepat! Waktu kita cuma tiga menit!" teriak saya panik memecah keheningan.
Suasana langsung acak-acakan. Kamar ganti dadakan itu penuh dengan aroma minyak kayu putih, parfum, dan keringat yang bercampur aduk. Baju-baju fashion yang tadinya sudah tersusun rapi berdasarkan urutan tampil, langsung berhamburan entah ke mana karena pergerakan kami yang super cepat.
Aksi lempar-lemparan baju pun tak terhindarkan.
"Eh, kain tenun warna merah punya gue mana?! Tadi ditaruh di sini!" "Ini, tangkap! Kebawa di tumpukan baju gue!" "Aduh, resletingnya macet! Tolong tarik, cepetan! Kulit gue jangan sampai kejepit!" "Mana aksesoris kepala gue? Jangan sampai hilang, itu pinjaman KBRI!"
Kata-kata panik terus meluncur tanpa henti dari mulut kami, bersahut-sahutan seperti irama musik techno bertempo cepat. Napas kami terengah-engah, tangan gemetar karena diburu waktu, dan rambut yang tadinya disanggul rapi untuk tarian tradisional harus segera diubah untuk gaya modern fashion.
"Satu menit lagi naik panggung!" teriak kru panggung dari luar.
Kepanikan mencapai puncaknya. Ada yang memakai sepatu sambil melompat-lompat dengan satu kaki, ada yang mengancingkan baju sambil berlari, dan ada yang buru-buru menyeka keringat di wajah dengan tisu seadanya agar riasan tidak luntur. Kami benar-benar terlihat seperti sekumpulan orang yang sedang digerebek, acak-acakan dan kehilangan arah.
Namun, di sinilah keajaiban mental seorang seniman teruji dan sebagai Aparatur Sipil Negara saya sangat memuji gerakan cepat mereka.
Tepat saat kru panggung memberikan aba-aba untuk masuk, tim fashion show langsung mengambil posisi berbaris. Begitu kaki melangkah melewati tirai dan sorot lampu panggung Roma menerpa wajah kami, semua kepanikan, teriakan, dan baju yang berantakan di belakang panggung seolah lenyap disapu angin.
Dada para tim langsung membusung tegap, dagu terangkat, dan senyuman paling memikat serta profesional langsung terukir di wajah kami masing-masing. Mereka berjalan di atas catwalk dengan langkah anggun dan penuh percaya diri, seolah-olah beberapa detik lalu kami tidak baru saja saling melempar baju di belakang panggung.
Penonton bertepuk tangan riuh, terpesona oleh keindahan fashion wastra Indonesia yang kami bawakan dengan begitu sempurna. Mereka tidak pernah tahu, bahwa di balik penampilan yang tanpa cela itu, ada perjuangan "apes" penuh keringat dan kepanikan luar biasa yang justru menjadi bumbu paling seru dalam sejarah panggung kami di Roma!
Setelah tugas formal selesai, saatnya kami menjelajah. Keindahan Roma itu magis, tapi juga penuh kejutan tak terduga. Di salah satu sudut kota, entah karena impulsif atau memang jiwa seni yang meronta-ronta, kami memutuskan untuk "ngamen" dadakan di jalanan.
Tanpa panggung megah, kami membawakan sedikit gerakan tari tradisional. Awalnya iseng, tapi siapa sangka penonton lokal Italia justru berkumpul! Mereka bertepuk tangan heboh, terpesona dengan kelincahan gerak kami, dan detik berikutnya... klinting! Uang koin Euro berjatuhan ke tempat yang kami sediakan. Disawer orang Italia di tanah Eropa dengan status "duta budaya" adalah salah satu komedi terbaik dalam hidup kami.
Puas mengantongi koin saweran, petualangan berlanjut.
Petualangan jalanan kami mencapai puncaknya saat kami berpapasan dengan seorang pemusik jalanan Roma yang sedang bersiap di sudut trotoar luas. Di dekatnya, sebuah keyboard portabel sudah terpasang. Melihat kedatangan kami yang nyentrik dan penuh energi, seniman lokal berambut gondrong itu tersenyum ramah.
Entah bagaimana awalnya, komunikasi lewat bahasa isyarat dan senyuman berujung pada sebuah ide gila. Pemusik jalanan itu dengan murah hati mempersilakan tim musik kami untuk mengambil alih keyboard-nya.
Begitu jemari pemain keyboard kami mulai menari di atas tuts dan penyanyi tim kami mengambil mikrofon, suasana jalanan Roma langsung berubah total. Kami memilih membawakan lagu daerah Palembang yang bertempo cepat, ceria, dan penuh energi gembira. Kami yang berpakaian ala seniman langsung mengambil posisi, menari dengan lepas mengikuti ketukan lagu.
Efeknya instan! Musik itu universal. Warga lokal Roma dan turis yang sedang melintas langsung menghentikan langkah. Ritme lagu daerah kita yang dinamis membuat tubuh mereka mulai bergoyang. Dalam hitungan menit, trotoar itu berubah menjadi lantai dansa terbuka. Orang-orang Italia yang terkenal ekspresif ikut berjoged bersama kami dengan tawa lepas.
Klinting! Klinting! Kotak alat musik si seniman Roma langsung dibanjiri uang koin Euro dari penonton yang puas.
Di tengah kehebohan itu, beberapa penonton yang ikut berjoged mendekat ke arah kami saat lagu selesai. Seorang pria paruh baya dengan gaya modis berseru sambil bertepuk tangan heboh.
"Mamma mia! That was spectacular!" puji pria itu dengan mata berbinar. "Are you all from the same group? You can play the music, you sing beautifully, and you dance with such energy! You guys can do everything!" (Astaga! Itu tadi spektakuler! Apakah kalian semua dari kelompok yang sama? Kalian bisa main musik, menyanyi dengan indah, dan menari dengan penuh energi! Kalian bisa melakukan semuanya!)
Penyanyi kami tersenyum ramah, "Grazie! Yes, we are a cultural team from Indonesia."
Pujian tidak berhenti di situ. Seniman Roma pemilik keyboard yang sedari tadi menonton dari pinggir jalan menghampiri kami dengan wajah takjub sekaligus haru.
"I’ve seen many street performers, but you guys... you are multi-talented! You brought so much joy to my spot," katanya sambil menunjuk kotak musiknya yang kini penuh koin. "Here, this is your share. You earned this!" (Saya sudah sering lihat penampil jalanan, tapi kalian... kalian sangat multitalenta! Kalian membawa banyak kegembiraan di tempat saya. Ini, ini bagian kalian. Kalian layak mendapatkannya!) Dia menyodorkan segenggam koin Euro hasil saweran tadi.
Namun, kami kompak menggelengkan kepala sambil tersenyum tulus.
"No, please keep it all," kata pemain keyboard kami sambil menepuk pundaknya ramah. "We did this just for fun and for the love of music. Plus, we used your instrument. That money belongs to you." (Tidak, tolong simpan semuanya. Kami melakukan ini hanya untuk bersenang-senang dan karena cinta pada musik. Lagipula, kami memakai alat musikmu. Uang itu milikmu.)
Mendengar itu, seniman Roma tersebut tampak tertegun. Matanya berkaca-kaca karena tidak menyangka mendapat perlakuan sehormat itu dari sekelompok anak muda asing. Dia meletakkan tangannya di dada, lalu membungkuk hormat.
"Che bello... thank you, Indonesia. You are not just amazing artists, you have beautiful hearts," ucapnya lirih dengan nada penuh respek. (Indah sekali... terima kasih, Indonesia. Kalian bukan cuma seniman yang luar biasa, kalian punya hati yang indah.)
Sore itu, di bawah langit Roma yang perlahan menjingga, kami berjalan menjauh tanpa membawa sekeping koin pun di kantong. Namun, dada kami penuh sesak oleh rasa bangga yang luar biasa. Apes karena salah jadwal dan salah bandara di awal cerita, kini terbayar lunas dengan rasa hormat tertinggi yang kami dapatkan di jalanan Eropa berkat bakat dan ketulusan sebagai duta budaya Indonesia.
Kami mengunjungi Ikon nya Kota Roma ‘’Colloseum’’ (Colosseo) yang pada zaman Kekaisaran Romawi Kuno difungsikan sebagai amfiteater besar sebuah arena pertunjukan publik raksasa berbentuk elips. Pada masa lalu, Colosseum digunakan sebagai tempat penyelenggaraan berbagai pertunjukan dan hiburan rakyat. Sebagai seniman yang akrab dengan dunia panggung kami sangat bersyukur bisa mengunjugi bangunan berbentuk ellips ini.
Kami juga mengunjugi Galleria Borghese museum lukisan yang penuh mahakarya kuno walau hanya bisa berfoto diluar museum karena kami tidak punya tiket masuk. Kami juga keliling hanya untuk berfoto di berbagai monumen ikonik Italia yang berdiri megah. Meski hanya bisa mengagumi arsitekturnya yang luar biasa dari luar pagar, auranya tetap berhasil membuat kami merinding takjub.
Dan akhirnya kami tiba juga di negara terkecil di dunia yaitu ‘’Vatikan’’. Setelah puas berfoto di luar pagar Vatikan, pandangan kami terbentur pada sebuah antrean yang mengular panjang sekali. Orang-orang berdiri rapi, bergerak perlahan, dan terlihat sangat antusias.
Sebagai orang Indonesia yang punya insting tajam terhadap keramaian, kami langsung saling berbisik.
"Eh, lihat deh. Itu antrean apa panjang banget?" tanya teman saya sambil menunjuk kerumunan.
"Wah, jangan-jangan ada pembagian souvenir gratis atau goodie bag khas Vatikan! Kan lumayan buat oleh-oleh," sahut yang lain dengan mata berbinar.
Tanpa babibu, dengan jiwa pemburu gratisan yang membara, kami langsung mengambil posisi di paling belakang. Sambil ikut mengantre di bawah terik matahari tapi tidak menyengat, kami sudah membayangkan benda apa yang akan didapatkan nanti. Gantungan kunci? Pembatas buku? Atau magnet kulkas berlogo Vatikan?
Setelah sekitar lima belas menit berdiri dengan sabar, seorang turis asing di depan kami—pria paruh baya berwajah ramah dengan kamera tergantung di lehernya—menoleh ke belakang. Dia memperhatikan kostum tim tari kami yang sedikit mencolok, lalu tersenyum.
"Excuse me," sapa pria itu ramah. "Are you guys here for the Sunday Mass or just structural sightseeing inside the Basilica?" (Permisi, kalian ke sini untuk Misa Hari Minggu atau cuma mau lihat-lihat arsitektur di dalam Basilika?)
Kami semua saling berpandangan, agak bingung. Saya memberanikan diri menjawab dengan bahasa Inggris seadanya.
"Oh, no... we are just waiting for the free souvenirs," jawab saya polos sambil tersenyum lebar. (Oh, tidak... kami cuma nunggu souvenir gratis).
Pria itu mengerutkan kening, lalu sedetik kemudian tawanya pecah. "Free souvenirs? Oh, dear! This is the security line to enter St. Peter's Basilica for prayer and tour. There are no free souvenirs here, only blessings!" (Souvenir gratis? Astaga! Ini antrean pengamanan untuk masuk ke Basilika Santo Petrus untuk berdoa dan tur. Enggak ada souvenir gratis di sini, yang ada cuma berkat!)
Mendengar itu, wajah kami langsung terasa panas. Malunya sampai ke ubun-ubun! Kami tertawa canggung, buru-buru mengucapkan terima kasih kepada turis tersebut, dan langsung memisahkan diri dari barisan sambil menahan tawa yang meledak.
Niat hati ingin pulang membawa buah tangan gratisan dari negara terkecil di dunia, apa daya kami malah hampir ikut misa massal karena salah antrean. Memang, apes tapi seru adalah tema mutlak perjalanan kami kali ini!
Setelah lelah tertawa karena drama salah antre di Vatikan, kami memutuskan untuk memanfaatkan fasilitas gratisan yang sesungguhnya: bus kota Roma. Begitu bus datang, harapan untuk bisa duduk santai keliling kota langsung sirna. Bus itu penuh sesak!
Kami terpaksa masuk, berhimpitan, dan berpegangan erat pada handgrip bus yang bergoyang-goyang. Sensasinya luar biasa familier. Saya berbisik ke teman di sebelah, "Eh, ini kita lagi di Roma apa lagi naik Trans Jakarta koridor Harmoni pas jam pulang kerja, sih? Sama persis berdirinya!"
Di balik rasa lelah dan kaki yang mulai pegal, ada rasa takjub yang menyelip. Di kota se-modern dan se-indah Roma, angkutan umum tetap menjadi primadona. Kami baru tahu dari obrolan ringan kalau pajak mobil pribadi di sini mahal sekali, membuat warga lokal—dari yang beransel santai sampai yang berpakaian necis kantoran—lebih memilih berdesakan di dalam bus bersama kami.
Namun, ada satu hal yang membuat kami menjadi pusat perhatian di dalam bus itu: gaya berpakaian kami. Karena ini adalah acara bebas setelah tampil, kami memakai baju yang bisa dibilang "asal-asalan" tapi nyentrik ala seniman panggung. Ada yang masih memakai sisa riasan tipis, kain tenun yang dililit asal sebagai syal, jaket kebesaran, hingga celana longgar yang super nyaman untuk jalan kaki. Kontras sekali dengan gaya warga Roma yang terkenal fashionable dan rapi dengan potongan baju yang pas di badan (tailored).
Seorang ibu-ibu paruh baya berwajah khas Italia yang berdiri di dekat kami terus memperhatikan kami dari atas sampai bawah dengan alis berkerut. Alih-alih sinis, tatapannya penuh rasa penasaran yang amat sangat.
Akhirnya, dia tidak tahan untuk bertanya. Dengan bahasa Inggris beraksen Italia yang kental, dia menyapa, "Scusa... are you artists? From a theater group?" (Permisi... apakah kalian seniman? Dari kelompok teater?)
Saya tersenyum lebar dan menjawab, "Yes, we are a cultural dance and fashion team from Indonesia!" (Ya, kami tim tari budaya dan fashion dari Indonesia!)
Mendengar kata "fashion" dan "Indonesia", mata ibu itu langsung berbinar. Wajah herannya berubah menjadi senyuman hangat. "Ah, Indonesia! No wonder, your style is very... expressive and colorful! Perfect for Roma!" (Ah, Indonesia! Pantas saja, gaya kalian sangat... ekspresif dan penuh warna! Cocok untuk Roma!)
Rasa canggung karena dipandangi orang satu bus langsung berubah menjadi rasa bangga. Berdiri berdesakan di bus Roma dengan pakaian seadanya justru membuat kami merasakan kedekatan yang nyata dengan denyut nadi kota ini. Kami bukan lagi sekadar turis yang menonton dari balik kaca mobil mewah, melainkan bagian dari keramaian Roma itu sendiri. Apes karena harus berdiri sepanjang jalan? Jelas tidak, ini seru sekali!
Keseruan itu mencapai puncaknya saat kami berjalan-jalan di seputaran area Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Roma. Keasyikan berfoto dan menikmati suasana kota membuat kami abai pada navigasi. Saat sadar lingkungan sekitar mulai terasa asing, kami resmi tersasar.
Petaka berikutnya datang: layar ponsel saya berkedip merah lalu mati total. Habis baterai. Di tengah kota asing tanpa peta digital dan membawa nama bangsa, kami sempat tegang. Pilihan logis saat itu adalah mencari kantor polisi terdekat. Sambil berjalan mencari bantuan, memori saya berputar keras mencoba mengingat patokan alamat atau detail tempat keberadaan Duta Besar RI di Roma yang sempat diinfokan sebelumnya.
Namun, di balik kepanikan tersasar itu, takdir justru membawa kami ke sebuah tempat yang sangat membekas di hati. Kami terdampar di Piazza Navona, sebuah lapangan luas legendaris yang riuh oleh denyut kehidupan. Di sana, mata saya dimanjakan oleh pemandangan luar biasa: puluhan seniman jalanan, pelukis, dan pemusik berkumpul memamerkan karya mereka di sekitar air mancur yang indah.
Rasa takut karena tersasar langsung luntur, digantikan oleh rasa kagum yang mendalam. Tempat itu begitu hidup, begitu artistik, dan membuat saya tersadar: kalau saja kami tidak salah jalan dan ponsel saya tidak mati, kami mungkin tidak akan pernah menikmati keindahan magis lapangan para seniman ini dengan mata kepala sendiri tanpa distraksi.
Pada akhirnya, perjalanan ke Roma ini memang dibuka dengan keapesan yang menguras energi. Namun, justru dari rentetan salah jadwal, salah bandara, hingga tersasar itulah lahir cerita-cerita seru yang tidak akan bisa dibeli dengan uang.
Setelah semua drama panggung, tersasar, hingga ngamen jalanan selesai, kami akhirnya bisa bernapas agak lega. Kami duduk manis di dalam gerbong kereta api menuju Bandara Fiumicino Roma. Keretanya sangat nyaman, bersih, dan kontras sekali dengan bus kota yang sebelumnya membuat kami berdesakan ala Trans Jakarta. Suasana tenang, hanya ada deru halus kereta yang melaju.
Saya menyandarkan kepala di kaca jendela, menatap pemandangan kota Roma yang perlahan menjauh dengan perasaan puas. Saya melirik tas-tas bawaan di bawah.
Satu, dua, tiga...
Jantung saya tiba-tiba berhenti berdetak. Saya menegakkan posisi duduk, mata saya membelalak. Saya hitung ulang. Tetap kurang satu.
"Eh... tas kain yang warna hitam isi oleh-oleh tadi di mana ya?" tanya saya dengan suara gemetar, mulai memeriksa kolong kursi.
Teman di sebelah saya menoleh bingung. "Loh, bukannya tadi kamu yang tenteng pas kita pamitan di Kedutaan Besar?"
Seketika itu juga, memori saya berputar. Bayangan tas kain berisi penuh magnet kulkas, cokelat, pajangan ikonik Roma, dan suvenir yang dibeli dengan peluh keringat... tergeletak manis di salah satu sudut ruangan KBRI Roma. Tertinggal.
"Ketua! Tas oleh-olehku ketinggalan di kedutaan!" seru saya panik, bersiap berdiri seolah-olah bisa melompat dari kereta yang sedang melaju.
Ketua tim langsung memeriksa jam tangannya, lalu menatap saya dengan pandangan penuh simpati tapi tegas. "Aduh... jadwal boarding kita sebentar lagi. Kalau kita balik lagi ke kedutaan, taruhannya satu tim bisa hangus tiket pesawatnya. Apa boleh buat, ikhlaskan saja, tidak usah diambil. Yang penting paspor dan kostum aman."
Jderr! Keputusan itu rasanya seperti petir di siang bolong. Alhasil, saya harus pulang ke Indonesia dengan tangan kosong tanpa membawa satu pun oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Perasaan saya saat itu? Campur aduk antara ingin menangis karena meratapi dompet yang terkuras demi barang yang ditinggal, tapi juga ingin tertawa karena menyadari keapesan ini benar-benar konsisten dari awal sampai akhir perjalanan.
Melihat wajah saya yang langsung lecek dan lesu, teman-teman tim termasuk si Penyanyi Palembang yang wajahnya sudah kembali segar langsung merapat untuk menghibur dengan gaya khas mereka yang bukannya bikin sedih, malah bikin geli.
"Sudahlah, jangan sedih. Anggap saja itu takdir. Lagipula, itu kan kode dari alam biar kamu nanti balik lagi ke Roma buat jemput tas itu!" celetuk pemain keyboard sambil terkekeh.
"Iya, betul! Lagian oleh-oleh terbaik itu kan cerita. Nanti sampai Palembang atau Jakarta, kamu ceritain aja kisah kita disawer orang Italia sama salah antrean Vatikan. Itu lebih mahal dari sekadar pajangan magnet kulkas!" sahut teman yang lain sambil menepuk pundak saya mantap.
Si Penyanyi ikut menimpali, "Lagian aman itu barangmu di Kedutaan. Mana tahu nanti malah disimpan sama Pak Duta Besar, dipajang di sana. Anggap saja kamu meninggalkan jejak sejarah di Roma!"
Mendengar hiburan dan candaan mereka, rasa sesak di dada saya langsung mencair. Benar juga kata mereka. Barang bisa dibeli lagi, tapi pengalaman berharga merangkap jadi duta budaya, menari, fashion show, dikejar waktu di belakang panggung, hingga tersasar bersama tim yang luar biasa ini tidak akan ada duanya.
Kereta terus melaju membawa kami pulang ke tanah air. Saya pulang tanpa oleh-oleh fisik, tapi kepala dan hati saya pulang dengan membawa bagasi penuh cerita, cerita tentang sebuah perjalanan yang super apes, tapi luar biasa seru dan tak terlupakan seumur hidup! Roma yang disebut Kota Abadi (Roma Aeterna) tidak hanya memberi kami panggung budaya, tapi juga petualangan yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup.
Palembang, 26 Juli 201

