Kartini Dulu dan Kartini Reborn
Tulisan dari Lisa Surya Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak kelas empat Sekolah Dasar, tempat favoritku bukan kantin atau lapangan. Tapi perpustakaan sekolah. Di sana dingin karena ber-AC, tapi hatiku hangat setiap kali buka buku. Di rak paling pojok ada buku tua bersampul cokelat ‘’Surat-Surat Kartini’’. Akhirnya buku ini kupinjam dari perpustakaan sekolah.
Di rumah tepatnya di sudut kamar masa kecilku, ada sebuah sudut favorit dekat jendela tempat matahari sore biasa masuk. Di sanalah aku sering menghabiskan waktu, tenggelam dalam sebuah buku bersampul tebal yang kupinjam dari perpustakaan sekolah. Buku itu berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang, kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini.
Sejak pertama kali membaca baris-baris kalimat yang ditulisnya, aku langsung jatuh hati. Aku bukan sekadar kagum pada sosoknya yang anggun berbayang kebaya, melainkan pada isi kepalanya. Bagi anak sekecil aku saat itu, surat-surat Kartini terasa seperti mesin waktu yang ajaib. Melalui untaian kata yang dikirimkannya kepada Stella Zeehandelaar di Belanda, Kartini seolah sedang mendobrak dinding kamarnya yang sempit dan terbang melintasi samudra.
Aku tanya Bu Guru, “Kartini itu siapa, Bu?”
Beliau jawab, “Kartini itu perempuan hebat. Zaman dulu perempuan nggak boleh sekolah tinggi. Tapi Kartini berani belajar dan menulis surat ke teman-temannya di luar negeri.”
Pada ibu ku aku juga bertanya pada suatu sore saat Ibu sedang menjahit, "Ibu Kartini kok bisa punya teman di Belanda? Padahal zaman dulu kan tidak ada internet atau ponsel?"
Ibu menghentikan injakan kaki pada mesin jahitnya, lalu tersenyum. "Mereka berkorespondensi, nak. Lewat surat yang dikirim naik kapal laut. Berbulan-bulan baru sampai. Tapi lewat surat itulah mereka saling bertukar pikiran dan berbagi cerita tentang dunia."
Itu yang bikin aku kagum. Ternyata perempuan bisa korespondensi dengan orang luar negeri. Bisa punya suara, bisa punya pendapat. Karena terang itu dimulai dari satu lilin yang berani menyala. Mata kecilku langsung berbinar. Ide itu rasanya begitu romantis sekaligus keren. Kartini bisa memperjuangkan nasib perempuan di tanah Jawa justru karena pikirannya terbuka setelah membaca dan bertukar ide dengan orang-orang di luar sana.
Seketika itu juga, sebuah cita-cita besar lahir di kepala kekanak-kanakanku: Aku ingin menjadi seperti Ibu Kartini. Aku ingin punya sahabat pena dari luar negeri. Aku ingin menulis surat, menempelkan perangko berwarna-warni, dan menceritakan tentang indahnya Indonesia kepada dunia, sekaligus mengintip bagaimana kehidupan di belahan bumi yang lain melalui balasan mereka.
Sejak hari itu, petualanganku dimulai. Aku mulai belajar bahasa Inggris dengan lebih giat. Kamus saku bergambar menjadi senjataku sehari-hari. Setiap kali menemukan kosakata baru, aku membayangkan sedang menuliskannya di atas kertas surat beraroma wangi. Aku juga mulai mencari tahu bagaimana cara mendapatkan alamat orang luar negeri. Di era itu, aku rajin membolak-balik majalah anak-anak, mencari kolom Pen Pal atau Sahabat Pena Internasional. Dengan jemari yang agak gemetar karena gugup sekaligus bersemangat, aku menulis surat pertamaku untuk seorang anak perempuan di Belanda yang alamatnya kutemukan di majalah.
“Dear Friend, my name is Lisa.. I live in Indonesia. I love reading, just like Ibu Kartini, my hero my inspiration...” tulisku dengan bahasa Inggris yang masih terbata-bata dan penuh coretan tipis.
Saat meminta ayahku mengirim kan surat itu ke kantor pos, jantungku berdegup kencang. Ada rasa bangga yang membuncah di dadaku. Aku merasa, dalam skala yang jauh lebih kecil, aku sedang menghidupkan kembali semangat Kartini dari dalam kamarku. Aku sedang menjembatani duniaku dengan dunia luar lewat selembar kertas.
Menunggu surat balasan memang melatih kesabaran, persis seperti Kartini yang menunggu berminggu-minggu di masa pingitannya. Namun, setiap kali Pak Pos datang membawa amplop berstempel luar negeri, rasanya seperti memenangkan hadiah utama. Lewat hobi korespondensi yang terinspirasi dari Ibu Kartini itu, masa kecilku tidak lagi terasa sempit. Pikiranku melompat jauh melintasi batas negara. Aku belajar menghargai perbedaan, memahami dunia yang luas, dan yang terpenting aku belajar bahwa pena dan kertas memiliki kekuatan magis untuk menyatukan dua jiwa yang terpisah jarak, persis seperti yang dilakukan Kartini berabad-abad lalu. Sejak hari itu aku punya cita-cita ‘’Aku ingin seperti Ibu Kartini’’.
Aku mulai dari hal kecil. Aku mulai menulis di majalah dinding sekolah, mulai menulis cerita pendek dan dikirim ke koran lokal yang ada di pojok setiap hari minggu. Di perpustakaan sekolah, aku sering ajarin adik-adik kelas yang belum lancar baca. Duduk di meja kayu, buka buku cerita, eja bareng-bareng. Kadang mereka malu. Tapi aku bilang, “Nggak apa-apa. Kartini juga dulu diketawain, tapi dia nggak berhenti.” Pelan-pelan, adik kelas ku jadi berani baca di depan kelas. Rasanya senang banget. Seperti aku baru saja menyalakan lilin kecil.
Dulu aku mikir, “Ah, cita-cita jadi seperti Kartini itu mustahil.” Tapi sekarang aku ngerti. “Habis gelap terbitlah terang” artinya cita-citaku bisa tercapai, walau dulu rasanya tak mungkin. Sekarang aku jadi guru. Setiap hari aku mengajar, membantu anak-anak supaya berani belajar, berani bertanya, berani bermimpi. Mungkin aku nggak menulis surat ke luar negeri lagi. Tapi setiap kali aku mengajari satu orang untuk membaca satu kata, aku merasa terang itu menyala lagi. Kalau ada yang tanya, “Bu, cita-cita Ibu apa?” Aku jawab: “Dulu aku ingin seperti Ibu Kartini. Dan sampai sekarang, aku masih berusaha menjadi seperti itu.” Jadi jangan takut bermimpi besar. Mulailah dari hal kecil di tempatmu sekarang.
Hari ini saat pertama kali aku mengajar di sekolah di sekolah lanjutan pertama, aku berkata ‘’Anak-anak, pagi ini Ibu mau cerita tentang seorang perempuan hebat bernama Kartini. Ratusan tahun yang lalu, banyak anak perempuan nggak boleh sekolah tinggi. Mereka disuruh diam di rumah. Tapi Kartini nggak mau. Dia sembunyi-sembunyi baca buku, belajar nulis, dan kirim surat ke teman-temannya yang jauh di luar negeri. Tau nggak apa yang dia tulis? Dia tulis tentang mimpinya. Dia tulis: “Aku ingin perempuan Indonesia juga bisa terang, bisa sekolah, bisa punya suara.” Kartini nggak punya kuasa besar. Dia nggak jadi menteri. Tapi dia punya satu hal yang kuat: keberanian untuk mulai dari hal kecil. Nah, hari ini Ibu mau ajak kalian jadi “Kartini” dan “Kartono” versi kalian sendiri. Menjadi terang itu nggak harus menunggu besar dulu. Kamu bisa mulai sekarang. Kalau kamu belum lancar baca, baca satu paragraf hari ini. Itu terang. Kalau kamu malu bertanya, coba angkat tangan satu kali hari ini. Itu terang. Kalau temanmu sedih, ajak dia ngobrol. Itu juga terang. Ibu percaya, setiap dari kalian punya lilin kecil di dalam hati. Tugas kita di kelas ini adalah saling menyalakan. Nggak apa-apa kalau jatuh, nggak apa-apa kalau salah. Yang penting jangan berhenti mencoba. Jadi, sebelum kita mulai pelajaran hari ini, Ibu mau tanya: “Satu hal kecil apa yang akan kamu lakukan hari ini untuk jadi lebih terang?” Pikirkan sepuluh detik. Nanti yang mau jawab, Ibu dengarkan. Ayo, kita mulai hari ini dengan semangat Kartini. Habis gelap, terbitlah terang. Dan terang itu dimulai dari kita’’.
Beberapa anak yang bereaksi keras dan berkata “Ngapain baca buku bu, kan bisa tanya AI saja Bu? Baca buku itu buang waktu’’, “Bacanya kepanjangan Bu, males” “Google lebih pinter Bu, jawabannya lengkap”
Tentu saja menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sebagai guru aku harus sabar dan pakai logika mereka. Jangan lawan teknologi nya tetapi gimana cara ngakalin biar mereka tetap mau baca.
Dengan sabar aku berkata “AI bisa kasih jawaban, tapi nggak bisa ngerasain perasaan kamu. AI nggak bisa angkat tangan gantiin kamu. AI buat cari info, tapi aksi kecil itu tugas manusia’’.
Sekarang saat mengajar sering kuajak anak-anak interaktif daripada suruh baca semua. Anak ‘’zaman now’’ mau kalau ada aksi langsung, bukan ceramah.
Anak sekarang nggak males baca. Mereka males kalau nggak ngerti “buat apa gue baca ini?” Kuncinya tunjukin kalau buku itu bukan gantiin AI, tapi pelengkap. AI kasih info, buku dan aksi kecil bikin mereka jadi orangnya.
Dengan sabar aku berkata ‘’Di zaman internet ini ada tiga hal yang makin relevan, tapi tantangannya beda, Pertama Akses ilmu udah gampang banget. Dulu Kartini cuma bisa baca buku sembunyi-sembunyi karena dilarang. Sekarang? Tinggal buka HP, semua ilmu ada. Google, YouTube, Meta AI, Coursera gratisan. Relevansinya Pertanyaannya berubah dari “gimana caranya dapet ilmu?” jadi “gimana caranya milih ilmu yang bener dan nggak males baca?”. Itu tugas baru yang Kartini juga bakal hadapi kalau hidup sekarang. Kedua Kebebasan berpikir diuji di media social. Dulu Kartini dilawan adat yang bikin perempuan nggak boleh bersuara. Sekarang lawanannya algoritma, FOMO, tekanan “viral”, hoaks, bullying online. Relevansinya Cita-cita Kartini sekarang artinya berani punya pendapat sendiri, nggak ikut-ikutan tren bodoh cuma biar disukai. Itu lebih susah loh daripada zaman dulu. Ketiga Hak menentukan hidup sendiri makin luas tapi makin bingung. Dulu pilihan perempuan terbatas nikah muda atau nggak. Sekarang pilihan terbuka lebar mau jadi programmer, gamer, content creator, ibu rumah tangga, semuanya bisa. Relevansinya makin banyak pilihan, makin gampang bingung dan ikut arus. Makanya pesan Kartini “jadi terang versi kita” penting. Terang versi TikTok beda sama terang versi kamu. Jadi intinya Kartini nggak akan nyuruh anak sekarang buang HP. Dia bakal bilang: “Bagus ada internet. Tapi jangan sampai kamu cuma jadi penikmat. Pakai itu buat belajar, mikir sendiri, dan nyalain terang buat orang lain. Anak-anak ada Surat Kartini untuk Anak Indonesia 2026. Mau ibu bacakan’’
Kompak mereka menjawab ‘’Mauuuu buuuu’’
‘’Ibu bacakan ya …
Anakku yang hebat,
Dulu aku berjuang biar bisa buka buku dan punya suara.
Sekarang kalian beruntung, ilmu ada di genggaman lewat HP dan internet.
Tapi ingat, terang itu bukan cuma terang dari layar.
Terang yang sebenarnya datang waktu kamu berani berpikir sendiri,
berani bertanya, dan berani bantu orang lain.
Jadi jangan cuma jadi penonton di dunia maya.
Jadilah pembelajar, jadilah penolong, jadilah suara yang baik.
Habis gelap, terbitlah terang.
Dan hari ini, terang itu dimulai dari hal kecil yang kamu lakukan
dari Kartini, untuk kamu yang lagi nyalain lampumu sendiri.
‘’Sekarang bagaimana anak-anak, menurut kalian satu hal kecil apa yang bisa nyalain terang kalian hari ini’’
Banyak versi jawaban anak-anak yang ku peroleh ‘’Nggak nyontek PR bu, mau bantuin teman yang nggak ngerti bu, mau nggak scroll Tik Tok lima menit bu’’.
Dari sini aku bikin mereka merasa ‘’Oh, aku juga bisa jadi pahlawan versi aku sendiri, mulai dari hal yang kecil’’
Aku besar dengan cita-cita seperti ibu Kartini, dan sekarang aku sadar bahwa aku adalah Kartini yang lahir kembali dengan tantangan yang lebih besar dibanding zaman Ibu Kartini dahulu, aku bangga menjadi ‘’Kartini Reborn’’, Kartini Reborn itu artinya “Kartini versi sekarang” bukan ngidupin Kartini tahun 1900-an, tapi ngambil semangatnya terus dipasang di masalah zaman sekarang.
Semangat Kartini yang asli adalah Ngejar ilmu meski dilarang, berani berpikir sendiri meski ditentang adat, dan mau angkat orang lain lewat tulisan dan sekolah. Zaman Kartini musuhnya adat yang ngurung perempuan di rumah, larangan sekolah. Zaman sekarang musuhnya beda Malas mikir karena semua ada di TikTok, Takut bersuara karena takut dibully online dan bingung mau jadi apa karena pilihan kebanyakan.
Kartini dulu: “Aku mau baca buku meski dilarang.”
Kartini Reborn: “Aku mau baca 1 paragraf meski YouTube lagi rame.”
Kartini dulu: “Aku mau punya suara meski perempuan.”
Kartini Reborn: “Aku mau angkat tangan meski takut salah.”
Pakai HP buat naik level, bukan cuma scroll. Anak Kartini Reborn nggak anti HP. Tapi dia mikir:
1. “Aku bisa cari apa ya dari HP ini yang bikin aku bertambah pintar hari ini?” Contoh: buka YouTube buat ngerti pecahan, nanya ke AI buat cek PR, bukan cuma FYP dua jam.
2. Berani punya suara kecil, meski takut salah. Nggak harus paling rame. Cukup berani angkat tangan satu kali, nanya satu hal, atau bilang “aku belum ngerti Bu”. Itu versi sekarang dari “berani bersuara melawan adat”.
3. Nyalain terang buat orang lain. Setelah dia ngerti, dia mau bantu temen yang ketinggalan. Share jawaban, jelasin pelan-pelan, atau sekadar “udah aku kerjain, mau lihat caranya?” Intinya ilmunya nggak disimpen sendiri.
Kalau tiga hal ini muncul, Ibu bisa bilang: “Nah, itu Kartini Reborn banget.” Anak jadi merasa dihargai, bukan cuma disuruh jadi pintar. Itulah duniaku sekarang menghadapi anak didik dengan segala tantangan di era teknologi yang luar biasa.

