Konten dari Pengguna

Mengenal Diplomasi Panda: Simbol Persahabatan dan Perdamaian Bagi China

Lisa Amelia

Lisa Amelia

Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Mulawarman

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lisa Amelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber foto: pexels
zoom-in-whitePerbesar
sumber foto: pexels

Panda merupakan salah satu hewan yang disukai global. Meskipun panda relatif tidak memiliki predator alami, hewan menggemaskan ini sempat terancam punah karena kualitasnya yang tak tertahankan untuk diburu dan diambil kulitnya, diselundupkan ke luar negeri, hingga diperdagangkan oleh kolektor kebun binatang. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya manusialah ancaman terparah bagi panda.

China berhasil menyelamatkan populasi panda yang terancam punah dengan cara konservasi dan perluasan habitat mereka. Pemerintah China juga membuat undang -undang untuk menghukum pemburu, penyelundup, dan penangkaran. Kini hewan tersebut populasi liarnya meningkat hampir dua kali lipat setelah 30 tahun upaya pemulihan yang dipimpin pemerintah dan tidak lagi terancam punah. Meski tidak terncam punah, statusnya sekarang masih dianggap rentan.

Panda adalah simbol persahabatan dan perdamaian bagi China. Pemerintah menggunakan panda untuk memaksimalkan efek politik sejak beberapa tahun yang lalu hingga sekarang sebagai bagian dari ‘diplomasi panda’. Diplomasi panda pertama kali dilakukan pada masa Dinasti Tang yang dipimpin oleh Kaisar Permaisuri Wu Zetian tahun 685 Masehi dengan memberikan sepasang panda kepada Kaisar Tenmu dari Jepang sebagai hadiah diplomatik. Setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, pemerintah melihat panda raksasa sebagai alat diplomasi dan pembangun hubungan ilmu pengetahuan dan komunikasi budaya. Antara tahun 1957 hingga 1982, panda raksasa dikirim ke negara lain sebagai hadiah dari pemerintah Tiongkok. Tujuan diplomasi panda ini murni untuk membangun hubungan diplomatik dengan negara-negara barat pada tahun 1950an. Negara barat yang pertama kali melakukan hubungan diplomasi dengan Tiongkok pada saat itu adalah Uni Soviet, dengan memberikan dua panda pada tahun 1957 dan 1959.

Setelah tahun 1982, Pemerintah Tiongkok berhenti memberikan panda ke negara lain dengan alasan kekhawatiran yang tinggi tentang kondisi kehidupan panda liar dan pengaruh melindungi hewan yang terancam. Mereka tidak lagi mengirim panda ke luar negeri secara gratis, tetapi mereka menyewakan panda ke luar negeri untuk tujuan politik dan komersial. Diantara praktik pemberian hewan langka, diplomasi panda adalah yang paling terkenal. Panda raksasa sangat populer di seluruh dunia dan meningkatkan status internasional pemerintahan China. Sewa panda yang ditandatangani oleh negara asing dan pemerintah China sangat ketat dan seringkali disertai dengan banyak persyaratan. Contohnya saja penyewaan panda antara pemerintah Tiongkok dan Skotlandia yang mencakup perjanjian perdagangan senilai 2,6 miliar GBP, serta ada ketentuan tambahan yaitu negara penerima harus membayar 1 juta USD lagi untuk memastikan mereka dapat merawat panda dengan baik. Dalam hal ini banyak politisi dan cendikiawan yang berpendapat bahwa sewa panda agaknya tidak adil bagi negara penerima. Meskipun sewa panda dianggap kontroversial, orang-orang tidak dapat menyangkal bahwa Diplomasi Panda adalah strategi ampuh yang memperluas komunikasi antara China dan dunia.

Bagi China, strategi menyewakan panda telah memberikan hasil yang positif dalam diplomasi dan dalam meningkatkan kesadaran dan hasil konservasi. Sebagian besar dana yang diperoleh dari skema pinjaman diarahkan untuk perbaikan habitat bambu alami panda dan untuk mendukung program pemulihan yang sedang berlangsung. Terutama akibat dari gempa bumi Sichuan 2008 yang menghancurkan sebagian besar habitat alami panda. Hal ini menggarisbawahi pentingnya kerja sama internasional dalam upaya konservasi panda jangka panjang China.