Gaji Naik, Kok Masih Merasa Kekurangan? Bisa Jadi Bukan Soal Penghasilan

Mahasiswa Universitas Pamulang, fokus pada bidang akuntansi dan perpajakan.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Lisrawati Harefa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa gaji sudah naik, tetapi kondisi keuangan tetap saja terasa pas-pasan? Dulu dengan penghasilan tertentu kita masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun setelah mendapatkan kenaikan gaji, pengeluaran justru ikut bertambah.
Menurut saya, kondisi seperti ini cukup dekat dengan kehidupan banyak pekerja, terutama anak muda yang baru mulai memiliki penghasilan sendiri. Ketika penghasilan bertambah, keinginan untuk meningkatkan gaya hidup juga sering ikut muncul.
Bukan berarti menikmati hasil kerja itu salah. Masalahnya adalah ketika setiap kenaikan penghasilan langsung diikuti kenaikan pengeluaran.
Ketika Penghasilan Naik, Gaya Hidup Ikut Berubah
Saat gaji masih terbatas, kita mungkin terbiasa membawa bekal, menggunakan transportasi yang lebih murah, atau berpikir berkali-kali sebelum membeli sesuatu.
Namun setelah penghasilan meningkat, kebiasaan tersebut bisa berubah secara perlahan.
Makan di luar menjadi lebih sering. Belanja barang yang sebelumnya dianggap mahal mulai terasa biasa. Berlangganan berbagai layanan digital juga tidak lagi dianggap sebagai pengeluaran besar karena masing-masing nominalnya terlihat kecil.
Masalahnya, pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali tetap akan menjadi pengeluaran besar.
Di sinilah menurut saya pentingnya memahami konsep lifestyle inflation, yaitu kondisi ketika pengeluaran dan gaya hidup meningkat seiring bertambahnya penghasilan.
Tanpa disadari, seseorang bisa berada dalam situasi di mana gajinya naik, tetapi jumlah uang yang tersisa setiap bulan tidak jauh berbeda.
Gaji Besar Tidak Selalu Berarti Keuangan Sehat
Kita sering menganggap seseorang yang memiliki penghasilan tinggi pasti memiliki kondisi keuangan yang baik.
Padahal, jumlah penghasilan bukan satu-satunya ukuran kesehatan keuangan.
Seseorang dengan gaji yang cukup besar bisa saja memiliki banyak cicilan dan pengeluaran konsumtif. Sebaliknya, seseorang dengan penghasilan yang lebih sederhana dapat memiliki kondisi keuangan yang lebih teratur karena mampu mengendalikan pengeluarannya.
Menurut saya, yang lebih penting bukan hanya bertanya, "Berapa gaji saya?", tetapi juga bertanya, "Berapa uang yang benar-benar tersisa setelah semua kebutuhan dan kewajiban dibayar?"
Pertanyaan tersebut sederhana, tetapi bisa membuat kita melihat kondisi keuangan secara lebih realistis.
Kenaikan Gaji Seharusnya Menjadi Kesempatan, Bukan Alasan untuk Boros
Ketika mendapatkan kenaikan gaji, sebenarnya ada kesempatan untuk memperbaiki kondisi keuangan.
Sebagian tambahan penghasilan dapat digunakan untuk membangun dana darurat, menambah tabungan, membayar kewajiban, atau mempersiapkan kebutuhan di masa depan.
Bukan berarti seluruh kenaikan gaji harus disimpan. Kita tetap boleh memberikan penghargaan kepada diri sendiri.
Misalnya, jika sebelumnya jarang makan di restoran, sesekali menikmati makanan yang diinginkan tentu bukan masalah. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai semua tambahan penghasilan habis hanya karena merasa "sekarang sudah mampu".
Menurut saya, prinsip yang lebih sehat adalah meningkatkan kualitas hidup secukupnya sambil tetap meningkatkan keamanan keuangan.
Dengan begitu, kenaikan penghasilan tidak hanya terasa dalam bentuk barang yang kita beli, tetapi juga dalam bentuk ketenangan finansial.
Media Sosial Membuat Kita Mudah Membandingkan Gaya Hidup
Ada satu hal lain yang membuat pengelolaan keuangan semakin menantang: media sosial.
Setiap hari kita dapat melihat orang lain membeli barang baru, pergi berlibur, makan di tempat yang sedang populer, atau menggunakan produk tertentu.
Tanpa disadari, hal tersebut dapat membuat kita membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan kondisi keuangan seseorang secara keseluruhan.
Kita tidak tahu apakah barang tersebut dibeli dengan uang tunai, dicicil, atau memang sudah menjadi bagian dari kemampuan finansial mereka.
Karena itu, menurut saya, menjadikan gaya hidup orang lain sebagai standar kehidupan pribadi adalah salah satu kebiasaan yang perlu dihindari.
Literasi Keuangan Tidak Harus Dimulai dari Hal yang Rumit
Belajar keuangan tidak harus langsung membahas investasi dengan istilah yang sulit.
Hal paling sederhana justru bisa dimulai dari mengetahui ke mana uang kita pergi setiap bulan.
Catat pengeluaran rutin. Bedakan kebutuhan dan keinginan. Perhatikan cicilan. Sisihkan uang sebelum membelanjakannya, bukan menunggu ada sisa di akhir bulan.
Kebiasaan tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat membantu kita mengetahui apakah penghasilan benar-benar digunakan sesuai prioritas.
Menurut saya, literasi keuangan bukan tentang siapa yang paling banyak memiliki uang. Literasi keuangan adalah tentang kemampuan seseorang mengambil keputusan yang masuk akal terhadap uang yang dimilikinya.
Bukan Berarti Harus Pelit
Membahas pengelolaan keuangan bukan berarti kita harus berhenti menikmati hidup.
Kita tetap boleh membeli sesuatu yang kita sukai, pergi bersama teman, menikmati makanan favorit, atau memberikan hadiah kepada diri sendiri.
Yang perlu dihindari adalah ketika semua keinginan dianggap sebagai kebutuhan dan setiap kenaikan penghasilan langsung dihabiskan untuk meningkatkan gaya hidup.
Pada akhirnya, kenaikan gaji seharusnya memberikan pilihan yang lebih banyak kepada kita, bukan justru membuat kita memiliki lebih banyak pengeluaran.
Karena menurut saya, tanda keberhasilan finansial bukan hanya ketika kita mampu membeli lebih banyak barang, tetapi ketika kita juga mampu mengatakan "tidak" pada pengeluaran yang memang tidak kita perlukan.
Penghasilan yang meningkat akan lebih berarti jika diikuti dengan kemampuan mengelolanya.
Sebab, gaji yang lebih besar belum tentu membuat seseorang lebih sejahtera. Yang membuat perbedaan adalah bagaimana uang tersebut digunakan.
