Gaji Sudah Dipotong Pajak, Tapi Kenapa Kita Masih Tidak Paham Pajak?

Mahasiswa Universitas Pamulang, fokus pada bidang akuntansi dan perpajakan.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Lisrawati Harefa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pajak sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi seseorang yang telah bekerja dan menerima penghasilan. Namun, masih banyak anak muda yang menerima gaji setiap bulan tanpa benar-benar memahami bagaimana pajak memengaruhi penghasilan mereka.
Padahal, ketika seseorang mulai bekerja dan menerima penghasilan, pajak sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Salah satu contohnya dapat dilihat dari slip gaji. Ada karyawan yang mungkin melihat adanya potongan PPh 21, tetapi tidak benar-benar memahami apa arti potongan tersebut. Bahkan, sebagian orang mungkin hanya berpikir bahwa jumlah gaji yang diterima lebih kecil karena "dipotong pajak".
Menurut saya, kondisi ini menunjukkan bahwa literasi perpajakan di kalangan anak muda masih perlu ditingkatkan.
Pajak Bukan Sekadar Potongan dari Gaji
Pajak sering kali dipersepsikan hanya sebagai kewajiban yang harus dibayar kepada negara. Padahal, memahami pajak tidak hanya tentang mengetahui berapa jumlah yang harus dibayar.
Bagi seorang pekerja, memahami pajak dapat membantu kita mengetahui dari mana munculnya potongan pada penghasilan yang diterima. Kita juga menjadi lebih paham mengenai hak dan kewajiban sebagai wajib pajak.
Misalnya, seorang karyawan menerima gaji setiap bulan. Ketika melihat jumlah yang masuk ke rekening berbeda dengan nominal gaji sebelum potongan, seharusnya muncul pertanyaan: potongan tersebut untuk apa? Apakah semuanya merupakan pajak? Bagaimana perhitungannya?
Pertanyaan sederhana seperti itu sebenarnya merupakan langkah awal untuk meningkatkan literasi pajak.
Anak Muda Tidak Bisa Terus Menganggap Pajak sebagai Urusan Perusahaan
Ketika masih menjadi karyawan, memang ada perusahaan yang membantu melakukan pemotongan dan administrasi pajak penghasilan karyawan. Namun, bukan berarti pekerja tidak perlu memahami apa yang dilakukan perusahaan.
Menurut saya, justru di sinilah pentingnya edukasi perpajakan.
Anak muda yang baru memasuki dunia kerja seharusnya mulai mengenal istilah seperti PPh 21, bukti potong, NPWP atau NIK sebagai identitas perpajakan, serta pelaporan SPT Tahunan.
Tidak harus langsung memahami seluruh aturan perpajakan yang rumit. Setidaknya, kita tahu apa yang sedang kita bayar, mengapa kita membayarnya, dan apa kewajiban yang harus dilakukan sebagai wajib pajak.
Dengan begitu, kita tidak hanya menjadi pekerja yang menerima gaji, tetapi juga menjadi individu yang memahami konsekuensi finansial dari penghasilan yang kita peroleh.
Literasi Pajak Juga Bagian dari Literasi Keuangan
Membicarakan literasi keuangan biasanya identik dengan menabung, membuat anggaran, investasi, atau menghindari utang konsumtif. Padahal, pajak juga merupakan bagian dari pengelolaan keuangan.
Bayangkan seseorang sudah mampu mengatur pengeluaran, memiliki tabungan, bahkan mulai berinvestasi, tetapi tidak memahami kewajiban pajaknya. Pengetahuan keuangannya tentu belum bisa dikatakan lengkap.
Terlebih lagi, pola penghasilan anak muda saat ini semakin beragam. Tidak semua orang hanya mengandalkan gaji sebagai karyawan. Ada yang memiliki pekerjaan sampingan, menjadi freelancer, berjualan secara online, atau mendapatkan penghasilan dari berbagai aktivitas digital.
Semakin beragam sumber penghasilan seseorang, semakin penting pula pemahaman mengenai aspek perpajakannya.
Jangan Menunggu Sampai Bingung Baru Belajar Pajak
Menurut saya, salah satu alasan anak muda kurang tertarik mempelajari pajak adalah karena pajak dianggap rumit dan penuh istilah teknis.
Padahal, cara memahaminya bisa dimulai dari hal yang paling dekat dengan kehidupan kita.
Mulailah dengan membaca slip gaji. Pahami potongan yang tercantum di dalamnya. Kenali istilah perpajakan yang sering muncul. Jika memiliki penghasilan tambahan, cari tahu bagaimana kewajiban perpajakannya. Ketika memasuki masa pelaporan SPT, jangan hanya meminta orang lain mengerjakannya, tetapi coba pahami prosesnya.
Kebiasaan kecil tersebut dapat membuat kita lebih sadar terhadap kondisi keuangan sendiri.
Pada akhirnya, membayar pajak bukan hanya tentang kewajiban kepada negara. Memahami pajak juga merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri sebagai orang yang memiliki penghasilan.
Anak muda mungkin belum semuanya memiliki penghasilan besar. Namun, bukan berarti literasi pajak bisa ditunda sampai penghasilan kita tinggi.
Justru sejak pertama kali menerima penghasilan, kita perlu mulai belajar.
Karena menjadi dewasa secara finansial bukan hanya tentang mampu mendapatkan uang, tetapi juga tentang mampu memahami bagaimana uang yang kita peroleh dikelola, termasuk kewajiban yang melekat di dalamnya.
