Konten dari Pengguna

3S Neo Internet Sehat: Literasi Digital dan Sehat Mental di Ruang Ketiga Digital

Literasi Digital Indonesia

Literasi Digital Indonesia

https://kumparan.com/literasidigital-indonesia

·waktu baca 16 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Literasi Digital Indonesia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Literasi digital dan Internet Sehat di era ruang ketiga digital adalah inti dari tulisan ini. Saya mengajak kita semua untuk melihat ulang hubungan kita dengan dunia digital, bukan dari sudut pandang larangan atau restriksi, melainkan dari kesadaran (awareness). Dimulai dari konsep ruang ketiga digital dan paradoks yang ada, tulisan ini menceritakan bagaimana algoritma dan ekosistem digital secara sistematis membentuk kebiasaan kita tanpa kita sadari. Namun ada ikhtiar untuk menggeser paradigma: dari konsumen pasif menjadi navigator aktif. Puncaknya adalah penguatan prinsip literasi digital yang saya namakan 3S Neo Internet Sehat: Sadar, Saring, Seimbang, sebagai kompas literasi digital di era ruang ketiga digital. Sebuah hal yang tidak dimulai dari teknologi, melainkan dari manusianya.

Penulis: Donny Utoyo*

3S Neo Internet Sehat: Literasi Digital dan Sehat Mental di Ruang Ketiga Digital / @donnybu
zoom-in-whitePerbesar
3S Neo Internet Sehat: Literasi Digital dan Sehat Mental di Ruang Ketiga Digital / @donnybu

Ruang Ketiga (Era) Digital

Ada sesuatu yang diam-diam berubah dalam cara kita hidup. Kita bangun pagi dan hal pertama yang kita lakukan bukan membuka jendela, melainkan membuka layar digital. Kita makan malam, tapi tangan kita tidak pernah benar-benar istirahat. Kita berbaring hendak tidur, namun mata kita masih mengejar satu video pendek lagi, satu notifikasi lagi, satu berita lagi. Tanpa kita sadari, kita belum pernah benar-benar berhenti.

Sosiolog Ray Oldenburg dalam karyanya The Great Good Place (1989) pernah memperkenalkan konsep third place, ruang ketiga. Bukan rumah, bukan kantor atau sekolah, melainkan ruang informal tempat manusia berkumpul, bersosialisasi, membangun rasa memiliki. Warung kopi, pos ronda, taman kota. Ruang yang netral, setara, dan santai.

Masa kini, ruang ketiga itu telah bermigrasi ke layar digital kita. Manuel Castells dalam The Rise of the Network Society (2010) sudah melihat jauh ke depan bahwa transformasi digital tidak sekadar mengubah teknologi, melainkan mengubah ruang sosial itu sendiri secara fundamental. Media sosial, platform live streaming, grup-grup pesan, semuanya menjadi tempat berkumpul baru. Berbeda dari warung kopi yang tutup pukul sepuluh malam, ruang ketiga digital ini tidak pernah tutup, tidak pernah sepi, tidak pernah membiarkan kita pergi tanpa satu notifikasi perpisahan.

Maka yang menjadi persoalan bukan kehadirannya, melainkan sifat dasarnya. Ruang ketiga tradisional berjalan atas dinamika sosial manusia: lelah, kita pulang; ngantuk, kita pamit. Namun ruang ketiga digital dirancang oleh algoritma yang belajar dari setiap detik keberadaan kita, yang tahu persis kapan kita rentan, kapan kita bosan, kapan kita butuh validasi, dan menyodorkan tepat apa yang membuat kita bertahan sedikit lebih lama. Shoshana Zuboff menyebut dinamika ini sebagai logika platform yang secara aktif membentuk perilaku pengguna, bukan sekadar meresponsnya.

Baca tulisan "Marapthon AAA Clan: Relasi Sosial Ruang Ketiga (Digital) & Economy of Attention"

Paradoks dan Tekanan Digital

Di sinilah letak paradoksnya. Semakin terkoneksi kita secara digital, semakin besar pula risiko gangguan kesehatan mental yang mengintai. Twenge et al. (2018) mendokumentasikan secara empiris dalam Clinical Psychological Science bahwa peningkatan waktu layar di kalangan remaja berkorelasi signifikan dengan meningkatnya gejala depresi, risiko bunuh diri, dan kesepian, terutama di kalangan perempuan. Temuan ini diperkuat oleh Twenge, Haidt, Lozano, dan Cummins (2022) dalam Acta Psychologica yang menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara konsisten terkait dengan kesehatan mental yang lebih buruk, khususnya pada remaja perempuan.

Namun persoalannya bukan pada teknologinya itu sendiri. Teknologi adalah alat, adapun yang menentukan dampaknya adalah bagaimana, kapan, dan dengan kesadaran seperti apa kita menggunakannya.

Gejala tekanan digital acap kali tidak dramatis. Tidak ada momen tunggal yang bisa kita tunjuk sebagai penyebab. Tanpa dapat dengan mudah kita sadari, yang terjadi ada adalah perubahan halus yang bertahap: konsentrasi yang makin pendek, suasana hati yang mudah terombang-ambing oleh konten yang baru saja kita konsumsi, atau rasa hampa ketika ponsel tidak ada dalam jangkauan tangan. World Health Organization / WHO (2019) bahkan telah mengakui gaming disorder sebagai kondisi kesehatan yang perlu diwaspadai, sebuah sinyal bahwa penggunaan digital yang bermasalah sudah melampaui sekadar kebiasaan buruk.

Anatomi Kecanduan (Digital) / @donnybu

Untuk memahami mengapa berhenti terasa begitu sulit, kita perlu melihat mekanisme di baliknya. Nir Eyal dalam Hooked: How to Build Habit-Forming Products (2014) menjelaskan bahwa produk-produk digital dirancang secara eksplisit untuk membentuk kebiasaan melalui siklus empat tahap: Trigger (pemicu dari luar atau dari dalam diri), Action (tindakan membuka aplikasi), Reward (hadiah berupa kepuasan atau stimulasi sesaat), dan Investment (waktu dan perhatian yang kita tanamkan sehingga siklus berikutnya menjadi lebih kuat). B.J. Fogg dalam Fogg Behavior Model (2009) melengkapi ini dengan menunjukkan bahwa perilaku terbentuk dari pertemuan antara pemicu, kemampuan, dan motivasi, dan bahwa desain antarmuka digital modern sangat mahir memanipulasi ketiganya sekaligus.

Walhasil penggunaan digital dapat dipetakan dalam spektrum tiga zona yang perlu kita kenali. Mark Griffiths, peneliti perilaku adiktif, menggambarkannya sebagai spektrum dari penggunaan normal hingga problematik hingga adiktif. Dalam bahasa sehari-hari: zona fungsional ditandai oleh tujuan yang jelas, zona habitual oleh otomatisasi tanpa niat, dan zona kritikal oleh gangguan terhadap fungsi-fungsi kehidupan yang penting. Sejatinya yang perlu kita waspadai adalah betapa halusnya pergeseran dari satu zona ke zona berikutnya. Tidak ada alarm berbunyi ketika kita melewati batas.

Spektrum Tiga Zona / @donnybu

Taktik Jeda & Pilah Pilih

Membicarakan kesehatan mental di dunia digital bukan berarti menganjurkan kita untuk membuang ponsel atau menghapus semua akun media sosial. Framing itu terlalu sederhana dan tidak realistis. Tentu akan lebih berguna adalah membangun kesadaran dan kemampuan untuk memilih secara aktif, alih-alih sekadar merespons secara reaktif terhadap setiap rangsangan digital yang datang.

Salah satu pendekatan praktis yang berakar pada Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan kerangka pemulihan adiksi adalah metode H.A.L.T, sebuah teknik pemeriksaan diri yang, meski belum diuji secara spesifik untuk konteks digital, relevan secara konseptual karena mekanisme pemicunya serupa: kondisi emosional negatif yang mendorong perilaku impulsif sebagai pelarian. Sebelum membuka media sosial tanpa tujuan yang jelas, berhenti sejenak dan tanyakan pada diri sendiri: apakah saya sedang Hungry (lapar, butuh asupan fisik bukan stimulasi layar)? Apakah saya sedang Angry (marah atau frustrasi, mencari pelarian emosi ke dunia maya)? Apakah saya sedang Lonely (kesepian, yang tidak bisa benar-benar terobati oleh keramaian digital)? Atau apakah saya sedang Tired (lelah, yang justru membutuhkan istirahat dari layar, bukan tambahan informasi)? Pemeriksaan kecil ini memberi ruang bagi diri kita untuk mengenali kebutuhan yang sebenarnya sebelum mencarinya di tempat yang mungkin tidak menyediakannya.

Di luar itu, ada pula langkah-langkah ekologis yang bisa kita rancang secara sadar. James Clear dalam Atomic Habits (2018) mengingatkan bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik di sekitarnya, bukan semata oleh niat atau kehendak. Artinya, jika kita ingin mengubah kebiasaan digital, mengubah lingkungan adalah langkah yang jauh lebih efektif daripada mengandalkan kekuatan tekad semata.

Meletakkan ponsel di luar kamar tidur, menciptakan zona makan tanpa layar, atau mematikan notifikasi non-esensial adalah bentuk-bentuk environment design, sebuah prinsip yang oleh Bhargava dan Velasquez (2021) dalam Business Ethics Quarterly disebut sebagai upaya merebut kembali kendali dari mekanisme adiktif yang sengaja ditanamkan dalam desain platform.

Selain merancang lingkungan fisik, kita juga perlu merancang lingkungan digital kita. Twenge dan Campbell (2019) dalam Psychiatric Quarterly menunjukkan dari tiga dataset besar bahwa pengguna berat media digital secara konsisten melaporkan kesejahteraan psikologis yang lebih rendah dibanding pengguna ringan, sebuah temuan yang menegaskan bahwa masalahnya bukan sekadar durasi penggunaan, melainkan pola dan kualitas keterlibatan digital kita.

Ini berkaitan langsung dengan apa yang dalam kajian ekonomi perhatian disebut sebagai attention economy: kompetisi memperebutkan sumber daya yang paling langka di era digital, yaitu perhatian manusia.

Giraldo-Luque et al. (2020) dalam Healthcare menunjukkan bahwa desain antarmuka media sosial secara sistematis memanfaatkan mekanisme perhatian manusia untuk memaksimalkan keterlibatan, yang pada gilirannya berkorelasi dengan masalah psikologis dan sosial. Setiap platform, setiap aplikasi, setiap konten, berkompetisi untuk mendapatkan sedetik lebih lama dari fokus kita Dalam kompetisi itu, sejatinya kitalah yang paling sering kalah jika tidak memiliki kesadaran strategi dan strategi yang menyadarkan.

Protokol praktisnya sederhana: audit visibilitas dengan mematikan notifikasi aplikasi non-esensial, bersihkan algoritma dengan berhenti mengikuti akun-akun yang memicu kecemasan atau perbandingan diri yang tidak produktif, dan gunakan fitur focus mode ketika membutuhkan konsentrasi penuh. Bukan karena kita menghindari dunia digital, melainkan karena kita memilih untuk hadir di dalamnya secara lebih terarah.

Dari Konsumen ke Navigator

Ada pergeseran paradigma yang menurut saya sangat penting untuk dibicarakan, yaitu dari posisi sebagai konsumen pasif menjadi navigator aktif di dunia digital. Neil Postman sudah lama memperingatkan bahwa media tidak sekadar menyampaikan pesan, melainkan membentuk cara berpikir kita. Ketika kita membiarkan algoritma menentukan seluruh diet informasi kita, kita menyerahkan sebagian dari kapasitas berpikir kritis kita kepada sistem yang tidak dirancang untuk kepentingan kita.

Navigator aktif adalah mereka yang memiliki niat sebelum membuka layar, yang melakukan searching with purpose bukan sekadar scrolling without direction, yang memandang Internet sebagai perpustakaan yang mereka kunjungi dengan daftar bacaan, bukan sebagai televisi yang mereka nyalakan hanya agar ada suara di ruangan.

Matriks Nutrisi Digital / @donnybu

Ini pula yang dimaksud dengan nutrisi digital: analogi yang berangkat dari cara kita memandang konsumsi makanan. Ada superfood digital, konten yang membangun kapasitas, keterampilan, dan pengetahuan kita.

Ada suplemen, konten edukatif yang mendukung proses belajar. Ada cemilan kreatif, hiburan yang boleh kita nikmati sesekali. Dan ada junk food digital, doomscrolling, drama media sosial, video pendek tanpa henti, yang memberikan stimulasi sesaat namun menguras energi kognitif dan emosional kita secara diam-diam.

Neo Internet Sehat: Kompas Literasi Digital

Lebih dari dua dekade bergelut dalam gerakan literasi digital Indonesia bersama kawan-kawan di ICT Watch dan tergabung pula dalam jejaring Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi, maka pada kesempatan kali ini saya menegasan sebuah pembaharan dan revitalisasi kerangka prinsip literasi digital yang saya namakan 3S Neo (Literasi Digital) Internet Sehat: Sadar, Saring, Seimbang. Ia bukan rumus ajaib, bukan pula slogan kampanye. Ia adalah kompas, tiga prinsip yang saling mengunci, yang bisa dipegang oleh siapa pun, dari pelajar sekolah dasar hingga profesional yang kelelahan di depan laptop, dari orang tua yang bingung menghadapi anaknya yang tak lepas dari gawai hingga pembuat kebijakan yang ingin memahami kompleksitas ekosistem digital.

Prinsip yang membuat 3S tetap relevan hingga hari ini adalah justru karena ia tidak dimulai dari teknologi, melainkan dari manusianya. Di era ketika produk digital dirancang secara eksplisit untuk membentuk kebiasaan. Sebagaimana Nir Eyal dokumentasikan dalam Hooked (2014), sejatinya kita membutuhkan kerangka yang menempatkan kembali manusia sebagai subjek yang berdaulat, bukan sekadar objek yang dikelola algoritma.

Prinsip 3S Neo Internet Sehat: Sadar, Saring, Seimbang / @donnybu
  • Sadar adalah prinsip pertama, kesadaran yang mutlak adanya. Sebelum kita bicara tentang apa yang kita konsumsi di dunia digital, kita perlu mengenali kondisi diri kita sendiri terlebih dahulu. Ini yang juga menjadi inti dari pendekatan mindfulness dalam psikologi kognitif: bahwa kesadaran adalah prasyarat dari segala bentuk perubahan perilaku. Mantra (keywords)-nya adalah: Lindungi Mentalmu. Karena acapkali tanpa sadar, kita tidak bisa memilih, kita hanya bereaksi. Dalam konteks digital, sadar berarti mengenali emosi kita sebelum membuka layar: apakah kita sedang cemas, kesepian, bosan, atau frustrasi? Karena kondisi-kondisi itulah yang paling sering dieksploitasi oleh algoritma untuk menarik kita masuk lebih dalam. Seperti yang didalilkan oleh kerangka H.A.L.T. pada paragraf awal di atas: kenali dirimu dulu, baru putuskan apakah layar itu benar-benar yang kamu butuhkan saat ini. Sadar juga berarti memahami bahwa kita bukan pengguna yang netral, setiap klik kita adalah data, setiap detik perhatian kita adalah komoditas dalam ekosistem attention economy yang Shoshana Zuboff sebut sebagai surveillance capitalism.

  • Saring adalah prinsip kedua, keterampilan yang tidak bisa diabaikan. Di era di mana volume informasi tumbuh jauh melampaui kapasitas manusia untuk memprosesnya, kemampuan memilah bukan lagi kemewahan intelektual, ia adalah kebutuhan dasar. Neil Postman sudah memperingatkan sejak 1985 bahwa media membentuk cara kita berpikir, bukan sekadar menyampaikan pesan. Hari ini, peringatan itu jauh lebih mendesak: algoritma tidak hanya menyampaikan informasi! Algoritma memilihkan informasi mana yang kita lihat, menguatkan apa yang sudah kita percaya, dan menyembunyikan apa yang mungkin kita butuhkan untuk berpikir lebih jernih. Saring berarti kita aktif mempertanyakan sumber, memeriksa konteks, membersihkan lini masa dari akun-akun yang memicu kecemasan atau perbandingan diri yang tidak sehat, dan secara sadar memilih diet informasi yang mendukung pertumbuhan kita, bukan yang sekadar memuaskan rasa ingin tahu sesaat atau mengukuhkan prasangka yang sudah ada. Mantra (keywords)-nya adalah: Batasi Waktumu. Dalam kerangka European Commission tentang kompetensi digital, kemampuan ini masuk dalam dimensi information and data literacy, salah satu prinsip paling krusial di abad ke-21.

  • Seimbang adalah prinsip ketiga, yang menjadi peringkat kedua prinsip lainnya. Keseimbangan di sini bukan berarti membagi waktu layar secara mekanis, dua jam online, dua jam offline. Ia lebih dalam dari itu. Valkenburg (2022) dalam Current Opinion in Psychology melakukan sintesa analisis dan ulasan sistematis tentang hubungan media sosial dengan kesejahteraan (well-being), dan menemukan satu benang merah penting: dampak media sosial sangat bergantung pada bagaimana kita menggunakannya, bukan sekadar berapa lama. Mantra (keywords)-nya adalah: Perkaya Karyamu. Penggunaan aktif yang memiliki tujuan atau bertujuan akan cenderung netral hingga positif dan kreatif, adapun penggunaan pasif tanpa arah akan cenderung berkorelasi dengan well-being yang lebih rendah. Seligman (2018) pun menguatkan ini dari sisi psikologi positif: kesejahteraan mental bukan sekadar absennya gangguan, melainkan kehadiran aktif dari makna, keterlibatan, dan hubungan yang positif, dan keduanya menunjuk ke arah yang sama: kualitas keterlibatan digital kita jauh lebih menentukan dari kuantitasnya. Tidak semuanya bisa dipenuhi oleh algoritma digital. Aktivitas fisik, percakapan tatap muka, keheningan yang produktif, waktu di alam terbuka, semua itu adalah nutrisi yang tidak bisa digantikan oleh konten sebaik apa pun. Seimbang berarti kita secara aktif menjaga agar kehidupan di luar layar tetap kaya, bermakna, dan terhubung, bukan sebagai pelarian dari digital, melainkan sebagai fondasi yang membuat kita bisa hadir di dunia digital dengan lebih sehat dan lebih terkendali.

Maka penting untuk dipahami adalah bahwa ketiga prinsip ini bukan hierarki linear. Bukan berarti kita harus menyelesaikan Sadar dulu baru bisa Saring, lalu Seimbang. Ketiganya bekerja secara simultan dan saling memperkuat dalam satu siklus yang dinamis. Ketika kita sadar akan kondisi diri, kita jadi lebih mampu menyaring dengan jernih. Ketika kita menyaring dengan baik, kita lebih mudah menjaga keseimbangan. Ketika hidup kita seimbang, kita menjadi lebih sadar, lebih peka terhadap momen ketika dunia digital mulai mengambil lebih dari yang seharusnya ia dapat.

Inilah yang saya maksud dengan pembaharuan prinsip Internet Sehat versi djadoel kala itu "wise while online, think before posting". Jamaknya gerakan literasi digital lainnya di Indonesia kini bukan lagi sekadar gerakan untuk menghindari konten berbahaya seperti di era awal Internet Sehat. Ia harus bertransformasi menjadi sebuah orientasi hidup yang menempatkan manusia, dengan segala kompleksitas psikologis dan sosialnya, sebagai subjek yang aktif dan berdaulat di dunia digital. Literasi digital, pun Internet Sehat, tak cukup lagi tentang Internet yang bersih dari ancaman saja, melainkan tentang manusia yang sehat dalam berinteraksi dengannya.

Upaya Bersama Langkah Sederhana

Satu hal yang perlu saya tegaskan pula di sini: kesehatan mental di dunia digital bukan semata tanggung jawab individu. Ia adalah tanggung jawab ekosistem.

UNESCO dalam A Global Framework of Reference on Digital Literacy Skills (2018) sudah menegaskan bahwa literasi digital adalah kemampuan yang harus dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat, sebuah mandat yang hanya bisa diwujudkan melalui kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, institusi pendidikan, platform digital, keluarga, dan komunitas. OECD dalam Digital Education Outlook 2023 menegaskan bahwa ekosistem pendidikan digital yang efektif membutuhkan pendekatan sistem menyeluruh. Hal tersebut mencakup kebijakan, teknologi, dan kompetensi manusianya secara bersamaan, sehingga termanifestasi menjadi sebuah prinsip yang melandasi semangat PP Tunas (PP No. 17 Tahun 2025) dalam membangun tata kelola digital yang ramah anak di Indonesia.

Artinya, pelajar membutuhkan regulasi diri, tetapi mereka juga membutuhkan orang tua yang memberikan contoh dan bimbingan, bukan sekadar larangan. Mereka membutuhkan guru yang menciptakan ruang belajar yang aman secara psikologis, dan kebijakan yang melindungi mereka dari paparan konten yang berbahaya.

PP Tunas yang hadir tahun lalu adalah langkah menuju ke arah itu, yaitu pengakuan regulatif bahwa perlindungan anak di ruang digital adalah urusan bersama, bukan sekadar urusan orang tua masing-masing.

Pun saya berkeyakinan penuh, keyakinan yang tidak berubah terhitung sejak ketika saya menginisiasi Internet Sehat pada 2002 silam, adalah bahwa kita tidak bisa menghadapi kompleksitas dunia digital hanya dengan larangan atau kepanikan moral. Kita bersama lebih membutuhkan pemahaman, kemampuan, dan budaya penggunaan Internet Sehat. Ya, Sadar, Saring, Seimbang!

Bersama kita pasti akan mampumemahami, mengelola, dan memaknai tantangan hidup, sebagai fondasi ketahanan. Pun kesejahteraan mental bukan sekadar absennya gangguan belaka, melainkan kehadiran aktif dari makna, keterlibatan, dan hubungan yang positif. Keduanya relevan untuk pembahasan kita kali ini.

Kesehatan mental di dunia digital bukan tentang bebas dari teknologi, melainkan tentang memiliki hubungan yang bermakna, terkendali, dan sehat dengannya.

Penelitian Twenge dan Campbell (2019) memberi kita sinyal yang jelas: bahkan perubahan kecil dalam pola penggunaan digital, dari berat ke sedang, sudah berkorelasi dengan peningkatan kesejahteraan psikologis yang signifikan. Maka mulailah dari diri kita, saat ini juga, dari 5 (lima) langkah sederhana ini:

  1. letakkan / charge ponsel di luar kamar tidur kita sejak malam ini

  2. matikan atau non-aktifkan sejumlah notifikasi yang selama ini mengganggu perhatian / konsentrasi kita

  3. refleksikan H.A.L.T. sebelum membuka media sosial setiap harinya

  4. aktifkan mode fokus (focus mode) pada momen ketika kita perlu konsentasi / fokus (baca caranya untuk IoS, Android, Windows)

  5. bersihkan akun atau konten yang selama ini terasa lebih banyak memicu kecemasan (termasuk "membanding-bandingkan diri dengan orang lain") ketimbang memberi manfaat lalu unfollow, mute, block atau hide sekarang juga.

Karena pada akhirnya, kesehatan mental yang sejati dimulai dari satu keputusan kecil yang kita buat setiap hari: untuk hadir secara penuh, untuk mengenali diri kita di luar layar, dan untuk memastikan bahwa kitalah yang memegang kendali atas perhatian kita, bukan sebaliknya.

________________________________________

*) Penulis adalah pendiri ICT Watch / Internet Sehat dan mahasiswa doktoral IPB. Pegiat literasi digital dan pemelajar sosiologi digital.

Kontak: @donnybu (IG) / donnybu.id

________________________________________

Daftar Pustaka

  1. Airoldi, M. (2022). Machine Habitus: Toward a Sociology of Algorithms. Polity Press.

  2. Bhargava, V. R., & Velasquez, M. (2021). Ethics of the attention economy: The problem of social media addiction. Business Ethics Quarterly, 31(3), 321–359. https://doi.org/10.1017/beq.2020.32

  3. Castells, M. (2010). The Rise of the Network Society (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

  4. Clear, J. (2018). Atomic Habits: An Easy & Proven Way to Build Good Habits & Break Bad Ones. Avery.

  5. Eyal, N. (2014). Hooked: How to Build Habit-Forming Products. Portfolio/Penguin.

  6. Fogg, B. J. (2009). A behavior model for persuasive design. Proceedings of the 4th International Conference on Persuasive Technology. ACM. https://doi.org/10.1145/1541948.1541999

  7. Giraldo-Luque, S., Aldana Afanador, P. N., & Fernández-Rovira, C. (2020). The struggle for human attention: Between the abuse of social media and digital wellbeing. Healthcare, 8(4), 497. https://doi.org/10.3390/healthcare8040497

  8. Lupton, D. (2015). Digital Sociology. Routledge.

  9. OECD. (2023). OECD Digital Education Outlook 2023: Towards an Effective Digital Education Ecosystem. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/c74f03de-en

  10. Oldenburg, R. (1989). The Great Good Place. Da Capo Press.

  11. Postman, N. (1985). Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in the Age of Show Business. Viking Penguin.

  12. Seligman, M. E. P. (2018). PERMA and the building blocks of well-being. The Journal of Positive Psychology, 13(4), 333–335. https://doi.org/10.1080/17439760.2018.1437466

  13. Twenge, J. M., Joiner, T. E., Rogers, M. L., & Martin, G. N. (2018). Increases in depressive symptoms, suicide-related outcomes, and suicide rates among U.S. adolescents after 2010 and links to increased new media screen time. Clinical Psychological Science, 6(1), 3–17. https://doi.org/10.1177/2167702617723376

  14. Twenge, J. M., & Campbell, W. K. (2019). Media use is linked to lower psychological well-being: Evidence from three datasets. Psychiatric Quarterly, 90(2), 311–331. https://doi.org/10.1007/s11126-019-09630-7

  15. Twenge, J. M., Haidt, J., Lozano, J., & Cummins, K. M. (2022). Specification curve analysis shows that social media use is linked to poor mental health, especially among girls. Acta Psychologica, 224, 103512. https://doi.org/10.1016/j.actpsy.2022.103512

  16. UNESCO. (2018). A Global Framework of Reference on Digital Literacy Skills for Indicator 4.4.2 (Information Paper No. 51). UNESCO Institute for Statistics. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000265403

  17. Valkenburg, P. M. (2022). Social media use and well-being: What we know and what we need to know. Current Opinion in Psychology, 45, 101294. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2021.12.006

  18. World Health Organization. (2019). International Classification of Diseases, 11th Revision (ICD-11). WHO. https://icd.who.int

  19. Zuboff, S. (2019). The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power. PublicAffairs.