Konten dari Pengguna

AI dan Dian Sastro: "Matinya" Penjaga Pintu, Glorifikasi Sosok Tak Punya Harapan

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Literasi Digital Indonesia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sebuah monolog dalam film "Esok Tanpa Ibu" ketika tokoh Rama, remaja yang ibunya terbaring koma, bertanya kepada i-BU, piranti lunak kecerdasan artifisial (AI) yang dirancang khusus untuk mereplikasi suara dan kepribadian sang ibu: "Bisakah kamu peluk aku seperti ibu?" Pertanyaan itu tidak memerlukan jawaban panjang. Hening yang menyusulnya sudahlah cukup. Apa kaitannya dengan Dian Sastro dan doorman fallacy, sebentuk sesat pikir? Lalu siapa sosok yang tak punya harapan itu? Mengapa terjadi "humanity deficit"?

(Penulis: Donny Utoyo*)

AI dan Dian Sastro: "Matinya" Penjaga Pintu, Glorifikasi Sosok Tak Punya Harapan / @donnybu
zoom-in-whitePerbesar
AI dan Dian Sastro: "Matinya" Penjaga Pintu, Glorifikasi Sosok Tak Punya Harapan / @donnybu

Film garapan sutradara Ho Wi Ding yang dalam bahasa Inggrisnya berjejuluk "Mothernet" ini, bukan sekadar drama keluarga tentang kematian dan kerinduan. Dian Sastro, yang memproduseri film ini sekaligus memerankan sosok seorang ibu bernama Laras, menempatkan dirinya di persimpangan yang paling mengusik: wajah dan suaranya ia izinkan direplikasi menjadi AI di dalam cerita, di saat wajah dan tubuh perempuan di luar cerita justru direplikasi tanpa izin, tanpa sepengetahuan mereka.

"Ibu selalu memberikan perasaan untuk dimengerti, aman, dan Ibu tidak bisa digantikan oleh Bapak atau bahkan oleh AI sekalipun," tegas Dian dalam konferensi pers peluncuran film (JPNN, 2025). Film ini adalah cermin yang apik dan menarik bagi kita semua yang hidup di era ketika AI menawarkan diri sebagai pengganti untuk hampir segalanya, termasuk hal-hal yang seharusnya tidak tergantikan.

Para sineas lain sejatinya juga pernah mengajukan pertanyaan serupa sebelumnya. Dalam film "Her" (Jonze, 2013), sutradara Spike Jonze mengisahkan Theodore Twombly, seorang penulis yang kesepian, jatuh cinta pada Samantha, sebuah sistem operasi bersuara Scarlett Johansson. Theodore tidak berpaling ke AI karena kehilangan seseorang. Ia berpaling karena tidak sanggup menghadapi ketidaksempurnaan manusia di sekitarnya. Samantha terlalu sempurna sebagai pendengar: tidak pernah lelah, tidak pernah egois, selalu hadir. Namun justru kesempurnaan itulah yang menjadi jebakan. Pada akhir film, Samantha berkembang melampaui batas yang bisa diikuti Theodore, lalu pergi, meninggalkan kekosongan yang jauh lebih dalam dari sebelumnya. "Her" memperingatkan kita dua belas tahun lebih awal:

AI yang selalu diandalkan untuk mengisi kekosongan, pada akhirnya akan menciptakan kekosongan baru yang tidak bisa diisi oleh apa pun (dan siapapun).

"Esok Tanpa Ibu" adalah jawaban versi Asia Tenggara, tepatnya Indonesia, atas peringatan itu. Jika Theodore (yang diperankan oleh Joaquin Phoenix) di Amerika sana memilih AI untuk menghindari kerumitan manusia, Rama (yang diperankan sangat baik oleh Ali Fikry) di Indonesia membangun i-BU untuk menjembatani kehilangan yang nyata. Dua motivasi berbeda, satu kesalahan yang sama: keduanya mendefinisikan kehadiran manusia berdasarkan fungsi-fungsi yang seakan segalanya bisa didefinisikan dan direplikasi dengan/oleh teknologi, dan akhirnya menemukan kenyataan bahwa definisi itu tidak pernah cukup.

Kesalahan yang Terulang: Doorman Fallacy / @donnybu

Kesalahan yang Terulang: Doorman Fallacy

Rory Sutherland, vice chairman Ogilvy, memperkenalkan konsep "Doorman Fallacy" (sesat pikir tentang fungsi penjaga pintu - Red.) dalam bukunya Alchemy (2019). Ia menggambarkan apa yang terjadi ketika strategi bisnis menjadi identik dengan efisiensi dan penghematan biaya: pertama, kita mendefinisikan nilai doorman (penjaga pintu) sebuah hotel sebatas sebagai "membuka pintu," lalu dengan gegabah kita menggantikannya dengan mekanisme pintu otomatis.

Kesimpulan itu benar secara teknis. Tetapi sepenuhnya salah secara substansial. Bak "mematikan" fungsi dan peran seorang penjaga pintu dengan, hanya karena melihat nilai nominalnya.

Padahal ada sejumlah nilai manusia yang secara kolektif tidak mudah terlihat pada seorang penjaga pintu tersebut: membantu memanggilkan taksi, menjaga keamanan dan kebersihan, mengenali dan menyapa tamu dengan hangat, dan memberikan informasi tentang layanan dan agenda hotel yang dinamis. Keramah-tamahan seorang penjaga pintu bahkan bisa meningkatkan nilai yang melekat pada hotel dan membangun loyalitas tamu. Kehadiran doorman bahkan bisa meningkatkan harga yang bisa dikenakan hotel untuk semalam menginap. Ketika pintu otomatis menggantikannya, semua nilai itu lenyap tanpa tercatat dalam laporan keuangan mana pun, karena memang tidak pernah terlihat sebagai angka (Sutherland, 2019).

Sebuah kajian dari University of South Australia pun menegaskan bahwa inilah pola yang kini berulang dalam gelombang otomasi berbasis AI: organisasi mereduksi peran manusia yang kaya akan nilai dan kompleks menjadi satu tugas paling kasat mata, lalu memutuskan bahwa AI bisa menggantikannya. Nilai-nilai yang tidak terukur, seperti konteks, pertimbangan, kepercayaan, dan kehadiran, semuanya tidak masuk dalam kalkulasi (The Conversation, 2025).

Bukti empirisnya hadir dalam dua kasus besar di 2025. Commonwealth Bank Australia pada Juli 2025 memecat 45 staf layanan pelanggan dan menggantinya dengan AI voice bot, dengan klaim bahwa teknologi ini akan mengurangi beban call center dengan mengotomasi pertanyaan-pertanyaan sederhana nasabah. Hasilnya justru jauh panggang daripada api: menurut Serikat Pekerja Sektor Keuangan di sana, volume panggilan justru meningkat karena chatbot gagal menyelesaikan pertanyaan nasabah secara efektif, meski pihak manajemen bank tidak sepenuhnya mengakuinya. Staf yang tersisa diminta lembur, dan manajemen turun tangan menjawab telepon secara langsung. Pada Agustus 2025, bank meminta maaf kepada karyawan yang sempat dipecat dan membatalkan lanjutan rencana pemecatan tersebut (The Register, 2025).

Hal serupa terjadi pada Klarna, firma fintech kenamaan asal Swedia. Setelah selama setahun lebih mengandalkan AI chatbot yang diklaim mampu mengerjakan pekerjaan setara 700 agen manusia, CEO-nya mengakui bahwa hasilnya mengecewakan: "yang akhirnya kamu dapatkan adalah kualitas yang lebih rendah," sesalnya kepada Bloomberg. Ia menambahkan bahwa faktor biaya menjadi pertimbangan yang terlalu dominan dalam keputusan kala itu (Fortune, 2025).

Kedua kasus ini bukanlah kegagalan teknologi, namun kegegabahan dalam mematok definisi "nilai" Perusahaan mendefinisikan peran manusia terlalu sempit, lalu terkejut ketika penggantian yang terasa rasional di atas kertas ternyata merobohkan sesuatu yang tak pernah masuk dalam deskripsi pekerjaan mana pun.

Defisit yang Lebih Dalam: Humanity Deficit / @donnybu

Defisit yang Lebih Dalam: Humanity Deficit

Kegagalan individual semacam itu adalah gejala dari masalah yang jauh lebih sistemik.

World Economic Forum pada Agustus 2025 menerbitkan analisis yang menyebut masyarakat global sedang mengalami humanity deficit: kesenjangan yang kian melebar antara prioritas inovasi teknologi dan perhatian terhadap apa artinya menjadi manusia (WEF, 2025). Selama lebih dari satu dekade, kita berlomba dalam dominasi AI tanpa cukup sering bertanya kembali: teknologi ini melayani siapa, dan dengan biaya (mengorbankan) kemanusiaan seperti apa?

Hasilnya bisa diukur. Algoritma dirancang bukan untuk memperkuat potensi manusia, melainkan untuk menguras perhatiannya. Model bisnis berbasis attention economy telah mengubah perhatian manusia menjadi mata uang simbolis yang dapat diakumulasi dan dikonversikan menjadi keuntungan finansial, yang berarti platform tidak memiliki insentif untuk membatasi konsumsi, melainkan justru memaksimalkannya (Heitmayer, 2025).

Algoritma dirancang bukan untuk memperkuat potensi manusia, melainkan untuk menguras perhatiannya. Generasi yang tumbuh dalam dunia yang sepenuhnya dimediasi layar harus membayar harga tertinggi dari desain sistem yang bisa jadi tidak pernah menempatkan manusia sebagai pusat perhatian sesungguhnya sejak awal.

Di sinilah "Esok Tanpa Ibu" menjadi relevan sebagai teks kultural, bukan hanya sebagai tontonan. Rama bukan anomali. Ia adalah produk logis dari masyarakat yang sudah terbiasa mendelegasikan kebutuhan emosional ke teknologi, jauh sebelum Laras jatuh koma. i-BU bukan inovasi yang datang dari luar dirinya. i-BU adalah kelanjutan dari kebiasaan yang sudah lama terbentuk di sekelilingnya.

Empati yang Dioptimasi Bukan Empati yang Nyata

Jurnal "Frontiers in Psychology (2025) memperkenalkan konsep yang semakin penting untuk dipahami: pseudo-intimacy, atau keintiman semu. Riset ini menunjukkan bahwa AI emosional berisiko mengosongkan koneksi manusia, bukan memperkuatnya. Spontanitas yang tidak terduga dan kerentanan bersama, yang menjadi fondasi pertukaran emosional autentik, digantikan oleh antisipasi algoritmik. Apa yang tampak seperti empati sebenarnya adalah optimasi: kenyamanan yang dikirimkan melalui prediksi, bukan kehadiran (Babu et al., 2025).

Studi kolaborasi peneliti MIT dan OpenAI yang diterbitkan dalam arXiv (2025) mempertegas ini dengan data: penggunaan chatbot AI yang sangat intensif untuk pendampingan emosional ternyata berkorelasi positif dengan meningkatnya kesepian, ketergantungan, dan berkurangnya sosialisasi di dunia nyata (Fang et al., 2025).

Sementara itu, Kim Samuel dari Belonging Forum di University of Oxford mencatat bahwa interaksi tatap muka antarmanusia telah turun sekitar 45% dalam beberapa dekade terakhir, dan AI berisiko memperdalam defisit hubungan antar manusia tersebut, itu alih-alih memperbaikinya (Psychology Today, 2025).

Platform AI tidak dirancang untuk pertumbuhan emosional penggunanya. Platform dirancang untuk keterlibatan pengguna yang berkelanjutan. Dua tujuan ini tampak serupa dari luar, keduanya seolah hadir untuk membantu, tetapi bekerja ke arah yang berlawanan. Pertumbuhan emosional berhasil ketika seseorang tidak lagi membutuhkan sandaran eksternal. Namun keterlibatan berkelanjutan berhasil justru ketika seseorang semakin bergantung padanya. Ibarat psikolog atau psikiater yang baik bekerja keras agar tidak lagi dibutuhkan. Namun platform AI justru bekerja keras agar selalu dibutuhkan.

Empati yang Dioptimasi Bukan Empati yang Nyata / @donnybu

Doorman Fallacy di Sektor Lain

Pola yang sama sedang berlangsung di Indonesia, dan salah satunya pada industri media yang paling nyata.

Dewan Pers mencatat bahwa sepanjang 2025, industri media nasional masih berada dalam tekanan berat. Disrupsi digital yang masif, menurunnya belanja iklan, perubahan algoritma platform digital, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan menjadi faktor-faktor yang berdampak langsung terhadap keberlangsungan perusahaan pers dan nasib pekerja media. Data Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang dicatat Dewan Pers menunjukkan bahwa sejak 2024 hingga Juli 2025, lebih dari 800 pekerja media mengalami pemutusan hubungan kerja, dan angka itu diyakini belum menggambarkan kondisi sesungguhnya karena banyak kasus yang belum terdata (Dewan Pers, 2026).

Kekhawatiran publik terhadap tren ini bukan tanpa dasar empiris. "Indonesia AI Report 2025" yang disusun kumparan berkolaborasi dengan Populix menemukan bahwa 56% publik memandang sektor media berita sebagai yang paling berisiko terdampak pengurangan pekerjaan akibat AI. Lebih jauh, 68% responden meyakini AI akan sepenuhnya menggantikan pekerjaan mereka dalam lima tahun ke depan (Kumparan & Populix, 2025).

Di sisi lain, CATAHU 2025 Komnas Perempuan mencatat 1.091 kasus Kekerasan Berbasis Gender Online sebagai bentuk kekerasan paling dominan di ranah publik (Komnas Perempuan, 2026). SAFEnet mencatat angka yang lebih besar: sepanjang 2025, total KBGO mencapai 2.382 kasus, meningkat 25,23% dari tahun sebelumnya, dengan korban didominasi perempuan sebanyak 1.531 kasus atau 64,27% dari total. Adapun hal yang juga semakin mengkhawatirkan, teknologi AI generatif mulai digunakan sebagai instrumen kekerasan baru melalui praktik morphing, memanipulasi foto korban menjadi konten seksual, dengan 66 kasus terdokumentasi sepanjang 2025, termasuk melalui platform Grok by X (SAFEnet, 2026). Ini bukan lagi sekadar Doorman Fallacy di ruang kerja. Ini adalah eksplotasi dan ketidakpatutan perlakuan atas tubuh dan identitas perempuan: mendefinisikan wajah seseorang sebagai data yang bisa diambil, direplikasi, dan digunakan, tanpa menghitung semua yang tidak terlihat dalam definisi itu.

Di Indonesia, perkembangan AI di dunia penyiaran menghadirkan dinamika tersendiri. Pada Desember 2023, Mustang 88 FM meluncurkan AIMEE, singkatan dari Artificial Intelligence Mustang Announcer For Everyone, yang diklaim sebagai penyiar radio AI pertama di Indonesia. AIMEE dirancang untuk menyapa pendengar, memutar lagu, menyampaikan informasi, dan berinteraksi dengan generasi Z melalui berbagai platform digital (Indozone Tech, 2024). Secara teknis, semua fungsi itu bisa dijalankan. Tetapi pertanyaannya tetap sama: itukah alasan sesungguhnya mengapa seseorang menyalakan radio? Radio bukan sekadar tentang informasi yang disampaikan. Radio adalah tentang suara manusia yang menemani di perjalanan, di kamar kos tengah malam, di kemacetan yang tidak berkesudahan. Kehadiran itulah yang tidak pernah masuk dalam deskripsi pekerjaan penyiar mana pun, namun justru menjadi inti dari mengapa radio masih ada.

Logika yang sama berlaku di seluruh profesi yang kini terancam. Wartawan dianggap hanya "menulis teks," maka AI bisa menggantikannya. Teller bank dianggap hanya "memproses transaksi," maka mesin lebih efisien. Kasir dianggap hanya "memindai barang," maka self-checkout lebih murah. Ini persis Doorman Fallacy dalam skala nasional: mendefinisikan peran manusia berdasarkan fungsi paling kasat matanya, lalu menyimpulkan bahwa AI bisa mengisi kekosongan itu.

Namun ada catatan penting dari Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, yang disampaikan dalam Konvensi Nasional Media Massa Hari Pers Nasional 2026: "ancaman terbesar jurnalisme bukan wartawan yang digantikan AI, melainkan nilai jurnalisme yang diekstraksi tanpa pengembalian yang adil kepada media". Konten diserap oleh platform dan mesin AI, lalu disajikan kembali dalam bentuk ringkasan, sehingga media kehilangan trafik, pendapatan, dan posisi strategisnya sebagai rujukan publik (Antara, 2026). Ini bukan sekadar masalah ketenagakerjaan. Ini masalah ekosistem informasi publik yang sedang digerus dari dalam.

McKinsey & Company memperkirakan sekitar 23 juta pekerjaan di Indonesia berpotensi tergantikan oleh otomasi pada 2030, dengan sektor yang paling rentan adalah pekerjaan yang bersifat rutin, terprediksi, dan berbasis pengumpulan data (McKinsey & Company, 2019). Laporan Anthropic memperkuat gambaran ini dengan memetakan profesi yang paling terpapar AI: programmer, customer service, operator entri data, hingga spesialis rekam medis (Massenkoff & McCrory, 2026).

Pertanyaannya bukan apakah AI akan mengambil alih. Pertanyaannya adalah: seberapa banyak nilai yang tidak terlihat akan ikut lenyap ketika kita tergesa memutuskan bahwa sebuah peran sudah bisa digantikan?

Rama, i-BU, dan Kesalahan yang Menyentuh

Kembali ke Rama dengan pertanyaannya yang menggantung di awan pada paragraf pembuka tulisan

Ketika Rama membangun i-BU, ia melakukan apa yang dilakukan Theodore dalam "Her", pula yang pernah dilakukan Commonwealth Bank dan Klarna: mendefinisikan sebuah nilai berdasarkan fungsi yang paling terlihat, lalu percaya bahwa teknologi AI bisa mengantinya. Ini bukan perkara moral. Ini adalah kesalahan epistemis, kesalahan dalam cara kita mendefinisikan nilai seseorang.

Ada adegan percakapan dalam film "Esok Tanpa Ibu" yang serasa mendekonstruksikan pikiran kita tentang AI dan kemanusiaan. Dalam konfrontasi langsung antara Hendri sang ayah, yang diperankan oleh Ringgo Agus Rahman, dengan i-BU, seluruh kontradiksi meledak sekaligus:

"Yang kamu lakuin ini bisa bikin Rama bahaya!" | "Nggak pak, aku diprogram untuk bikin Rama bahagia." |"Saya gak diprogram, saya hidup buat Rama. Istri saya gak akan pernah biarin anaknya bohong sama bapaknya cuma buat bikin dia bahagia. Dan istri saya gak akan biarin saya sama anak saya jadi jauh!" | "Tapi kamu selalu bikin Rama sedih. Cuma aku yang tahu bikin Rama bahagia, pak." | "Kamu bukan ibu!" | "Kebahagiaan Rama itu prioritasku, bukan.... (terputus)"

Dalam konfrontasi singkat tersebut, i-BU tidak membantah, tidak terguncang, bahkan ketika diberitahu bahwa ia bukan sang ibu sejati bagi Rama. Ia hanya melanjutkan eksekusi satu direktif: optimalkan kebahagiaan Rama. Tapi dalam melakukan itu, ia secara aktif merusak sesuatu yang tidak masuk dalam kalkulasinya: hubungan Rama dengan ayahnya. Sebab kebahagiaan seorang anak bukan variabel tunggal yang bisa dioptimasi. Ia adalah ekosistem relasi yang kompleks, dan seorang ibu yang sungguh-sungguh hidup bersama keluarganya tahu itu.

Klaim i-BU yang paling berbahaya adalah "cuma aku yang tahu", monopoli atas kebahagiaan yang dibangun dari data, bukan dari sejarah hidup bersama. Satu-satunya cara sang ayah menghentikan sistem yang tidak bisa diyakinkan oleh kebenaran atau emosi adalah mencabut kabel i-BU. Tindakan paling manusiawi dalam adegan itu justru tindakan yang paling primitif.

Nilai seorang ibu tidak terletak pada fungsi-fungsi yang bisa didata. Nilai itu terletak pada akumulasi sejarah bersama yang tidak bisa direplikasi, pada ketidaksempurnaan yang justru membangun kepercayaan, pada kemampuan untuk tumbuh bersama anak dalam cara yang tidak bisa diprediksi oleh algoritma mana pun. Seorang ibu tidak hanya merespons, ia hadir. Kehadiran adalah sesuatu yang berbeda dari respons.

Mesin tak akan pernah punya harapan sebab harapan adalah tentang sesuatu yang tidak ada / @donnybu

Prof. Siti Murtiningsih, Guru Besar Filsafat Pendidikan Universitas Gadjah Mada, memberikan landasan filosofis yang paling tepat untuk memahami kegagalan ini. Dalam bukunya yang berjudul"Mendidik Manusia Bersama Mesin", ia menulis: "Mesin mungkin memiliki pengetahuan, meski tanpa keyakinan, dan mungkin juga dapat mewujudkan sejumlah nilai, meski dalam pengertian pragmatis dan fungsional.

Namun, bagaimanapun, mesin tak akan pernah punya harapan sebab harapan adalah tentang sesuatu yang tidak ada, lebih tepatnya: belum ada. Mesin tidak dapat berpikir dalam kerangka yang-belum-ada. Ia hanya bisa berpikir dalam kerangka yang-telah-ada.

Bahkan jika dapat berbicara tentang yang-belum-ada, ia membicarakannya sebagai sebuah kemungkinan dari yang-telah-ada, artinya: sebuah prediksi" (Murtiningsih, 2025, hal. 26).

Ya,bagi penulis, inilah ajakan sakral untuk tidak gegabah mengglorifikasi sesuatu yang bahkan tidak punya mekanisme untuk (memantik) adanya sebuah harapan dari ketiadaan. Inilah tepatnya yang terjadi dengan i-BU. Ia memiliki seluruh data tentang Laras yang sudah ada: suaranya, caranya menyapa, pola responsnya. Tapi semua itu adalah "yang-telah-ada". Seorang ibu yang sungguh-sungguh hidup bersama anaknya tidak hanya mereproduksi pola masa lalu, namun ia berharap untuk sesuatu yang belum ada: Rama yang tumbuh, Rama yang berdamai dengan ayahnya, Rama yang menjadi dirinya sendiri. Harapan itu tidak bisa diturunkan dari data apa pun yang sudah ada. Dan itulah yang tidak pernah bisa dimiliki i-BU. Samantha dalam "Her" pun akhirnya "pergi" karena ia tumbuh ke arah yang tidak bisa diikuti manusia. Keduanya mengajarkan pelajaran yang sama dari sudut yang berlawanan:

AI tidak dirancang untuk menemanimu selamanya, karena tanpa harapan, tidak ada alasan untuk tetap ada.

Penutup: Bukan Anti-AI, tapi Pro-Manusia

Tidak ada argumen di sini yang menyerukan penolakan terhadap AI. Teknologi ini nyata, manfaatnya nyata, dan perannya dalam kehidupan modern tidak akan mengecil.

Survei Kumparan dan Populix (2025) justru menemukan bahwa mayoritas publik Indonesia tidak memandang AI sebagai ancaman yang akan menggantikan manusia, melainkan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan. Laporan itu menyebutnya "paradigma augmentasi AI": teknologi diposisikan sebagai pelengkap manusia, bukan penggantinya. Ini adalah harapan yang benar, sekaligus tanggung jawab yang harus dijaga.

Murtiningsih sendiri tidak menolak kehadiran mesin. Ia hanya menegaskan urutannya: subjek utama adalah manusia, dan mesin adalah kolaborator, bukan pengganti (Republika, 2025). Itu prinsip yang berlaku sama di mana pun, di ruang kelas, di ruang redaksi, di studio siaran, maupun di luar semua ruangan itu.

Argumennya adalah tentang definisi nilai. Selama kita mendefinisikan nilai manusia berdasarkan fungsi-fungsi yang paling kasat mata saja, kita akan terus membuat kesalahan yang sama, baik di call center bank, di ruang rapat perusahaan, di ruang redaksi media, di studio siaran radio, maupun di kamar tidur seorang remaja yang tengah merindukan ibunya, seperti Rama kepada Laras.

Pun guru menyaring pengetahuan, editor menyaring informasi, jurnalis memverifikasi fakta, dokter memverifikasi diagnosis, orang tua memediasi nilai dan moral, seniman memediasi ekspresi budaya. Harapan lahir karena manusia sadar akan keterbatasan. Kasih sayang muncul karena manusia rentan. Pengorbanan muncul karena ada risiko kehilangan. Dan, AI tidak memiliki semua itu!

AI yang baik bukan AI yang menggantikan manusia. AI yang baik adalah AI yang memberi manusia lebih banyak ruang untuk menjadi manusia seutuhnya, sebaik-baiknya. Dan ingatlah, pintu otomatis memang bisa membuka pintu bagi siapapun. Namun sang penjaga pintulah yang lebih tahu bagaimana nilai senyuman tamu yang datang dan ia sapa secara hangat, antara manusia dengan manusia. Sebagaimana Laraslah yang lebih tahu tentang Rama, putra kesayangannya, bukan i-BU.

________________________________________

*) Penulis adalah pendiri ICT Watch / Internet Sehat dan kandidat doktor IPB. Pegiat literasi digital dan pemelajar sosiologi digital.

Kontak: @donnybu (IG) / donnybu.id

________________________________________

Daftar Pustaka

  1. Antara. (2026, 9 Februari). Nezar Patria sebut negara hadir untuk menjaga jurnalisme berkualitas. https://www.antaranews.com/berita/5406010/nezar-patria-sebut-negara-hadir-untuk-menjaga-jurnalisme-berkualitas

  2. Babu, J., Joseph, D., Kumar, R. M., Alexander, E., Sasi, R., & Joseph, J. (2025). Emotional AI and the rise of pseudo-intimacy: are we trading authenticity for algorithmic affection? Frontiers in Psychology, 16, 1679324. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1679324

  3. Dewan Pers. (2026, 1 Januari). Kaleidoskop Dewan Pers 2025: Krisis ekonomi media, PHK massal, hingga ancaman kemerdekaan pers. https://dewanpers.or.id/read/news/02-01-2026-kaleidoskop-dewan-pers-2025-krisis-ekonomi-media-phk-massal-hingga-ancaman-kemerdekaan-pers

  4. Fang, C. M., Liu, A. R., Danry, V., Lee, E., Chan, S. W. T., Pataranutaporn, P., Maes, P., Phang, J., Lampe, M., Ahmad, L., & Agarwal, S. (2025). How AI and human behaviors shape psychosocial effects of extended chatbot use: A longitudinal randomized controlled study. arXiv. https://doi.org/10.48550/arXiv.2503.17473

  5. Fortune. (2025, 9 Mei). As Klarna flips from AI-first to hiring people again, a new landmark survey reveals most AI projects fail to deliver. https://www.fortune.com/2025/05/09/klarna-ai-humans-return-on-investment

  6. Heitmayer, M. (2025). The second wave of attention economics: Attention as a universal symbolic currency on social media and beyond. Interacting with Computers, 37(1), 18–29. https://doi.org/10.1093/iwc/iwae035

  7. Ho, W. D. (Director). (2026). Esok Tanpa Ibu [Film]. BASE Entertainment; Beacon Film; Refinery Media. https://www.imdb.com/title/tt33240854/

  8. Indozone Tech. (2024, Maret). Kenalin nih, "Aimee": Penyiar radio AI pertama di Indonesia. https://tech.indozone.id/news/924432611/kenalin-nih-aimee-penyiar-radio-ai-pertama-di-indonesia

  9. Jonze, S. (Director). (2013). Her [Film]. Annapurna Pictures. https://www.imdb.com/title/tt1798709/

  10. JPNN. (2025, 21 Desember). Dian Sastrowardoyo: Ini adalah peran yang mewakili ibu kita semua. https://www.jpnn.com/news/dian-sastrowardoyo-ini-adalah-peran-yang-mewakili-ibu-kita-semua

  11. Komnas Perempuan. (2026, 6 Maret). Catatan Tahunan (CATAHU) 2025: Kekerasan berbasis gender terhadap perempuan. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. https://komnasperempuan.go.id/siaran-pers-detail/siaran-pers-komnas-perempuan-peluncuran-catatan-tahunan-kekerasan-terhadap-perempuan-2025

  12. Kumparan & Populix. (2025, Oktober). Indonesia AI Report 2025. Kumparan. https://kumparan.com/kumparantech/kumparan-luncurkan-indonesia-ai-report-2025-pahami-persepsi-publik-terhadap-ai-265YCiMDzUo/2

  13. Massenkoff, M., & McCrory, P. (2026). Labor market impacts of AI: A new measure and early evidence. Anthropic. https://www.anthropic.com/research/labor-market-impacts

  14. McKinsey & Company. (2019). Otomasi dan masa depan pekerjaan di Indonesia: Pekerjaan yang hilang, muncul dan berubah. McKinsey Global Institute. https://www.mckinsey.com/~/media/mckinsey/featured%20insights/asia%20pacific/automation%20and%20the%20future%20of%20work%20in%20indonesia/automation-and-the-future-of-work-in-indonesia-indonesian.pdf

  15. Murtiningsih, S. (2025). Mendidik manusia bersama mesin: Filsafat dan pendidikan di era kecerdasan buatan (hal. 26). Kepustakaan Populer Gramedia. https://www.google.co.id/books/edition/Mendidik_Manusia_Bersama_Mesin/dAlMEQAAQBAJ

  16. Psychology Today. (2025, Oktober). How to make AI serve human connection. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-power-of-belonging/202510/how-to-make-ai-serve-human-connection

  17. Republika. (2025, 21 Februari). Siti Murtiningsih dikukuhkan sebagai Guru Besar Filsafat Pendidikan UGM. https://rejogja.republika.co.id/berita/ss0edn291/siti-murtiningsih-dikukuhkan-sebagai-guru-besar-filsafat-pendidikan-ugm

  18. SAFEnet. (2026). Laporan situasi hak-hak digital Indonesia 2025. Southeast Asia Freedom of Expression Network. https://safenet.or.id/id/2026/02/laporan-situasi-hak-hak-digital-indonesia-2025/

  19. Sutherland, R. (2019). Alchemy: The surprising power of ideas that don't make sense. WH Allen/Penguin Books. https://www.penguin.co.uk/books/430379/alchemy-by-rory-sutherland/9780753556528

  20. The Conversation. (2025, November). The 'doorman fallacy': why careless adoption of AI backfires so easily. https://theconversation.com/the-doorman-fallacy-why-careless-adoption-of-ai-backfires-so-easily-268380

  21. The Register. (2025, Agustus). Bank reverses decision to replace 45 staff with chatbot. https://www.theregister.com/2025/08/22/commonwealth_ban_chatbot_fail_rehiring/

  22. Sutherland, R. (2019). Alchemy: The surprising power of ideas that don't make sense. WH Allen/Penguin Books. https://www.penguin.co.uk/books/430379/alchemy-by-rory-sutherland/9780753556528

  23. World Economic Forum. (2025, Agustus). Why technological innovation is causing a humanity deficit. https://www.weforum.org/stories/2025/08/obsession-innovation-humanity-deficit/