Konten dari Pengguna

Internet Darurat Bermakna untuk Rintisan Pemulihan Sosial Desa di Aceh Tamiang

Literasi Digital Indonesia

Literasi Digital Indonesia

https://kumparan.com/literasidigital-indonesia

·waktu baca 20 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Literasi Digital Indonesia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Studi Kasus: Relawan Aceh Tangguh di Desa Tanjung Gelumpang, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Desember 2025)

Penulis: Donny Utoyo*

-

Tulisan ini merefleksikan peran telekomunikasi darurat sebagai infrastruktur kehidupan dalam konteks kebencanaan, dengan memadukan kajian teoretik dan pengalaman lapangan Relawan Aceh Tangguh (RAT) pascabanjir di Kabupaten Aceh Tamiang, khususnya di Gampong (Desa) Tanjung Gelumpang, Kec. Sekerak, Kab. Aceh Tamiang. Jalan darat ke wilayah tersebut terisolir total karena terkena longsor, aliran listrik padam dan sinyal seluler hilang sejak terjadinya bencana banjir bandang di Sumatera pada Rabu (26/11/2025). Setelah terputus dari dunia luar selama dua pekan, pada Kamis (11/12/2025) Relawan Aceh Tangguh (RAT) berhasil menembus keterisolasian yang ada di wilayah tersebut dan melakukan aktivitas kerelawanan selama sekitar dua pekan hingga Jumat (30/12/2025).

Berangkat dari pemahaman bahwa terputusnya komunikasi sering kali menjadi krisis pertama yang melumpuhkan respons bencana, artikel ini juga mengulas bagaimana kaitan antara relawan, warga terdampak dan teknologi komunikasi darurat dapat dapat difungsikan sebagai pemutus keterisolasian suatu wilayah terdampak bencana, sekaligus sebagai upaya menghadirkan Internet darurat yang bermakna, bukan sekadar koneksi teknis, sekaligus menyingkap tantangan mendasar berupa ketergantungan pada sumber daya energi listrik dan mengelola pemanfaatannya oleh warga desa terdampak bencana.

Pengiriman Starlink dan Genset oleh tim Relawan TIK dan AirPutih menggunakan gondola sling, Kamis (4/12/2025) di lokasi putusnya jembatan Teupin Mane untuk Gampong Krueng Simpo, Kec. Juli, Kab. Biruen. (Foto: RAT/dbu).

Lebih jauh, tulisan ini menempatkan telekomunikasi atau Internet darurat bukan semata sebagai persoalan teknis, melainkan sebagai praktik sosial yang memerlukan tata kelola berbasis komunitas, ruang publik yang berlegitimasi sosial, serta kesepakatan bersama agar konektivitas telekomunikasi atau Internet darurat yang hadir benar-benar mendukung rintisan proses pulih bersama yang bermakna.

-

I. Telekomunikasi Darurat Penunjang Infrastruktur Kehidupan

Keberlanjutan komunikasi adakah krisis pertama dalam bencana yang lantas menempatkan telekomunikasi darurat sebagai infrastruktur penopang kehidupan. Dengan merujuk pada sejumlah literatur kebencanaan dan pengalaman RAT di lapangan , runtuhnya jaringan komunikasi bukan sekadar gangguan teknis belaka, melainkan pemutus alur informasi, koordinasi, dan ikhtiar keselamatan. Ketika komunikasi terhenti, layanan kesehatan, logistik, dan respons sosial kehilangan fondasinya. Oleh karenanya,menghadirkan kembali konektivitas telekomunikasi dan/atau Internet menjadi prasyarat utama bagi seluruh upaya penanganan bencana.

Krisis Pertama Bencana

Dalam banyak peristiwa bencana, kerusakan fisik sering kali menjadi fokus utama perhatian publik: rumah ambrug, sekolah rubuh, jalan terputus, jembatan amblas. Namun, literatur kebencanaan menunjukkan bahwa krisis pertama yang benar-benar melumpuhkan kehidupan masyarakat adalah terputusnya komunikasi. Ketika jaringan seluler dan Internet tidak lagi berfungsi, masyarakat kehilangan bukan hanya sinyal, tetapi juga akses pada informasi, koordinasi, dan rasa terhubung dengan dunia luar.

Patricelli dan kolega dalam kajiannya tentang manajemen bencana menegaskan bahwa telekomunikasi merupakan lifeline infrastructure, infrastruktur penopang kehidupan, yang menentukan efektivitas seluruh respons kebencanaan lainnya, mulai dari layanan kesehatan hingga distribusi bantuan (Patricelli et al., 2009). Tanpa komunikasi yang berfungsi, sistem respons cenderung berjalan lambat, terfragmentasi, dan rawan kesalahan pengambilan keputusan.

Pengalaman lapangan RAT memperlihatkan hal ini secara nyata. Ketika banjir merendam sejumlah wilayah di Aceh dan memutus akses transportasi darat, jaringan seluler pum ikut lumpuh. Warga tidak hanya terisolasi secara geografis, tetapi juga terputus secara informasional. Dalam situasi ini, kebutuhan paling mendesak bukan hanya pangan atau air bersih, melainkan kepastian bahwa mereka masih bisa berkomunikasi dan diketahui keberadaannya.

Kerentanan Sistem Modern

Sebagian besar sistem komunikasi modern memang bertumpu pada infrastruktur terestrial: menara BTS (base transceiver station), kabel serat optik, dan pasokan listrik yang stabil. Dalam konteks kajian komunikasi darurat, ketergantungan tersebut justru menjadi titik terlemah saat bencana. Pada fase awal bencana, layanan jaringan seluler dan Internet kerap mengalami gangguan serius akibat kombinasi kerusakan fisik infrastruktur serta terganggunya pasokan energi listrik yang menopang sistem telekomunikasi tersebut.

Studi dalam jurnal Disasters menegaskan bahwa kerusakan elemen jaringan dan ketergantungan pada infrastruktur pendukung menjadikan sistem komunikasi sangat rentan pada tahap awal bencana (Patricelli et al., 2009). Sementara itu, kajian pada jurnal Remote Sensing, menyoroti keterbatasan jaringan komunikasi konvensional dalam menghadapi dampak bencana dan perlunya solusi alternatif ketika jaringan utama tidak dapat beroperasi secara normal (Wang et al., 2023).

Warga menggunakan akses Internet darurat di pelataran depan Masjid Tanjung Gelumpang untuk berkirim kabar kepada sanak saudara dan juga mendapatkan informasi yang dibutuhkan, Selasa (23/12/2025). Foto: (RAT/dbu).

Temuan tersebut diperkuat oleh studi tentang jaringan komunikasi darurat berbasis satelit yang menunjukkan bahwa gangguan pada jaringan terestrial, baik akibat kerusakan fisik maupun keterbatasan energi listrik, menjadi salah satu alasan utama perlu dikembangkannya arsitektur komunikasi darurat yang lebih tangguh dan independen dari infrastruktur eksisting (Shehab et al., 2024).

WHO melalui kajian komunikasi kedaruratan di sektor kesehatan bahkan menegaskan bahwa komunikasi, termasuk satelit, merupakan komponen penting dalam kesiapsiagaan dan respons bencana yang dapat berkontribusi pada keselamatan jiwa dan efektivitas koordinasi layanan kesehatan darurat (Beauchemin et al., 2025).

Dalam situasi ini, layanan komunikasi darurat berbasis satelit, melalui Starlink yang dilengkapi dengan layanan gratis yang disediakan khusus respon bencana, digunakan sebagai solusi sementara untuk memulihkan konektivitas dasar yang tidak bergantung pada jaringan terestrial yang rusak. Namun, pengalaman RAT juga menunjukkan bahwa ketahanan komunikasi satelit tetap sangat bergantung pada ketersediaan energi listrik, sehingga aspek pengelolaan sumber daya energi menjadi bagian tak terpisahkan dari praktik telekomunikasi darurat di lapangan.

Kondisi di Desa Tanjung Gelumpang, dalam kondisi listrik PLN padam, sinyal seluler menghilang dan akses jalan darat terputus total, berakibat relawan (kesehatan) kesulitan berkomunikasi dengan fasilitas rujukan, sementara warga tidak dapat mengabarkan kondisi keluarganya. Pendataan kebutuhan warga terdampak vs pasokan bantuan yang didatangkan juga rentan karut-marut. Dalam konteks ini, krisis kemanusiaan dapat kian parah terjadi.

Rintisan Konektivitas Kedaruratan

Literatur kebencanaan kontemporer menempatkan telekomunikasi darurat sebagai prasyarat lintas sektor, bukan subsektor tersendiri.

Wang et al. (2023) menempatkan komunikasi darurat sebagai prasyarat operasional bagi respons bencana, di mana kegagalan jaringan komunikasi konvensional dapat menghambat koordinasi kegiatan penyelamatan dan bantuan darurat, sehingga mendorong kebutuhan akan jaringan komunikasi alternatif. Dalam kerangka ini, komunikasi berfungsi sebagai infrastruktur pendukung yang memungkinkan berbagai layanan respons bencana berjalan secara efektif.

Perangkat Starlink donasi SpaceX via Wamen Komdigi Nezar Patria dipasang di halaman depan Masjid Tanjung Gelumpang, Senin, (22/12/2025). Alternatif sumber listrik selain genset, dengan BBM didukung oleh ID-NOG, adalah panel surya dan baterai donasi dari Portkesmas. (Foto: RAT/dbu).

Pendekatan ini sejalan dengan temuan Marshall et al. (2023) yang menunjukkan bahwa ketahanan komunitas pascabencana berkaitan erat dengan praktik komunikasi dan pertukaran informasi yang tertanam dalam relasi sosial dan kapasitas digital masyarakat, baik melalui mekanisme formal maupun informal. Dalam kerangka ini, komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana koordinasi teknis, tetapi juga sebagai elemen penting dalam menjaga kohesi dan ketahanan sosial.

Pengalaman RAT memperlihatkan bagaimana teori ini bekerja di lapangan. Pada fase awal masuk ke wilayah terisolasi, prioritas relawan bukan sebatas membuka dapur umum atau distribusi logistik, tetapi sejatinya menghadirkan kembali rintisan konektivitas berbasis Internet (darurat).

Infrastruktur Teknis Kehidupan

Refleksi dari rujukan ilmiah dan praktik lapangan menunjukkan bahwa telekomunikasi atau Internet darurat tidak boleh dipahami semata-mata sebagai urusan teknis atau teknologi belaka. Ia adalah infrastruktur kehidupan yang menopang keseluruhan ekosistem respons bencana. Ketika komunikasi hadir, layanan lain dapat menyusul, yang setara dengan premis bahwa ketika komunikasi absen, intervensi lain sering kali berjalan tanpa arah yang jelas.

Sejatinya dalam konteks di Desa Tanjung Gelumpang, kehadiran Internet darurat menjadi jembatan antara keterisolasian dan proses pulih awal, sebentuk Internet darurat yang bermakna, karena langsung menyentuh keselamatan, martabat dan rasa terhubung warga. Bagi relawan, komunikasi memungkinkan koordinasi dan keselamatan kerja. Bagi tenaga kesehatan, komunikasi membuka jalur rujukan dan konsultasi. Bagi warga, komunikasi mengembalikan rasa terhubung, mengurangi kecemasan, dan menjaga martabat sebagai manusia yang tidak ditinggalkan (leave behind).

Dengan demikian, telekomunikasi / Internet darurat harus diposisikan sebagai kebutuhan dasar dalam tata kelola penanganan bencana, setara dengan pangan, air bersih, dan layanan kesehatan. Dalam konteks ini, teknologi telekomunikasi berperan bukan sebagai solusi akhir, melainkan sebagai rintisan infrastruktur komunikasi yang membuka jalan bagi respons lanjutan yang tak kalah krusial dan mendesak.

-

II. Solusi Teknologi dan Tantangan Energi Listrik

Tak dapat dipungkiri, telekomunikasi berbasis satelit dapat menjadi sebentuk konkret teknologi krusial dalam penanganan kedaruratan. Teknologi tersebut hendaknya tak dilihat sebagai solusi tunggal yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari sistem yang sangat bergantung pada ketersediaan energi dan kondisi lingkungan. Melalui refleksi RAT, maka senyatanya adanya keterikatan struktural antara keberlangsungan, kualitas, dan reliabilitas konektivitas darurat dengan pasokan energi listrik darurat yang tersedia.

Dari Cadangan ke Esensial

Dalam literatur kebencanaan mutakhir, layanan satelit, khususnya satelit orbit rendah (Low Earth Orbit/LEO), semakin dipandang sebagai komponen penting dalam arsitektur komunikasi darurat. Kajian terbaru menunjukkan bahwa solusi berbasis LEO dikembangkan untuk menjawab keterbatasan jaringan komunikasi terestrial yang kerap rusak atau tidak tersedia saat bencana, dengan menawarkan keunggulan seperti kemampuan penempatan yang relatif cepat, fleksibilitas operasional, serta kemandirian dari infrastruktur lokal yang terdampak (Shehab et al., 2024; Wang et al., 2023).

Dalam konteks inilah Starlink dapat difungsikan sebagai bentuk konkret telekomunikasi darurat. Bagi RAT, Starlink bukanlah solusi abstrak, melainkan alat kerja lapangan yang memungkinkan respons cepat ketika jaringan seluler dan Internet terestrial benar-benar lumpuh.

Pengalaman RAT Desa Tanjung Gelumpang, juga di Lues Gayo dan Krueng Simpo, menunjukkan bahwa seketika perangkat Starlink aktif, isolasi telekomunikasi dapat dipatahkan dalam hitungan menit. Informasi dari dan ke dalam wilayah terdampak, yang sebelumnya terputus, kembali mengalir, memungkinkan penilaian situasi yang lebih akurat dan pengambilan keputusan yang lebih tepat.

Fungsi Starlink di Lapangan

Berdasarkan refleksi operasional RAT, Starlink menjalankan setidaknya tiga (3) fungsi utama, yang acap kali saling melengkapi.

  1. Pertama, keperluan operasi rintisan. Pada fase awal, Starlink digunakan oleh tim relawan yang masuk ke wilayah terisolasi untuk mengirimkan kabar pertama dari dalam lokasi bencana. Fungsi ini sangat krusial karena informasi awal mengenai kondisi lapangan, akses, jumlah warga terdampak, dan kebutuhan paling mendesak menjadi dasar bagi pengambilan keputusanm mobilisasi bantuan lanjutan dan menentukan efektivitas respons berikutnya (Patricelli et al., 2009).

  2. Kedua, keperluan posko relawan. Starlink menjadi tulang punggung koordinasi posko: komunikasi antar relawan, manajemen logistik, pelaporan rutin, hingga konsultasi kedaruratan, terutama dalam konteks kesehatan. WHO menegaskan bahwa dalam situasi darurat kesehatan, komunikasi yang andal merupakan komponen kritikal respons yang memungkinkan koordinasi layanan dan pengambilan keputusan yang tepat waktu (Beauchemin et al., 2025).

  3. Ketiga, keperluan psikososial masyarakat. Di luar fungsi operasional, Starlink juga dibuka secara terbatas untuk warga. Bagi masyarakat terdampak, akses internet darurat membuka ruang untuk mempertahankan konektivitas sosial dan memperoleh informasi di tengah krisis. Kemampuan komunitas untuk tetap terhubung dan bertukar informasi, baik melalui mekanisme formal maupun informal, berkontribusi pada ketahanan sosial serta mendukung proses pemulihan sosial pada fase awal pascabencana (Marshall et al., 2023).

Salah satu jenis portable power station dengan portable solar panel yang digunakan oleh tim RAT untuk menghidupkan perangkat Starlink di Desa Tanjung Gelumpang. Foto: (RAT/dbu).

Mekanisme Kopling

Meskipun unggul dari sisi konektivitas, Starlink menghadapi tantangan utama yang juga disorot secara konsisten dalam sejumlah rujukan. Keberlangsungan komunikasi darurat, termasuk yang berbasis satelit, sangat dipengaruhi oleh ketersediaan infrastruktur pendukung, terutama pasokan energi listrik. Dalam konteks bencana, gangguan atau ketiadaan energi listrik kerap membatasi efektivitas sistem komunikasi meskipun teknologi komunikasi alternatif telah tersedia (Patricelli et al., 2009; Shehab et al., 2024).

Pengalaman RAT mengonfirmasi temuan ini. Di wilayah pascabencana, listrik PLN belum pulih. Dalam kondisi tersebut, ada dua (2) pilihan utama sumber energi listrik darurat:

  1. Genset berbahan bakar bensin. Genset relatif andal dan dapat menyuplai daya secara konsisten. Namun, ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) menjadikannya rentan terhadap kendala logistik. Distribusi BBM ke wilayah terisolasi tidak selalu mudah didapatkan, harga pun dapat melambung di atas harga pasar karena kelangkaannya, berakibat biaya operasionalnya sangat tinggi. Selain itu, penggunaan genset terus-menerus menimbulkan persoalan kebisingan dan emisi.

  2. Sistem panel surya dengan baterai. Panel surya menawarkan solusi yang lebih berkelanjutan dan mandiri, sejalan dengan rekomendasi literatur tentang resilient and sustainable emergency communication systems. Namun, sistem ini tidak berdiri sendiri. Ia membutuhkan baterai penyimpan daya, inverter, dan manajemen beban yang cermat. Selain itu, kinerjanya sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Pada musim hujan atau cuaca ekstrem, curah sinar matahari sebagai pasokan energi yang utama dapat menurun drastis.

Dalam praktik RAT, pilihan sumber energi listrik sering kali bersifat hibrida: genset digunakan sebagai penopang utama pada fase awal, sementara panel surya dioptimalkan untuk keberlanjutan layanan dalam jangka lebih panjang. Pun, genset dapat digunakan (sementara) pada saat malam untuk menghidupkan Starlink dan sekaligus mengisi baterai, sedangkan panel surya dapat menggantikan peran yang sama dikala siang dengan syarat ada kecukupan sinar matahari.

Energi listrik dari panel surya di siang hari dapat disimpan pula ke dalam baterai, sehingga menjadi cadangan krusial ketika keesokan harinya cuaca mendung atau hujan sehingga panel surya tidak dapat optimal, atapun ketika genset mendadak rusak atau kehabisan BBM di malam harinya. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip yang menekankan pentingnya keberimbangan pemanfaatan energi listrik dalam sistem komunikasi darurat, atau penulis sebut dengan istilah coupling mechanism (mekanisme kopling).

Contoh SOP Penggunaan Starlink oleh Relawan Aceh Tangguh. Angka penghitungan relatif dan realisasi di lapangan bervariasi, tergantung kondisi cuaca, kualitas baterai dan pemakaian daya listrik untuk keperluan perangkat lain, semisal ponsel, lampu, dan lainnya. Gambar: (AI/RAT/dbu).

Sejumlah rujukan ilmiah menunjukkan adanya keterkaitan struktural antara ketersediaan energi listrik dan keberlangsungan sistem komunikasi, di mana keterbatasan daya secara langsung berdampak pada menurunnya reliabilitas hingga terhentinya layanan komunikasi (Goldsmith, 2012). Dalam konteks bencana, kondisi ini menjadi semakin krusial ketika pasokan energi terganggu, sehingga sistem komunikasi tidak dapat berfungsi secara optimal meskipun perangkat fisik masih tersedia (ITU, Handbook on Emergency Telecommunications).

Selain energi, faktor lingkungan juga memengaruhi stabilitas layanan Starlink. Hujan lebat, tutupan awan tebal, dan angin kencang dapat berdampak pada kualitas koneksi satelit. Studi tentang ketahanan jaringan komunikasi darurat menunjukkan bahwa kondisi cuaca ekstrem merupakan variabel penting yang harus diperhitungkan dalam perancangan sistem komunikasi darurat berbasis satelit (Wang et al., 2023).

Pengalaman RAT juga menunjukkan bahwa mitigasi terhadap faktor ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga operasional: penempatan perangkat yang aman, perlindungan fisik terhadap penampang (dish) dan kabel, serta pengaturan waktu penggunaan layanan agar selaras dengan kondisi energi dan cuaca.

Bukan Solusi Tunggal

Refleksi dari teori dan praktik menegaskan satu hal penting: Starlink bukan solusi tunggal yang cespleng dan dijamin manjur. Betul, ia adalah komponen penting dalam sistem telekomunikasi darurat, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada integrasi dengan sumber energi listrik, logistik, sumber daya manusia, dan tata kelola penggunaan.

Bagi RAT, Starlink berfungsi sebagai enabler, pembuka jalan bagi koordinasi, layanan kesehatan, dan pemulihan sosial. Namun, keberhasilan di lapangan justru ditentukan oleh kesadaran akan keterbatasannya dan kemampuan untuk mengelolanya secara adaptif.

Wamen Komdigi Nezar Patria (bertopi) mendengarkan update kondisi terkini di Aceh Tamiang dari Tim RAT yang diwakili oleh M. Yulvan dan Fakrullah Maulana, usai makan siang sederhana di dapur umum RSUD Aceh Tamiang yang dikelola oleh Nurjannah Husein dari Yayasan Darah untuk Aceh yang juga tergabung dalam RAT, Rabu (24/12/2025. Foto: (RAT/dbu).

Dengan demikian, sebagaimana ditegaskan oleh rujukan ilmiah dan dibuktikan oleh pengalaman RAT, teknologi satelit Starlink dalam bencana harus dipahami sebagai bagian dari ekosistem respons, bukan sebagai solusi berdiri sendiri. Pendekatan inilah yang memungkinkan telekomunikasi darurat benar-benar berfungsi sebagai infrastruktur kehidupan di tengah krisis.

-

III. Dari Sinyal Digital ke Ruang Sosial

Sejatinya, dalam konteks telekomunikasi darurat, aspek teknologi perlu juga diimbangi dengan dimensi sosialnya. Berdasarkan pengalaman RAT, konektivitas darurat dipahami sebagai praktik sosial yang memerlukan tata kelola berbasis komunitas, ruang publik yang dipercaya, serta kesepakatan bersama dalam menghadapi keterbatasan energi dan bandwidth. Ketika Internet darurat dikelola secara partisipatif, dengan relawan berperan sebagai fasilitator, bukan pengontrol, telekomunikasi dapat bertransformasi menjadi ruang pemulihan sosial yang memperkuat ketahanan komunitas pascabencana, sekaligus ruang tempat warga perlahan pulih secara sosial dan emosional.

Peran Ruang Publik

Sebagian besar literatur teknik memandang telekomunikasi darurat sebagai persoalan jaringan, spektrum, dan bandwidth. Namun, kajian kebencanaan sosial menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi darurat tidak ditentukan oleh sinyal semata, melainkan oleh bagaimana teknologi tersebut diintegrasikan ke dalam kehidupan sosial masyarakat terdampak. Marshall et al. (2023) menekankan bahwa ketahanan komunitas pascabencana sangat dipengaruhi oleh social capital, kepercayaan, norma bersama, dan ruang interaksi, yang memungkinkan teknologi dimanfaatkan secara adil dan bermakna.

Pengalaman RAT memperlihatkan dengan jelas bahwa ketika Internet darurat hadir tanpa tata kelola sosial yang tepat, ia berpotensi menimbulkan masalah baru: ketimpangan akses, penggunaan berkelanjutan yang tidak produktif, hingga pemborosan sumber daya energi listrik yang sangat terbatas. Karena itu, telekomunikasi darurat harus dipahami sebagai praktik sosial, bukan sekadar intervensi teknis.

Salah satu pelajaran paling penting dari lapangan adalah pemilihan lokasi. RAT secara konsisten menempatkan layanan telekomunikasi darurat di ruang publik yang aman, masih layak, terbuka, dan memiliki legitimasi sosial, seperti:

  • pelataran tempat ibadah warga (contoh: masjid / mushalla, gereja, pura, vihara, kelenteng)

  • pendopo kecamatan / kabupaten / kota, balai desa atau gedung pemerintah,

  • gedung olahraga, aula sekolah, barak pengungsian atau hunian sementara (huntara)

Dalam konteks ketahanan komunitas, ruang-ruang publik semacam ini kerap dipahami sebagai titik tumpu sosial atau community anchors, yakni simpul kehidupan bersama yang tetap berfungsi sebagai ruang interaksi, koordinasi, dan pemulihan sosial bahkan ketika infrastruktur lain runtuh.

Penempatan Starlink di Masjid Tanjung Gelumpang, misalnya, memungkinkan warga dari berbagai kelompok usia dan latar belakang mengakses layanan secara bergiliran, sekaligus berada dalam ruang yang relatif aman dan diawasi secara sosial.

Warga berkumpul di pelataran depan Masjid Tanjung Geuumpang setelah jam shalat Isya, untuk menumpang charge ponsel mereka dari listrik genset sekaligus menggunakan layanan Internet darurat yang disediakan, Minggu (28/12/2025). Foto: (RAT/dbu).

Pendekatan ini sejalan dengan literatur ketahanan berbasis komunitas yang menekankan pentingnya konteks tempat (place) serta peran ruang-ruang publik yang bermakna dan dipercaya dalam menopang relasi sosial dan proses pemulihan pascabencana. Dalam kerangka ini, ketahanan dipahami sebagai sesuatu yang terbangun secara lokal dan tertanam dalam ruang interaksi sosial masyarakat (Marshall et al., 2023).

Internet dan Dimensi Kemanusiaan

Dalam praktik RAT, Internet darurat dibuka bukan hanya untuk keperluan operasional relawan, tetapi juga untuk kebutuhan masyarakat terdampak. Kebutuhan ini mencakup:

  • mempertahankan konektivitas dengan keluarga dan kerabat di luar wilayah bencana,

  • memperoleh informasi yang relevan dan dapat dipercaya mengenai kondisi serta penanganan darurat, serta,

  • mengakses hiburan ringan yang berfungsi sebagai penyangga psikologis sementara di tengah situasi krisis, berdasarkan pengalaman RAT di lapangan.

Sejumlah kajian menunjukkan bahwa penggunaan Internet dan media digital dapat berperan dalam proses coping psikososial, terutama melalui fungsi dukungan sosial dan regulasi emosi, namun juga berpotensi menjadi sumber tekanan psikologis apabila tidak terkelola dengan baik.

Wolfers dan Utz (2022) menjelaskan bahwa media digital dapat berfungsi sebagai resource dalam proses stress–coping, misalnya dengan memungkinkan individu mencari dukungan sosial atau melakukan emotional distraction, tetapi pada saat yang sama juga dapat bertindak sebagai stressor ketika individu mengalami information overload, paparan disinformasi / hoaks, atau arus informasi yang sulit diproses dalam situasi krisis.

Temuan ini sejalan dengan kajian kesehatan masyarakat dan psikologi yang menekankan bahwa kualitas dukungan sosial merupakan faktor protektif penting bagi kesehatan mental, sementara paparan informasi yang berlebihan dan tidak terstruktur dapat memperburuk stres dan tekanan psikologis. Dalam konteks situasi krisis, termasuk bencana, dinamika tersebut menjadi semakin relevan (Mao & Agyapong, 2021).

Pentingnya Kesepakatan Bersama

Namun, akses Internet darurat hampir selalu berhadapan dengan keterbatasan sumber daya, terutama energi. Karena itu, RAT memandang perlu adanya kesepakatan bersama dengan warga terkait penggunaan layanan. Kesepakatan ini, meskipun bersifat informal dan tidak mengikat secara formal, mencerminkan upaya pengelolaan bersama atas sumber daya konektivitas yang terbatas. Kesepakatan tersebut antara lain mencakup:

  • pembatasan waktu operasional untuk menjaga efisiensi energi, semisal 3-4 jam pada pagi/siang dan 2-3 jam pada malam hari;

  • pemrioritasan penggunaan bagi kebutuhan komunikasi penting seperti urusan keluarga, kesehatan, dan koordinasi kemanusiaan;

  • ajakan kepada warga untuk bersikap kritis terhadap informasi daring guna menghindari disinformasi dan praktik merugikan, semisal disinformasi / hoaks dan judi online (judol);

  • anjuran pembatasan penggunaan konten hiburan berbandwidth tinggi (semisal: video streaming, permainan daring) agar kualitas layanan tetap terjaga bagi kebutuhan yang lebih mendesak.

Pendekatan ini sejalan dengan rujukan tentang pengelolaan sumber daya berbasis komunitas, yang menekankan peran norma lokal dan kesepakatan sosial dalam mengatur sumber daya terbatas secara kolektif, terutama ketika mekanisme kontrol formal bersifat terbatas atau tidak efektif.

Relawan Kesehatan Kemenkes dipandu oleh dokter Basra Amru dari Portkesmas (rompi coklat) yang tergabung dalam RAT, di tengah perjalanan menyeberangi sungai ke Desa Tanjung Gelumpang, Sabtu (27/12/2025). Foto: (RAT/dbu).

Peran relawan dalam konteks ini menjadi sangat krusial. RAT menempatkan diri bukan sebagai pengawas yang melarang atau menghakimi, melainkan sebagai fasilitator dialog dan kesadaran kolektif. Relawan menjelaskan kondisi keterbatasan energi, mengajak warga untuk saling memahami, dan mendorong penggunaan Internet secara aman, etis dan bertanggung jawab.

Hal ini pun selaras dengan literatur ketahanan berbasis komunitas yang menekankan peran norma, kepercayaan, dan praktik kolektif dalam mengelola keterbatasan sumber daya pada situasi krisis. Dalam kerangka ini, pengaturan akses dan penggunaan teknologi, termasuk komunikasi, dipahami sebagai hasil kesepakatan sosial yang tumbuh dari relasi komunitas, bukan semata-mata melalui mekanisme kontrol formal (Marshall et al., 2023).

Maka diharapkan praktik yang dilakukan akan dapat efektif dalam menjaga suasana kondusif di ruang publik. Alih-alih memicu konflik, pengaturan berbasis kesepakatan justru memperkuat rasa memiliki dan tanggung jawab bersama. Literatur sosial kebencanaan menekankan bahwa model semacam ini lebih berkelanjutan dibandingkan pendekatan top-down, karena berakar pada kepercayaan dan partisipasi warga.

Internet Ruang Pemulihan

Pengalaman Relawan Aceh Tangguh (RAT) menunjukkan bahwa telekomunikasi Internet darurat yang bermakna sering kali hadir sebagai rintisan pemulihan sosial, bukan melulu tentang kecepatan sinyal. Ia adalah konektivitas yang hadir sebagai bagian dari ruang hidup warga terdampak. Ketika ia dikelola dengan baik, ia dapat bertransformasi dari sekadar jaringan teknis menjadi ruang pemulihan sosial.

Di masjid Tanjung Gelumpang, misalnya, akses Internet tidak berdiri sendiri sebagai layanan digital, melainkan hadir berdampingan dengan aktivitas keseharian warga: anak-anak duduk di lantai menggambar dan mewarnai, ibu-ibu saling berbincang sambil menunggu giliran menggunakan Internet atau sekedar bergantian men-charge gawainya, dan relawan melakukan pemeriksaan kesehatan ringan atau membagikan logistik bantuan di sudut ruang yang berbeda Semua berlangsung dalam satu ruang hidup yang kembali berdenyut, meski dalam keterbatasan.

Dalam situasi pascabencana, pemulihan tidak selalu dimulai dari bangunan yang kembali tegak atau infrastruktur yang sepenuhnya pulih, melainkan dari kembalinya ritme sosial yang sempat terhenti. Kehadiran Internet darurat di ruang publik memungkinkan warga untuk kembali menjalani peran-peran kecil yang bermakna: orang tua mendampingi anak, remaja membantu orang dewasa menghubungi keluarga, dan relawan berinteraksi tidak hanya sebagai pemberi bantuan, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari komunitas. Internet, dalam konteks ini, menjadi latar yang memungkinkan interaksi sosial berlangsung kembali secara wajar.

Bagi RAT, pengalaman ini memperlihatkan bahwa telekomunikasi darurat memiliki dimensi kemanusiaan yang sering luput dari pembahasan teknis. Akses Internet bukan semata soal kecepatan unduh atau kestabilan sinyal, tetapi tentang menghadirkan rasa keterhubungan, mengurangi kecemasan, dan memulihkan martabat warga sebagai subjek yang tetap memiliki agensi di tengah krisis. Ketika warga dapat mengabarkan kabar dirinya, tertawa bersama anak-anaknya, atau sekadar duduk berbincang tanpa tergesa, ruang pemulihan sosial mulai terbentuk.

Dalam perspektif ini, telekomunikasi darurat bukan hanya alat untuk menyampaikan pesan, melainkan medium yang menghubungkan kembali ritme kehidupan sosial yang sempat terputus oleh bencana. Ia menjembatani antara kebutuhan praktis dan kebutuhan emosional, antara koordinasi teknis dan keberlanjutan kehidupan bersama.

Pengalaman RAT menegaskan bahwa ketika Internet darurat ditempatkan di ruang publik dan dikelola dengan empati, ia lantas bermakna sebagai bagian dari proses pemulihan kolektif yang partisipatif, bukan sebatas teknologi telekomunikasi darurat yang “dingin“.

Penutup: Internet Darurat Bermakna

Refleksi teoretis dan empiris dalam tulisan ini menegaskan bahwa telekomunikasi darurat tidak dapat dipahami semata sebagai persoalan ketersediaan jaringan atau kecanggihan teknologi. Literatur kebencanaan secara konsisten menempatkan komunikasi sebagai enabling infrastructure, prasyarat lintas sektor yang menentukan apakah layanan kesehatan, logistik, dan perlindungan sosial dapat berjalan secara terkoordinasi.

Namun, pengalaman lapangan menunjukkan bahwa keberfungsian teknologi saja tidak cukup. Tanpa pasokan energi listrik yang memadai, komunikasi akan berhenti; dan tanpa tata kelola sosial yang peka terhadap konteks komunitas (baca: kearifan lokal), teknologi justru berisiko memunculkan ketegangan baru alih-alih pemulihan.

Briefing tim dipimpin oleh M. Yulvan dari Komunitas Tikar Pandan yang tergabung dalam RAT, di pelataran belakang Masjid Tanjung Geulumpang, Minggu (28/12/2025). Foto: (RAT/dbu).

Dalam konteks inilah keterikatan struktural antara energi dan komunikasi menjadi nyata dalam praktik. Kegagalan komunikasi darurat lebih sering disebabkan oleh ketiadaan listrik dibandingkan kegagalan teknologi itu sendiri. Maka senyatanya teknologi tekomunikasi (darurat), energi listrik, dan komunikasi sosial saling berkelindan membentuk satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam penanganan kedaruratan pascabencana.

Lebih jauh, pengalaman RAT menegaskan bahwa telekomunikasi darurat pada dasarnya adalah praktik sosial. Ikhtiar pemulihan pascabencana sangat dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat untuk kembali berinteraksi, membangun kepercayaan, dan berkoordinasi dalam ruang-ruang sosial yang bermakna.

Penempatan Starlink di ruang publik seperti masjid Tanjung Geulumpang memperlihatkan bagaimana Internet darurat dapat berfungsi sebagai jangkar sosial, bukan hanya sebagai saluran data. Di ruang yang sama, anak-anak menggambar dan mewarnai, ibu-ibu berbincang, warga bergiliran menghubungi keluarga, sementara relawan melakukan pemeriksaan kesehatan ringan, membagikan logistik bantuan atau sekedar bercengkerama santai. Internet sejatinya tidak berdiri di atas kehidupan sosial, tetapi hadir di dalamnya.

Namun refleksi ini juga menuntut kewaspadaan kritis. Penggunaan Internet darurat yang tidak terkelola berisiko memunculkan information overload, meningkatkan kecemasan, serta membuka ruang bagi disinformasi dan hoaks. Dalam situasi krisis, Internet juga dapat bergeser menjadi mekanisme pelarian yang merugikan, seperti keterlibatan berlebihan dalam permainan daring atau judi online, yang menyita waktu, perhatian, dan energi kolektif yang justru sangat terbatas. Risiko-risiko ini nyata dan harus diantisipasi sejak awal.

Karena itu, tidaklah cukup sekedar menghadirkan Internet di ruang publik, termasuk di masjid yang memiliki legitimasi sosial kuat. Akses Internet darurat secara sadar mesti diimbangi dengan aktivitas psikososial yang menekankan kebersamaan dan interaksi langsung, seperti menggambar bersama anak-anak, nonton bareng (nobar), serta penyuluhan kesehatan dan literasi digital yang disampaikan secara santai dan dialogis.

Aktivitas-aktivitas ini berfungsi menjaga agar ruang publik tidak berubah menjadi ruang “alone together”, di mana orang-orang berkumpul secara fisik tetapi terisolasi secara sosial karena sibuk dengan gawai masing-masing. Dengan menghidupkan kembali praktik kebersamaan, tawa, dan keterlibatan lintas usia, telekomunikasi darurat berkontribusi pada pemulihan psikososial yang lebih utuh.

Dari keseluruhan refleksi ini, menjadi jelas bahwa Internet darurat yang bermakna mensyaratkan tiga (3) hal yang saling terkait: 1). teknologi telekomunikasi darurat, 2). energi listrik yang tersedia, dan, 3). tata kelola yang berakar pada komunitas atau kearifan lokal. Ketika salah satu unsur diabaikan, efektivitas respons bencana menjadi rapuh.

Telekomunikasi / Internet darurat yang bermakna tidak menjanjikan pemulihan instan, melainkan menyediakan rintisan "ruang bersama" warga untuk dapat mulai pulih secara sosial pun emosional.

-

Beudoh meusaboh! Bangkit bersama!

Kunjungi microsite RAT di https://s.id/acehtangguh dan baca kisah RAT di https://infonanggroe.com/ing-tag/relawan-aceh-tangguh. In memoriam, sahabat kami Sayyid Faizzurahman.

-

*) Penulis adalah tim Relawan Aceh Tangguh, pegiat ICT Watch / ID-Changes! dan mahasiswa doktoral Sosiologi Pedesaan - IPB.

Kontak: @donnybu (IG) / donnybu.id

Flyer Relawan Aceh Tangguh. Gambar: (RAT/ijup).
Penulis (kiri) bersama Fakrullah Maulana dari Relawan TIK Aceh yang tergabung dalam RAT, dengan perangkat Starlink di depan Masjid Tanjung Geulumpang, Selasa (23/12/2025). Foto: (RAT).