kumparan
20 Juni 2019 11:02

Literasi Digital: Agenda Pokok dan Mendasar Transformasi Nasional

Penulis: Cinintya Audori Fathin*
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa perkembangan internet dan media sosial harus dibarengi dengan peningkatan literasi digital di masyarakat. Literasi digital dapat diartikan sebagai pengetahuan dan kecakapan individu dalam menggunakan media digital. Pengetahuan dan kecakapan tersebut termasuk menemukan, menggunakan, dan menyebarluaskan infomasi di dunia digital.
ADVERTISEMENT
Literasi digital menjadi agenda pokok dan mendasar yang semakin mendesak di tengah perkembangan Revolusi Industri 4.0 dan transformasi digital. Cakupan isu literasi digital meliputi penanganan konten internet negatif seperti hoaks, perundungan siber, hate speech, radikalisme digital, penipuan daring, perjudian, pornografi, kekerasan seksual pada anak di ranah online. Selain itu, literasi digital juga mencangkup kapasitas untuk memproduksi konten positif dan produktif di internet seperti vlogging, blogging, dan coding.
School of Influencer - Bukit Tinggi (25/4/2019) / Kredit: bukittinggikota.go.id
Dari sekian banyak isu literasi digital, beberapa bulan terakhir ini hoaks menjadi masalah serius yang terus mengemuka di kalangan masyarakat Indonesia. Hasil survey Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) tahun 2019 mengungkapkan bahwa cara paling efektif dalam menghambat menyebaran hoaks adalah edukasi/sosialisasi, yang tak lain merupakan bentuk literasi digital.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan literasi digital di Indonesia, Gerakan Nasional Literasi (GNLD) Siberkreasi melakukan beberapa program yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat. GNLD Siberkreasi adalah wadah kolaborasi multipihak untuk mendorong internet dan media sosial yang sehat di Indonesia. Upaya peningkatan literasi digital di masyarakat yang dilakukan oleh GNLD Siberkreasi:
  • literasidigital.id | Literasidigital.id merupakan portal web yang menyediakan berbagai macam produk literatur terkait literasi digital yang dimuat dalam berbagai macam bentuk. Seluruh literatur tersebut disediakan secara gratis oleh mitra-mitra yang terlibat dalam gerakan Siberkreasi
  • stophoax.id | Stophoax.id merupakan portal web yang dapat berfungsi sebagai pemeriksa kebenaran suatu berita. Web ini dikembangkan untuk mengklarifikasi dan mengkonfirmasi hoaks yang beredar di Indonesia
  • Pandu Digital | Pandu Digital adalah program yang melibatkan masyarakat umum dengan pemahaman, kemampuan, dan kompetensi mendasar terkait literasi digital yang mampu sebagai perintis, pemandu, dan pemimpin pengembangan literasi digital di Indonesia
Pandu Digital - Banyuwangi (25/2/2019) / Kredit: detik.com
  • School of Influencer | School of Influencer merupakan inisiatif bersama untuk membangun literasi digital melalui pengembangan konten positif di internet. Inisiatif ini mengajak anak-anak muda Indonesia untuk memproduksi konten kreatif seperti video, gambar, artikel, blog atau vlog yang positif di internet.
  • Batik Siberkreasi | Batik Siberkreasi adalah inisiatif sukarela dan swadaya dari sejumlah pengrajin, seniman, dan budayawan Batik di Yogyakarta dengan semangat kerja Bersama untuk meningkatkan literasi digital di Indonesia melalui medium seni dan budaya, khususnya budaya batik.
  • Kreator Nongkrong | Kreator Nongkrong adalah sebuah wadah bagi para konten kreator berkumpul dan berbagi pengalaman, pengetahuan serta pandangan mereka kepada anak-anak muda dan masyarakat umum. Dari kegiatan ini, anak-anak muda Indonesia dapat mengembangkan diri mereka di dunia maya.
Kampung Batik Manding Siberkreasi - Gunung Kidul / Kredit: tribunnews.com
Merujuk pada riset Mastel (2019) di atas, dalam 2 tahun terakhir terjadi peningkatan yang signifikan terkait kedewasaan masyarakat untuk mengenali hoaks. Hal ini mengindikasikan upaya gerakan-gerakan dan program-program literasi digital di masyarakat, baik di dalam maupun di luar Siberkreasi, berjalan cukup efektif. Namun pertanyaan selanjutnya adalah: apakah upaya seperti di atas sudah cukup?
ADVERTISEMENT
Pengenalan dan pembelajaran seputar literasi digital dapat dibedakan berdasarkan usia. Seperti halnya untuk anak usia dini yang baru mengenal gawai dan internet, pendidikan literasi digital dapat dilakukan dalam lingkungan keluarga. Sebagai media baru dalam kehidupan masyarakat modern, internet tentunya hadir dalam keluarga dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di rumah.
Oleh karena itu, pola pendampingan orangtua pada anak dalam penggunaan internet merupakan pendidikan literasi digital yang paling utama. Selain itu, untuk mahasiswa, pendidikan literasi digital dilakukan dengan memperkuat pengetahuan mereka mengenai konten positif serta mendorong mereka untuk memproduksi konten-konten positif. Hal ini merupakan upaya preventif terhadap tersebaran konten negatif.
Kreator Nongkrong di TVRI (15/4/2018) / Kredit: kemsos.go.id
Dengan demikian, upaya yang bersifat kultural seperti Siberkreasi ini belum cukup untuk menghadapi tantangan yang semakin besar. Pendekatan struktural (misalnya dengan memasukkan literasi digital ke dalam kurikulum formal pendidikan di semua tingkatan) merupakan solusi yang sangat mendesak dilakukan untuk memperkuat upaya kultural tersebut.
ADVERTISEMENT
Dalam hal ini, Siberkreasipun telah bekerjasama dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan telah menyelesaikan penyusunan Bahan Ajar Literasi Digital dalam Mata Pelajaran Informatika dari jenjang pendidikan dasar sampai atas.
Kunci dari semua upaya ini adalah “gotong royong”, yakni bahwa agenda literasi digital harus didorong oleh semua pihak demi internet dan media sosial Indonesia yang positif dan produktif. Prof. Helen Margetts dari Oxford University dalam bukunya “Political Turbulence: How Social Media Shape Collective Action mengatakan bahwa salah satu kunci stabilitas dan harmoni sebuah bangsa di era digital ini tergantung pada “micro donation” di media sosial.
Micro donation merupakan donasi-donasi kecil berupa like, comment, post, share, tweet, dan cara berbagi konten lainnya di media sosial. Jika sebagian besar rakyat mendonasikan hal-hal mikro yang damai dan positif, maka damai dan positif pulalah bangsa itu. Namun sebaliknya, jika sebagian besar masyarakat gemar mendonasikan konten negatif, maka terancamlah negara tersebut.
ADVERTISEMENT
Insya Allah, literasi digital dapat mendukung Indonesia untuk senantiasa menjadi bangsa yang damai, positif, dan produktif.”
*) penulis adalah Staf Peneliti pada Siberkreasi, dapat dihubungi melalui email audorif@gmail.com
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan