kumparan

Tentang Internet, Internasional Siap Belajar dari Indonesia di Berlin!

Laporan dari MAG IGF 2019 - Berlin*

Pada Internet Governance Forum (IGF) 2019 pada November nanti di Berlin, sudah dipastikan tak kurang dari (tiga) sesi workshop akan diampu oleh Indonesia. Catatan tantangan dan pengalaman Indonesia dalam sejumlah isu terkait tata kelola Internet akan didiskusikan terbuka, sehingga sejumlah negara internasional dapat belajar darinya.
ADVERTISEMENT
Kesediaan workshop dari Indonesia tersebut, bersama dengan sejumlah workshop lainnya dalam rumpun "Open Forum" dan "Pre-Event" telah diputuskan dalam rangkaian rapat Multistakeholder Advisory Group (MAG) IGF PBB di Kantor Kementerian Ekonomi dan Energi Jerman di Berlin, Kamis (6/6/2019).
Rapat MAG IGF PBB / Juni 2019 / Foto: penulis
Ketiga tema workshop dari Indonesia tersebut adalah:
  • Strengthening Digital Ecosystem for Better Digital Inclusion (pengampu: Kementerian Kominfo bersama dengan ID-IGF dan Siberkreasi) - Open Forum
  • Strengthening Digital Transformation through Digital Security (pengampu: Kementerian Kominfo bersama dengan ID-IGF dan Siberkreasi) - Open Forum
  • Ethics for the Young Digital Talents in the era of AI (pengampu: Universitas Indonesia) - Pre Event
Open Forum adalah rumpun salah satu jenis workshop yang disiapkan bagi pengaju proposal workshop dari sektor pemerintah dan organisasi internasional, terutama bagi yang memiliki kerja-kerja aktif pada isu tata kelola Internet. Sedangan Pre Event disiapkan oleh Sekretariat IGF PBB bagi yang ingin menyelenggarakan workshop pada Day-0 (day zerro), atau sehari sebelum rangkaian IGF secara resmi dimulai. Keputusan siapa boleh mengampu workshop apa pada rumpun Open Forum dan Pre-Event ini ada pada Sekretariat IGF PBB dengan dikomunikasikan pada anggota MAG IGF.
ADVERTISEMENT
Adapun selain kedua rumpun di atas, masih ada beberapa jenis workshop lainnya. Salah satunya adalah workshop regular yang faktor saringan dengan tingkat lebih tinggi, mengingat total tak kurang dari 400-an proposal workshop masuk dari berbagai stakeholder dengan ragam asal negara. Dari 400-an tersebut, yang memenuhi syarat administrasi ada 289 proposal, dibagi menjadi 3 (tiga) sub-tema yaitu Data Governance, Digital Inclusion dan Security and Safety.
Penulis bersama Kenta Mochizuki, Anggota MAG IGF PBB dari stakeholder swasta, berasal dari Jepang
Oleh anggota MAG IGF, proposal tersebut akan di-ranking berdasarkan sejumlah kriteria untuk menghasilkan hanya 20 proposal workshop per sub-tema, atau total 60 proposal workshop. Ini berarti rasio diterimanya proposal adalah sekitar 1 banding 5. Jika melihat dari daftar 289 proposal workshop yang ada saat ini, setidaknya ada beberapa pengampu atau pembicaranya dari Indonesia, yaitu:
ADVERTISEMENT
Apakah dari 4 proposal di atas akan ada yang lolos seleksi final dan menambah jumlah workshop Indonesia selain yang 3 dari rumpun Open Forum dan Pre-Event di atas? Semoga saja! Kita tunggu keputusan final dari MAG IGF selambatnya pada akhir bulan ini.
Penulis: Donny B.U**
*) Tulisan ini adalah laporan terbuka kepada publik dan pemangku kepentingan terkait.
ADVERTISEMENT
**) Penulis hadir pada rapat MAG IGF di Berlin (Juni 2019) dalam kapasitas sebagai Perwakilan Tetap Indonesia untuk IGF - PBB. Penulis juga editor buku Pengantar Tata Kelola Internet dan dapat dihubungi melalui email dbu[at]donnybu.id
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan