Konten dari Pengguna

Live Shopping Ramai Penonton: Apakah Produknya Pasti Bisa Dipercaya?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Na Mange tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi pribadi, 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi pribadi, 2026.

Pernahkah kalian membeli barang saat siaran langsung karena tergoda diskon, tetapi kecewa setelah paketnya tiba? Di layar, produk terlihat menarik. Pembawa acara menjelaskan keunggulannya dengan meyakinkan, sementara komentar penonton membuat suasana semakin ramai. Namun, apakah semua itu cukup untuk menjamin kualitas?

Menurut saya, persoalan utama live shopping bukan sekadar harga murah atau kemudahan transaksi, melainkan bagaimana kepercayaan dibangun dan dipertanggungjawabkan setelah pembelian.

Diskon Menarik Perhatian, tetapi Bukan Bukti Kualitas

Survei Jakpat yang diberitakan GoodStats menunjukkan bahwa diskon dan promosi menjadi alasan 71% responden menonton live shopping. Sementara itu, 66% tertarik karena produk yang ditawarkan dianggap lebih murah. Angka tersebut berasal dari analisis terhadap 818 responden yang berminat berbelanja melalui fitur tersebut, bukan seluruh masyarakat Indonesia.

Data ini memperlihatkan kuatnya daya tarik harga. Namun, menurut saya, konsumen perlu membedakan antara mendapatkan potongan harga dan mendapatkan produk yang benar-benar bernilai.

Barang murah belum tentu menguntungkan apabila cepat rusak, tidak sesuai kebutuhan, atau sulit dikembalikan. Sebaliknya, harga lebih mahal juga tidak otomatis menjamin kualitas. Pertanyaan terpenting bukan hanya “Berapa diskonnya?”, melainkan “Apa yang benar-benar saya dapatkan?”

Keluhan Belanja Daring Tidak Bisa Dianggap Sepele

Kementerian Perdagangan mencatat 7.887 laporan konsumen sepanjang 2025. Sebanyak 7.836 laporan berkaitan dengan transaksi perdagangan melalui sistem elektronik. Pada sektor elektronik dan kendaraan bermotor, persoalan yang dilaporkan antara lain barang tidak sesuai janji, kerusakan, dan kendala klaim garansi.

Angka tersebut tidak berarti seluruh masalah berasal dari live shopping. Data itu juga tidak menunjukkan persentase transaksi daring yang bermasalah. Namun, laporan tersebut memberikan alasan kuat untuk menempatkan perlindungan konsumen sebagai bagian penting perdagangan digital.

Bagi saya, pertumbuhan penjualan seharusnya diikuti peningkatan tanggung jawab, bukan hanya semakin gencarnya promosi.

Kepercayaan Diuji Ketika Barang Sampai

Bayangkan seorang pembeli memesan tas setelah menyaksikan demonstrasi langsung. Penjual menyebut bahannya kuat dan cocok untuk membawa banyak barang. Namun, setelah beberapa kali digunakan, jahitannya terlepas.

Ilustrasi ini bukan laporan kasus nyata, tetapi menggambarkan pertanyaan penting: siapa yang bertanggung jawab ketika pengalaman konsumen tidak sesuai janji?

Menurut saya, kualitas penjual justru terlihat pada tahap tersebut. Kesediaan memeriksa keluhan, menjelaskan prosedur pengembalian, dan menawarkan penyelesaian lebih bermakna daripada keramahan selama siaran.

Jangan Menyamakan Popularitas dengan Kredibilitas

Live shopping sebenarnya memiliki kelebihan. Publikasi Jakpat mengenai responden Gen Z menyebut kesempatan melihat detail barang, ulasan penjual, dan interaksi langsung sebagai daya tarik berbelanja melalui fitur tersebut.

Namun, kesempatan melihat produk seharusnya dimanfaatkan untuk menilai, bukan sekadar mengikuti antusiasme penonton.

Saya berpendapat penjual perlu menjelaskan spesifikasi, keterbatasan, serta ketentuan layanan secara terbuka. Konsumen juga perlu membandingkan informasi dan tidak menjadikan jumlah penonton sebagai pengganti pemeriksaan kualitas.

Menepati Janji Lebih Penting daripada Menarik Perhatian

Pada akhirnya, live shopping tidak perlu ditolak. Yang diperlukan adalah kebiasaan berbelanja lebih kritis dan praktik berjualan lebih bertanggung jawab.

Sebelum membeli, periksa spesifikasi, bandingkan harga dengan manfaat, dan pahami ketentuan pengembalian. Bagi penjual, jangan hanya memastikan konsumen tertarik saat siaran berlangsung. Pastikan pula mereka memperoleh barang dan layanan sesuai penawaran.

Sebab, keberhasilan perdagangan digital seharusnya tidak berhenti ketika tombol bayar ditekan. Penjual yang pantas dipercaya adalah penjual yang tetap bertanggung jawab setelah kamera dimatikan.