Konten dari Pengguna

Etnomatematika dalam Disertasi (S3) Matematika Terapan pada Budaya Suku Mee

Loami Gobai

Loami Gobai

Penulis Buku Matematika, pemerhati pendidikan Matematika, Dosen Pembantu di Universitas Ottow Geisler Papua.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Loami Gobai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi suku di Papua. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi suku di Papua. Foto: Shutterstock

Berdasarkan penelusuran literatur, pendekatan etnomatematika pada budaya Suku Mee masih merupakan area penelitian yang cukup terbuka, terutama dalam konteks matematika terapan. Berikut adalah pemetaan penelitian yang telah ada serta potensi pengembangannya untuk disertasi.

Landasan Konseptual Etnomatematika

Etnomatematika didefinisikan sebagai studi tentang hubungan antara praktik budaya dan aktivitas matematika . Pendekatan ini menjadi jembatan antara pengetahuan tradisional masyarakat dengan konsep-konsep matematika formal, sehingga pembelajaran matematika menjadi lebih kontekstual dan bermakna . Dalam konteks disertasi matematika terapan, pendekatan ini membuka peluang untuk:

• Mengidentifikasi struktur matematika dalam artefak budaya

• Mengembangkan model matematika dari praktik budaya

• Menciptakan inovasi pembelajaran berbasis kearifan local

Penelitian Etnomatematika yang Telah Dilakukan pada Suku Mee

Penelitian yang secara spesifik mengkaji etnomatematika Suku Mee masih terbatas. Sumber utama yang ditemukan adalah penelitian eksplorasi oleh Doo dkk. (2023) yang mengkaji unsur matematika pada pakaian adat perempuan Suku Mee. Komponen Pakaian, Nama Lokal, Unsur Matematika yang Ditemukan:

  • Rumbai, Mogee, (Poligon segi lima, Poligon segi empat)

  • Pengganti selimut, Yatoo, (Kekongruenan)

  • Noken, Agiya, (Refleksi (pencerminan))

  • Baju,Wadoyoma, (Elips)

  • Rok, Miyoyoma, (Poligon)

  • Dress, Miyawikumi, (Refleksi)

  • Topi, Dage baee, (Poligon)

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode etnografi, melibatkan informan yang merupakan "perajut" yang memahami makna pola anyaman .

Konteks Budaya Suku Mee yang Relevan

Suku Mee mendiami wilayah pegunungan Papua Tengah, meliputi Kabupaten Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, dan sebagian Mimika . Beberapa aspek budaya yang berpotensi mengandung unsur matematika:

  • Mogee Rok perempuan dari pintalan kulit kayu, memiliki tiga model (moo mogee, dane mogee, duga mogee) Geometri, pola pengulangan, simetri

  • Koteka Penutup aurat laki-laki dari labu air, memiliki tiga jenis (pendek, panjang, bengkok) Geometri ruang, proporsi, pengukuran

  • Emawa/Yame Owa Rumah adat laki-laki Geometri bangunan, struktur konstruksi

  • Mege Uang tradisional dari keong laut Sistem bilangan, nilai tukar

  • Noken (agiya) Anyaman dari kulit anggrek Pola anyaman, transformasi geometri

Kesenjangan Penelitian (Research Gap)

Berdasarkan tinjauan literatur, terdapat beberapa kesenjangan yang dapat menjadi fokus disertasi matematika terapan:

1. Tidak ditemukan disertasi spesifik yang membahas etnomatematika Suku Mee dalam konteks matematika terapan. Penelitian yang ada masih berupa artikel jurnal tingkat eksplorasi.

2. Fokus penelitian masih terbatas pada pakaian adat perempuan, sementara artefak budaya lain seperti rumah adat, koteka, sistem perdagangan tradisional, dan alat pertanian belum dieksplorasi secara mendalam.

3. Aspek matematika terapan seperti pemodelan matematika, optimasi, atau aplikasi komputasional belum tersentuh.

4. Pengembangan perangkat pembelajaran berbasis etnomatematika Suku Mee untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi (perguruan tinggi) belum dilakukan.

Potensi Pengembangan untuk Disertasi Matematika Terapan

Berikut adalah beberapa arah pengembangan yang dapat dijadikan fokus disertasi:

a. Pemodelan Geometri Artefak Budaya

• Mengembangkan model geometri parametrik dari bentuk koteka dan mogee

• Analisis transformasi geometri pada pola anyaman noken Suku Mee

• Rekonstruksi 3D rumah adat Emawa dengan pendekatan geometri komputasional

b. Analisis Pola dan Simetri

• Studi struktur grup simetri pada motif pakaian adat

• Analisis fraktal pada pola anyaman tradisional

• Pemodelan matematis proses produksi benang dari kulit kayu

c. Sistem Bilangan dan Ekonomi Tradisional

• Analisis sistem bilangan dalam transaksi perdagangan tradisional menggunakan mege

• Pemodelan matematika sistem barter dan nilai tukar

d. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Teknologi

• Pengembangan aplikasi interaktif untuk visualisasi unsur matematika pada budaya Mee

• Desain augmented reality untuk pembelajaran geometri berbasis artefak Suku Mee

e. Etnomatematika dalam Konteks STEM

• Integrasi etnomatematika Suku Mee dalam pengembangan modul STEM education

• Analisis kearifan lokal dalam konstruksi rumah adat dari perspektif teknik sipil

Rekomendasi Metodologi

Berdasarkan pendekatan yang telah digunakan dalam penelitian etnomatematika sebelumnya , metodologi yang dapat diadopsi untuk disertasi matematika terapan meliputi Tahap dan Metode:

  • Eksplorasi Budaya Etnografi, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan perajin, observasi partisipatif

  • Identifikasi Matematika Analisis konten, dokumentasi, klasifikasi unsur matematika

  • Pengembangan Model Pemodelan matematika, analisis komputasional, validasi pakar

  • Implementasi Pengembangan perangkat pembelajaran, uji coba terbatas, analisis efektivitas

  • Diseminasi Publikasi, pameran budaya, pengayaan kurikulum lokal

Kesimpulan

Pendekatan etnomatematika pada budaya Suku Mee masih sangat potensial untuk dikembangkan dalam disertasi matematika terapan. Penelitian yang telah ada baru menyentuh tahap eksplorasi unsur matematika pada pakaian adat perempuan, sehingga masih terbuka luas peluang untuk pengembangan model matematika, analisis komputasional, serta integrasi dengan teknologi pembelajaran. Disertasi di bidang ini tidak hanya akan memberikan kontribusi akademik tetapi juga berperan dalam pelestarian dan pengembangan kearifan lokal Papua.