Konten dari Pengguna

Efektifkah Flipped Learning?

Lodya Sesriyani

Lodya Sesriyani

Dosen Bahasa Inggris Universitas Pamulang, Researcher

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lodya Sesriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Koleksi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Koleksi Pribadi

Salah satu kemajuan paling menarik di kelas modern adalah pembelajaran terbalik atau lebih dikenal sebagai flipped learning. Aktivitas belajar ini bermula pada gagasan bahwa siswa belajar lebih efektif menggunakan waktu belajar mereka untuk kegiatan kelompok kecil dan perhatian individu. Kegiatan ini dipercaya dapat mengembangkan kreativitas siswa.

Flipped learning merupakan metodologi yang membantu guru untuk memprioritaskan kegiatan belajar mengajar yang aktif dalam kelas dengan menugaskan siswa materi pembelajaran untuk dilihat di rumah atau di luar kelas. Jadi sederhananya, dalam pembelajaran terbalik, Bapak dan Ibu Guru hanya perlu memberikan suatu topik materi yang akan dibahas sebagai umpan. Umpan tersebut bisa diberikan lewat pembelajaran daring dalam bentuk video. Kemudian, minta siswa untuk mencari materi-materi pendukung dan mempelajarinya secara mendalam.

Menurut Kari M. Arfstrom, salah satu pendiri flipped learning Network, flipped learning adalah tentang menciptakan peluang untuk keterlibatan aktif. Lebih lanjut flipped learning merupakan pendekatan pedagogis dimana instruksi langsung bergerak dari ruang belajar kelompok ke ruang belajar individu, dan ruang kelompok yang dihasilkan diubah menjadi lingkungan belajar yang dinamis dan interaktif dimana pendidik membimbing siswa saat mereka menerapkan konsep dan terlibat secara kreatif dalam subjek pembelajaran.

Menurut survei tahun 2020 dari flipped learning Network, 78 persen guru mengatakan mereka telah menggunakan flipped learning, dan 96 persen dari mereka yang mencobanya mengatakan mereka akan merekomendasikannya kepada pendidik lain. Ini menunjukkan bahwa flipped learning menginspirasi guru untuk memperbarui metode tradisional dan membawa teknologi baru ke dalam kelas mereka melalui penggunaan video, screencast, dan lainnya.

Tapi apa sebenarnya artinya ini bagi guru kelas? Pertama, mereka dapat menghabiskan lebih banyak waktu dengan siswa yang kesulitan sambil memberikan kebebasan kepada siswa untuk bekerja secara individu maupun kelompok didepan kelas. flipped learning adalah instruksi terdiferensiasi berskala besar, yang dibangun ke dalam kurikulum disetiap kesempatan.

Guru menjelaskan suatu konsep kepada siswa baik melalui video atau melalui perangkat lunak. Siswa dapat menonton konten sebelum kelas dimulai dan mempersiapkan kegiatan hari itu. flipped learning memberi mereka kebebasan tentang bagaimana, kapan, dan di mana mereka belajar dan flipped learning memungkinkan mereka terlibat dalam konten video dengan cara yang paling sesuai untuk mereka.

Bagaimana Flipped Learning Itu Diterapkan?

Teknologi memungkinkan guru untuk memanfaatkan waktu di kelas sebaik-baiknya dan mendorong pembelajaran yang digerakkan oleh siswa, flipped learning paling sering dilakukan oleh pendidik berpengalaman: Rata-rata, delapan dari 10 guru memiliki pengalaman pendidikan lebih dari enam tahun, dan 42 persen telah mengajar selama 16 tahun atau lebih.

Saat ini, teknologi menjadi sahabat utama siswa. Bisa dilihat bahwa banyak dari mereka yang tidak bisa lepas dari sosial media atau menonton video di YouTube. Melalui metode flipped learning, kebiasaan baru ini bisa Bapak dan Ibu Guru terapkan untuk membantu siswa belajar. Dengan berbagai akses internet yang memadai, siswa nantinya bisa mendapatkan sumber pembelajaran dari mana saja.

Siswa akan lebih tertarik dan semangat belajar jika materi disajikan dalam bentuk video dan bukan disampaikan melalui ceramah biasa. Mereka cenderung lebih aktif dalam berbagai kegiatan yang menggunakan perangkat digital, seperti mengerjakan tugas menggunakan komputer, menggunakan ponsel pintar untuk mencari materi, atau bekerja sama dan bereksperimen dengan bantuan video dari internet.