Membongkar Mitos: Guru dan Dosen Bukan Beban, Melainkan Investasi Terabaikan

Dosen Bahasa Inggris Universitas Pamulang, Researcher
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Lodya Sesriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahun ini setelah bertahun-tahun, wacana publik tentang dunia pendidikan lagi-lagi terperangkap dalam narasi yang keliru. Guru dan dosen, merupakan dua komponen utama dalam pendidikan sebagai upaya pembangunan sumber daya manusia, kerap kali ditempatkan dalam posisi yang dilematis.
Mereka dipandang sebagai beban anggaran negara bahkan sering kali dicap sebagai pos belanja yang besar dan terus membengkak. Namun, pandangan ini adalah sebuah mitos yang harus segera dibongkar. Guru dan dosen bukanlah beban, melainkan investasi terabaikan yang masa depan pengembaliannya sangat menentukan nasib bangsa.
Pola pikir yang menganggap guru dan dosen sebagai beban adalah cerminan dari kegagalan kita dalam melihat gambaran besar. Anggaran yang dialokasikan untuk gaji dan kesejahteraan mereka seringkali dianggap sebagai "ongkos" yang harus ditanggung, bukan sebagai modal yang sedang ditanam.
Ini seperti menuduh seorang petani menghabiskan uang untuk membeli benih. Tanpa benih itu, tidak akan ada panen. Tanpa investasi pada kualitas guru dan dosen, kita tidak akan pernah menuai generasi yang cerdas, inovatif, dan berdaya saing.
Kita bisa melihat bukti nyata dari negara-negara maju. Finlandia, Korea Selatan, Jepang dan Singapura. Mereka menempatkan guru pada posisi yang sangat terhormat, memberikan gaji yang layak, fasilitas pendukung yang memadai, dan kesempatan pengembangan diri yang tak terbatas. Hasilnya, profesi guru menjadi salah satu yang paling diminati, menarik talenta-talenta terbaik dari seluruh negeri. Di sana, guru bukanlah pegawai biasa, melainkan figur kunci yang membentuk masa depan.
Ironi di negara kita adalah sebaliknya. Kita menuntut guru dan dosen untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan unggul, tetapi pada saat yang sama, kita seringkali mengabaikan kesejahteraan dan pengembangan mereka. Beban kerja yang menumpuk, mulai dari administrasi yang rumit, pengajaran di kelas, hingga tuntutan penelitian, tidak diimbangi dengan penghargaan yang sepadan. Akibatnya, banyak talenta berbakat enggan memilih profesi ini, dan mereka yang sudah berada di dalamnya pun menghadapi tantangan besar untuk terus termotivasi.
Saatnya kita mengubah paradigma. Anggaran untuk pendidikan, khususnya untuk guru dan dosen, harus dipandang sebagai dana investasi strategis. Ini bukan soal berapa banyak uang yang kita "habiskan," melainkan seberapa besar potensi yang akan kita peroleh di masa depan.
Menyikapi anggapan bahwa guru dan dosen adalah beban merupakan langkah awal untuk merevolusi pendidikan kita. Ketika kita melihat mereka sebagai investasi dan memperlakukan mereka selayaknya, kita sedang membangun fondasi yang kokoh untuk masa depan bangsa. Masa depan Indonesia ada di tangan mereka. Saatnya kita berhenti menomorduakan mereka dan mulai menempatkannya di posisi terdepan.
