Mengapa Tidak Mencoba 'Memanfaatkan' Kecanduan Peserta Didik terhadap Instagram?

Dosen Bahasa Inggris Universitas Pamulang, Researcher
Tulisan dari Lodya Sesriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Internet telah mengubah cara seseorang dalam berkomunikasi, berinteraksi, bahkan memudahkan segala akses untuk seseorang melakukan proses pembelajaran. Sebelumnya, seseorang harus keluar masuk perpustakaan untuk mencari informasi atau bahan belajar, sekarang seseorang hanya butuh jaringan internet untuk mengakses informasi apa pun kapan saja dibutuhkan. Menggunakan teknologi bukan lagi sebuah pilihan, namun sudah menjadi kebutuhan dan keharusan.
Berbicara mengenai internet, kita tidak bisa lepas dari pembahasan mengenai media sosial. Popularitas media sosial sangat berdampak pada peserta didik. Peserta didik lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk menggunakan sosial media melalui laptop maupun perangkat seluler mereka. Peserta didik bahkan memiliki akun yang mereka kelola sendiri untuk berinteraksi dengan teman-teman bahkan untuk melakukan interaksi sosial dengan orang-orang baru di seluruh dunia. Oleh karena itu hal ini dapat diadaptasi oleh guru atau pendidik untuk mengembangkan kegiatan tertentu yang menggunakan sosial media dalam pembelajaran. Guru atau pendidik dapat secara aktif menggunakan instagram untuk tetap terhubung dengan peserta didik.
Dilansir di laman resmi kemenkominfo, 95 persen penggunaan internet masyarakat Indonesia adalah penggunaan media sosial. Media sosial dengan pengguna aktif terbanyak secara berurutan adalah Facebook, Twitter, dan Instagram. Bisa dibayangkan apabila guru mampu mengambil peluang ini. Pembelajaran bukan lagi menjadi momok, tapi peserta didik akan antusias karena yang mereka alami secara langsung yaitu proses yang melibatkan hal yang mereka senangi.
Kalau mendengar kata Instagram pasti kita akan langsung ngeh dan paham betul fitur- fitur di dalamnya. Instagram merupakan platform digital yang banyak digunakan sebagai sarana seseorang untuk berkomunikasi. Instagram merupakan produk turunan dari Facebook yang sudah lebih populer dikenal sebagai media sosial dengan pengguna terbanyak. Media sosial satu ini dapat digunakan pada sistem IOS, Android maupun Windows.
Fitur-fitur yang ada di instagram banyak disukai karena dapat digunakan sebagai wadah ekspresi diri, sharing informasi, menyimpan kenangan, menyampaikan berita, media promosi, berdagang bahkan sebagai alat pembelajaran. Instagram memiliki fitur upload video, foto, dan instastory.
Di dalam pembelajaran, guru dapat memanfaatkan fitur-fitur tersebut sebagai media untuk peserta didik dalam proses belajar. Hal ini sudah penulis lakukan pada pembelajaran Bahasa Inggris di Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang. Dosen memberikan sebuah projek kepada mahasiswa secara individu untuk mengembangkan sebuah video berbahasa Inggris yang hasilnya di-share ke instagram. Video tersebut berupa video singkat yang dibuat sendiri oleh mahasiswa yang durasinya disesuaikan dengan kapasitas Instagram.
Pada proses ini pengajar dapat mengevaluasi kemampuan berbicara dan menyimak peserta didik secara bersamaan. Kemampuan berbicara peserta didik dapat diamati dari kelancaran mereka berbicara bahasa inggris, konten yang disampaikan, kemudian ketepatan pronounciation. Setiap peserta didik diminta untuk memberi tanda atau “tag” kepada tiga orang teman mereka pada masing-masing projek, sehingga satu projek akan dikomentari oleh tiga orang teman sejawat dan satu dosen, setiap peserta didik akan mendapatkan tugas sebagai komentator. Komentar yang diberikan juga harus berbahasa Inggris, dalam hal ini dosen dapat mengamati kemampuan menyimak peserta didik.
Pada prosesnya, kedua kemampuan ini terbukti meningkat karena peserta didik merasa “terpaksa” untuk tampil maksimal dengan alasan projek tersebut akan dilihat oleh semua follower-nya dan mereka juga
akan dikomentari oleh ketiga teman sejawat. Bukan hanya kemampuan berbicara dan menyimak saja yang dapat diamati, tetapi kegiatan ini juga mampu meningkatkan tingkat percaya diri peserta didik. Mereka menjadi lebih percaya diri dalam menggunakan Bahasa Inggris.
Melihat banyaknya peluang yang dapat diambil oleh pengajar dalam memanfaatkan media sosial khususnya instagram, perlu dikaji lebih dalam bagaimana nantinya manfaat tersebut dapat dimaksimalkan, dan dampak negatif yang muncul dapat diminimalisir. Pada masa pandemi ini mari kita mulai berpikir cerdas mengenai aktivitas- aktivitas alternatif yang menyenangkan tanpa mengurangi bahkan menghilangkan muatan materi pada pembelajaran itu sendiri. Karena berdasarkan pengamatan, pada pembelajaran daring ini, tantangan terberat pengajar adalah memotivasi peserta didik untuk tetap aktif di kelas.
**Oleh: Lodya Sesriyani, S.Pd.,M.Pd
Dosen Bahasa Inggris Universitas Pamulang
