Konten dari Pengguna

Program MBKM sebagai Upaya Persiapan Pendidikan pada Presidensi G20

Lodya Sesriyani

Lodya Sesriyani

Dosen Bahasa Inggris Universitas Pamulang, Researcher

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lodya Sesriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: https://www.kemenkeu.go.id/
zoom-in-whitePerbesar
Foto: https://www.kemenkeu.go.id/

Oleh: Lodya Sesriyani

Dosen Universitas Pamulang

Akhir tahun 2021 lalu, Indonesia didaulat sebagai pemegang presidensi G20. G20 adalah sebuah forum kerjasama internasional yang anggotanya terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa. Selama masa presidensi, Indonesia memiliki peran dalam menetapkan agenda prioritas dan memimpin serangkaian pertemuan G20. Tentu hal ini menjadi hal yang paling dinanti oleh Indonesia.

Apa peran Pendidikan pada masa presidensi ini?

Pendidikan Indonesia sebenarnya sudah mengalami banyak tantangan sebelumnya, hal ini diperburuk dengan adanya pandemi covid-19 yang hampir saja melumpuhkan hampir seluruh lini kehidupan manusia. Tentunya presidensi G20 ini menjadi momentum yang tepat bagi Indonesia untuk bangkit dan kembali berbenah pasca pandemi tersebut.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, pada sambutannya dalam Kick Off G20 on Education and Culture pada rabu, 9 Februari 2022 mengatakan bahwa Indonesia sudah merencanakan 4 isu pokok yang akan dikembangkan untuk mempersiapkan dunia Pendidikan pada presidensi G20 ini.

Pertama, kualitas pendidikan untuk semua. Isu ini berawal dari ketidakmerataan pendidikan di Indonesia, pendidkan idealnya merupakan hak setiap warga negara berlaku untuk semua golongan masyarakat. Pendidikan seharusnya bukan lagi barang mahal yang hanya didapatkan oleh kalangan atas dan perkotaan, namun juga harus mampu menjangkau kaum marjinal dan disabilitas baik di kota maupun di daerah. Komitmen untuk mewujudkan isu pertama ini sudah dimulai, saat ini sudah dimulai program kampus merdeka yang memiliki banyak program yang sudah berjalan setahun kebelakang. Fokus utama dari program- program ini adalah bagaimana menyebarkan literasi dan numerasi ke daerah melalui teman-teman mahasiswa. Hal ini tentu akhirnya juga akan meningkatkan kecakapan lulusan perguruan tinggi untuk siap menghadapi dunia setelah pandemi.

Kedua, teknologi digital dalam pendidikan. Isu ini sebenarnya mencuat lebih kencang semenjak covid-19, karena dunia pendidikan harus melakukan tranformasi, guru dan siswa dipaksa akrab dengan berbagai teknologi yang dapat membantu proses pembelajaran. Saat ini tantangan baru yang muncul adalah isu konektivitas bagi siswa untuk belajar. Ini tanggung jawab kita bersama untuk mengatasinya. Isu ini kemudian akan dikembangkan dalam upaya untuk mempertahankan penggunaan teknologi terbarukan untuk pendidikan yang lebih baik nantinya.

Ketiga, solidaritas dan kemitraan. Budaya gotong royong Indonesia dapat dijadikan bekal dalam menghadapi isu ini. Isu ini menegaskan komitmen Indonesia untuk bekerja sama dengan negara lain dan memiliki rasa solidaritas dalam suatu kelompok, yang dikaitkan dengan budaya gotong royong Indonesia tersebut, dalam hal ini kita percaya hanya dengan saling bekerja sama dan saling mendukung dapat menyelesaikan berbagai permasalahan global.

Keempat, masa depan dunia kerja pasca pandemi Covid-19. Indonesia dalam kasus ini harus mampu menyiapkan diri untuk tantangan dunia pasca pandemi. Setelah pandemi, tentunya kebutuhan kita akan berubah, sehingga pendidikan harus mampu menyiapkan hal tersebut. Indonesia dinilai memiliki posisi strategis dalam pertemuan forum G20. Momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk memperjuangkan kepentingan nasional bidang ketenagakerjaan yang memberikan dampak pada perekonomian global, termasuk pasar tenaga kerja, hal ini tentunya harus dimulai dengan perbaikan pada bidang pendidikan. Pada sektor pendidikan, sedalam apa pun krisis yang dialami, dapat bangkit dan pulih bersama karena kebersamaan, empati, dan komitmen.