Urgensi Literasi Digital pada Pembelajaran Masa Kini

Dosen Bahasa Inggris Universitas Pamulang, Researcher
Tulisan dari Lodya Sesriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Lodya Sesriyani, S.Pd.,M.Pd

Dosen Bahasa Inggris Universitas Pamulang
Istilah digital bukan lagi hal yang baru untuk dibahas pada saat ini. Istilah ini karap kali disandingkan dengan berbagai hal pada kehidupan manusia. Bukan tanpa sebab hal tersebut terjadi, karena memang saat ini kita sudah masuk ke era yang segalanya dapat diakses dan didapatkan menggunakan perangkat digital. Pernah mendengar koran digital, buku digital, atau bahkan bioskop digital? Itu hanya sebagian kecil saja yang dapat menggambarkan dunia digital yang sesungguhnya. Dunia Pendidikan juga tak luput dari pengaruh digitalisasi tersebut.
Seiring waktu istilah literasi muncul. Literasi merupakan kemampuan dan keterampilan seseorang dalam berbahasa. Namun dalam perkembnaganmnya literasi juga dimaknai sebagai kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, juga memecahkan masalah di dalam kehidupan sehari-hari. Literasi digunakan seseorang dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Jika dikaitkan, muncul pemahaman mengenai literasi digital, yang dapat dimaknai sebagai kemampuan seseorang untuk mengolah informasi dari perangkat digital, salah satunya yaitu internet. Internet kemudian dijadikan sebagai media untuk menyampaikan informasi-informasi secara digital. Pada masa pandemi sekarang, tentunya digitalisasi tersebut sangat membantu. Salah satunya sebagai media penyampaian informasi secara masif.
Menurut data BPS, selama pandemi penggunaan internet masyarakat Indonesia meningkat dari yang sebelumnya hanya 33,98% menjadi 59,3%. Usia yang paling tinggi dalam penggunaan tersebut adalah usia remaja yang diindikasikan mereka menggunakan internet untuk sekolah karena pemberlakukan sekolah full daring yang diterapkan oleh pemerintah. Tentunya ini menjadi urgensi bagaimana literasi digital yang berkaitan langsung dengan internet harus ditingkatkan.
Literasi digital yang dimaksud pada pembelajaran adalah bagaimana guru dan siswa mampu mengolah informasi yang didapat secara digital, digunakan sebagai panduan dalam proses pembelajaran. Upaya yang dapat dilakukan agar kemampuan tersebut dapat berkembang dengan baik, tentu dibutuhkan pendekatan- pendekatan yang mampu membuat guru dan siswa mudah memahaminya sama seperti memahami literasi bacaan biasa yang tidak memerlukan TIK atau internet untuk mengaksesnya.
Salah satu upaya meningkatkan pemahaman mengenai literasi digital, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama yang menaungi sekolah tingkat dasar hingga menengah atas mulai meramu kurikulum TIK yangv awalnya hanya berfokus pada kemampuan siswa dalam mengoperasikan bebrapa fitur pada komputer, kedepannya akan mulai diarahkan kepada kemampuan siswa dalam memahami berbagai informasi yang mereka peroleh dari internet.
Kompetensi siswa dalam memahami informasi secara digital tentunya akan sejalan dengan era digitalisasi seperti sekarang. Kompetensi tersebut juga harus diimbangi dengan kemampuan untuk mengidentifikasi sumber informasi yang dapat dipercaya, bagaimana cara memahami informasi yang merupak hoax, kiat-kiat untuk melindungi diri mereka selama aktivitas daring mereka agar terhindar dari perundungan siber (cyberbullying), penipuan (online fraud), pelanggaran privasi (privacy breach) dan lain-lain.
Selain itu, konten pada pembelajaran juga idealnya harus relevan dengan kebutuhan siswa saat ini, misalnya kemampuan mereka untuk berpikir kritis dan memupuk model pembelajaran yang mengutamakan kebiasaan bertanya, menganalisis dan menyatakan argumen dalam diskusi harus diperkuat sebagai pondasi dalam peningkatan literasi digital. Hal ini sudah terbukti berhasil dilakukan oleh negara- negara maju pada sistem pendidikannya.
Upaya peningkatan kemampuan literasi digital siswa tentunya juga harus diimbangi dengan pelatihan- pelatihan literasi digital bagi guru. Mengapa hal ini perlu? Karena guru merupakan garda terdepan yang akan menjadi role model bagi siswa. Tanpa meningkatkan kompetensi TIK guru yang masih tergolong rendah serta peningkatan pedagogi berpikir kritis diantara para guru, mereka tidak akan dapat berperan dalam meningkatkan literasi digital siswa.
Terakhir, tentunya harapan kita bersama, adanya pemerataan akses internet bagi seluruh masyarakat. Hal ini tentunya menjadi tantangan literasi digital karena masih banyak daerah yang kesulitan akses internet.
