Konten dari Pengguna

Dapur Untuk Perempuan, Nafkah Untuk Semua

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Catrine Laura Sitio tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desain Animasi Ketidaksetaraan Gender. Foto : Catrine Laura Sitio
zoom-in-whitePerbesar
Desain Animasi Ketidaksetaraan Gender. Foto : Catrine Laura Sitio

Pernah dengar tidak?

“Anak laki-laki tidak pernah diajari masuk dapur, tetapi anak perempuan ikut cari nafkah tidak apa-apa.”

Kalimat ini terdengar sederhana. Bahkan bagi sebagian orang, mungkin terdengar biasa saja karena sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, terdapat ketimpangan yang selama ini dianggap wajar dalam pembagian peran antara laki-laki dan perempuan.

Ketika perempuan dinilai dari sebuah jawaban atas pertanyaan “bisa masak tidak?”, ada sesuatu yang terasa najis dalam cara berpikir kita. Bukan dapurnya yang najis, bukan pula pekerjaannya. Yang najis adalah standar ganda yang terus dipelihara.

Perempuan ditanya apakah bisa memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan mengurus anak. Namun jarang ada laki-laki yang ditanya apakah ia mampu melakukan hal yang sama. Perempuan dituntut siap menjadi istri, sementara laki-laki jarang dituntut siap menjadi pasangan yang setara.

Lebih ironis lagi, perempuan hari ini tidak hanya diminta piawai di dapur. Mereka juga dituntut berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan yang mapan, membantu ekonomi keluarga, bahkan dalam banyak kasus menjadi tulang punggung rumah tangga. Ketika perempuan bekerja, masyarakat menyebutnya hebat. Namun ketika ia tidak mampu memenuhi ekspektasi domestik yang sama, masyarakat dengan cepat menghakiminya.

Di sinilah ketidakadilan itu bersembunyi. Perempuan diminta menambah peran, sedangkan laki-laki sering kali tidak diminta menambah tanggung jawab. Perempuan harus mampu menjalankan dua dunia sekaligus, sementara sebagian laki-laki masih diberi kemewahan untuk memilih salah satunya.

Yang paling menyedihkan, cara berpikir ini diwariskan dari generasi ke generasi dan dianggap sebagai sesuatu yang normal. Padahal tidak ada yang normal dari sistem yang membebani satu pihak lebih banyak hanya karena ia terlahir sebagai perempuan.

Mengapa laki-laki masih merasa terhina ketika dituntut mencuci piring?

Jika perempuan dianggap modern ketika bekerja, mengapa laki-laki tidak dianggap modern ketika masuk dapur?

Mungkin yang najis bukanlah dapur, melainkan pola pikir yang menganggap kesetaraan sebagai ancaman dan ketimpangan sebagai tradisi.

Perempuan tidak keberatan belajar memasak. Yang mereka pertanyakan adalah mengapa mereka juga harus belajar mencari nafkah, sementara sebagian laki-laki masih merasa najis untuk sekadar mencuci piringnya sendiri.