Jembatan Yang Tak Lagi Mudah Diseberangi

Mahasiswa Aktif Universitas Medan Area Jurusan Ilmu Komunikasi. Menulis untuk merekam peristiwa, mengangkat cerita, dan menyampaikan fakta.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Catrine Laura Sitio tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jembatan dibangun untuk menghubungkan dua tempat yang terpisah. Ia memberi harapan bahwa siapa pun yang melangkah di atasnya akan sampai ke tujuan. Dalam kehidupan, pendidikan tinggi selama ini dipandang sebagai jembatan semacam itu. Ia dipercaya mampu menghubungkan keterbatasan menuju kesempatan, kemiskinan menuju kesejahteraan, dan mimpi menuju kenyataan.
Namun, bagaimana jika jembatan itu masih berdiri, tetapi semakin banyak orang ragu untuk menyeberanginya?
Belakangan publik dihebohkan dengan perbincangan mengenai puluhan ribu calon mahasiswa yang tidak melanjutkan registrasi setelah dinyatakan diterima di perguruan tinggi negeri. Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) memang telah mengklarifikasi bahwa angka yang ramai diperbincangkan merupakan akumulasi dari berbagai jalur penerimaan pada pelaksanaan sebelumnya dan penyebabnya beragam. Namun, di balik polemik angka tersebut, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih penting: mengapa kesempatan yang selama ini diperebutkan tidak selalu dapat diwujudkan menjadi pendidikan yang benar-benar dijalani?
Selama bertahun-tahun, masyarakat Indonesia memegang keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan. Orang tua rela bekerja siang dan malam agar anaknya bisa kuliah. Sebagian menjual tanah, menggadaikan perhiasan, atau mengorbankan kebutuhan lain demi satu harapan sederhana: anak mereka memiliki kehidupan yang lebih baik.
Keyakinan itu kini mulai menghadapi ujian. Bukan karena pendidikan kehilangan nilainya, tetapi karena perjalanan menuju pendidikan tinggi semakin dipenuhi rintangan. Uang kuliah hanyalah satu bagian dari persoalan. Bagi banyak mahasiswa, terutama mereka yang harus merantau, biaya kos, makan, transportasi, buku, laptop, hingga kebutuhan sehari-hari menjadi beban yang sering kali lebih besar daripada biaya akademik itu sendiri.
Jembatan menuju masa depan masih ada. Namun, di bawahnya seolah mengintai berbagai “buaya” yang siap menggagalkan langkah mereka. Buaya itu bukanlah hewan yang hidup di sungai, melainkan simbol dari hambatan yang nyata: tekanan ekonomi keluarga, biaya hidup yang terus meningkat, kesempatan kerja yang semakin kompetitif, hingga ketidakpastian setelah lulus. Tidak sedikit anak muda yang akhirnya memilih berhenti sebelum benar-benar menyeberang, bukan karena mereka kehilangan mimpi, melainkan karena merasa jalan menuju mimpi itu semakin sulit dilalui.
Situasi ini juga memunculkan pertanyaan yang lebih besar. Apakah pendidikan tinggi masih menjadi tangga mobilitas sosial seperti yang diyakini selama ini? Dahulu, gelar sarjana hampir selalu dipandang sebagai pintu menuju pekerjaan yang lebih baik. Kini, banyak lulusan perguruan tinggi justru menghadapi persaingan kerja yang semakin ketat. Dunia kerja menuntut pengalaman, keterampilan digital, kemampuan beradaptasi, dan kompetensi yang terus berkembang. Gelar tetap penting, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya penentu masa depan.
Kondisi tersebut perlahan mengubah cara pandang generasi muda. Jika dahulu mereka bertanya bagaimana caranya agar bisa kuliah, kini pertanyaan itu berubah menjadi apakah kuliah masih mampu mengubah kehidupan mereka. Pergeseran cara berpikir ini patut menjadi perhatian. Ketika kepercayaan terhadap pendidikan mulai memudar, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya masa depan individu, tetapi juga masa depan bangsa.
Padahal Indonesia tengah menikmati bonus demografi, sebuah momentum ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibanding kelompok usia lainnya. Bonus ini sering disebut sebagai peluang emas menuju Indonesia Emas 2045. Akan tetapi, peluang tersebut hanya akan menjadi kenyataan apabila generasi mudanya memiliki akses terhadap pendidikan yang berkualitas dan kesempatan yang sama untuk berkembang.
Persoalan ini juga tidak dapat dilepaskan dari tantangan kebangsaan Indonesia sebagai negara yang multietnis. Ketimpangan akses pendidikan di berbagai daerah berpotensi memperlebar kesenjangan antarkelompok masyarakat. Ketika sebagian generasi muda memperoleh akses pendidikan yang baik, sementara sebagian lainnya terus tertinggal karena keterbatasan ekonomi maupun pembangunan daerah, rasa keadilan sosial dapat terkikis. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memunculkan sikap yang lebih mengutamakan identitas kelompok atau etnis dibandingkan identitas sebagai bangsa Indonesia. Di sinilah pembangunan yang merata menjadi penting, bukan hanya untuk meningkatkan kesejahteraan, tetapi juga untuk memperkuat persatuan nasional di tengah keberagaman.
Karena itu, pembahasan mengenai pendidikan tinggi tidak boleh berhenti pada banyaknya siswa yang berhasil lolos seleksi. Yang lebih penting adalah memastikan mereka mampu bertahan hingga menyelesaikan pendidikan. Bantuan pendidikan perlu dipandang lebih luas, tidak hanya mencakup biaya kuliah, tetapi juga biaya hidup yang sering menjadi hambatan terbesar. Kampus, pemerintah, dan dunia usaha harus membangun ekosistem yang memungkinkan mahasiswa belajar tanpa terus dibayangi kekhawatiran ekonomi.
Pada akhirnya, pendidikan harus tetap menjadi jembatan yang dapat dilalui siapa saja, bukan hanya mereka yang memiliki kemampuan ekonomi. Sebab, jembatan yang kokoh tidak hanya dibangun dari beton dan baja, tetapi juga dari rasa aman bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai seberang.
Jika di bawah jembatan pendidikan masih ada “buaya” yang membuat anak-anak muda takut melangkah atau bahkan terpaksa berbalik arah, maka yang perlu kita bangun bukan sekadar lebih banyak jembatan. Yang harus kita lakukan adalah menyingkirkan hambatan yang membuat perjalanan menuju masa depan tidak lagi terasa mungkin.
Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang sekadar mampu mengantar generasi mudanya masuk ke perguruan tinggi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memastikan mereka dapat menyeberangi jembatan itu hingga tiba di masa depan yang lebih baik.
