“Kuliah atau Kerja?" Bagaimana Kita Menanggapi Fenomena Ini di Sosial Media?

Mahasiswa Universitas Airlangga
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Jhonriz Steven tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sosial Media, sebuah teknologi informasi yang memiliki tendesi luar biasa di era sekarang ini atau dapat dikatakan era globalisasi. Contoh tersendiri dari media sosial adalah bagaimana Hadirya sosial media membuat manusia lebih terbantu untuk mengakses,mencari informasi untuk berbagai jenis kebutuhan. Namun ada fenomena digital divede yang diartikan kesenjangan manusia sati dengan manusia dalam mengakses dan mengerti teknologi informasi,hal yang membuat digital divide terjadi salah satunya adalah pendidikan yang rendah. Pendidikan memiliki andil yang besar bagimana manusia mengenal teknologi, dasar teknologi berasal dari pendidikan itu sendiri seperti Matematika, Fisika, Ilmu Alam,Ilmu Sosial,dkk. Menurut Badan Pusat Statistik persentase pendidikan terakhir di Indonesia memiliki rincian
Data dibagi menjadi 3 bagian yaitu daerah tempat tinggal yaitu perkotaan dan pedesaan serta total persentase dengan masih masing bagian dengan pembagian laki-laki dan Perempuan serta totalnya.
Melihat pada total pada perkotaan + pedesaan dan di persentase total laki laki dan Perempuan. 3.25% Masyarakat tidak/belum pernah sekolah, 9.01% belum tamat SD, 24.62% di tingkat SD/Sederajat,22.74% ditingkat SMP/Sederajat,30.22% ditingkat SMA dan, 10.15% yang baru saja pada tingkat perguruan tinggi (S1/S2/S3). Melihat pada pernyataan sebelumnya dengan tabel ternyata Indonesia masih tinggal dalam fenomena digital divide. Lalu apa resikonya? Awareness atau kepekaan terhadap informasi itu rendah yang membuat masyrakat menelan mentah sebuah informasi terkadang bisa menjadi penggiringan opini yang buruk dan tidak dapat melihat berbagai sudut pandang yang ada. Hal ini tercontohkan pada isu di sosial media yaitu tiktok bagaimana masyarakat Indonesia bersitegang antara kuliah dan langsung kerja. Dapat dilihat pada screenshot ini.
Sangat disayangkan terjadi perpecahan antara masyrakat yang sedang menjalani atau telah lulus dari perguruan tinggi (kuliah) dengan masyrakat yang didentifikasi tidak merasakan kuliah dan langsung bekerja . Fenomena berawal dari kutipan “kuliah adalah pengangguran dengan gaya, nongkrong 4 Tahun dengan gaya fantastis” ini adalah salah penggiringan opini yang buruk dan tidak melihat sudut pandang yang lain yang menyebar dengan respon negatif dari kalangan yang pro terhadap pernyataan ini seperti “lebih baik buka usaha/langsung kerja agar mendapat uang” kemudian ada yang menanggapi “S1 ujung-ujung cari loker sama yang tidak kuliah”. Salah satu naluri mahluk hidup adalah survival/bertahan sehinga dari respon negatif ini terdapat balasan yang tidak tersampaikan dengan baik dari beberapa kalangan yang sedang menjalani pendidikan tinggi (kuliah) sendiri seperti memperlihatkan prestasi dan berbagai macam pencapaian seraya ‘meremehkan’ mereka yang memberi respons negatif terhadap kuliah.
Penulis yang nerupakan seorang Mahasiswa di salah satu universitas di Indonesia menanggapi hal ini sebagai ketidakpekaan terhadap sudut padang yang lain. Dimana kita perlu tau salah satu latar belakang masyarakat selain pendidikan yaitu ekonomi. Badan Pusat Statistik dan beberapa lembaga survei lain mengeluarkan berbagai data bagaimana kondisi pendapatan di Indonesia di beberapa tahun ini.
Dari hal ini penulis mencoba menyatakan kondisi sebenarnya dari Indonesia masih ‘kurang’ sejahtera dengan persebaran dari pendapatan pada 2020 – 2022 dengan sampel jakarta dimana nilai persentase yang tidak berubah secara signifikan antara berpendapatan rendah dengan berpendapatan menengah dengan berpendapatan tinggi. Yang menyebabkan adanya ‘stagnan’ dan pendapatan yang tidak merata yang didukung dari data 2016 oleh databooks katadata. Terbentuk opini bahwa akibat adanya pendapatan yang kurang merata ini membuat masyarakat membentuk mindset/psikis “More Money, Less Spending” agar yang tberada di kelas bawah ataupun menengah dapat merubah nasib mereka danmenimbulkan tindakan meremehkan pendidikan yang memang jika melihat dari data databooks katadata
semakin tinggi suatu pendidikan maka semakin besar biaya nya juga. Hal ini membuat tingkat pendidikan terakhir mayoritas dari SMA. Kenapa tidak mencoba mencari beasiswa? Memang beasiswa sekarang sudah sangat banyak namun apakah sudah naik dalam meng-cover semuanya? Penulis sebagai mahasiswa melihat juga bagaimana beasiswa masih menjadikan poin utama SKTM (surat keterangan tidak mampu) dimana adanya hal ini beasiswa menjadi tujuan bagi kelas bawah (miskin). Kembali pada databooks tahun 2016 bahwa kelas menengah adalah kelas terbanyak sebagai status masyrakat di Indonesia yang menyebabkan hal ini masih banyak yang terkendala dalam meraih beasiswa ini. Alhasil masyarakat yang langsung bekerja ataupun membuka usaha dengan harapan agar ada pendapatan yang dapat menghidupi dibandungkan harus kuliah.
Lalu apakah benar pernyataan bahwa “kuliah adalah pengangguran dengan gaya, nongkrong 4 Tahun dengan gaya fantastis” tentu saja tidak. Banyak hal yang dilakukan selama kuliah belajar mengenai hal baru, mengerti akan sudut pandang yang baru, kemudian belajar bagaimana caranya menghadapi tekanan dengan baik, bagaimana cara melakukan penelitian dan analisa lalu beroganisasi membangun relasi tidak luput juga bahwa di kuliah juga terdapat program KKN dimana hal ini bertujuan agar ilmu yang didapat selama perkuliahan dapat di aplikasikan pada masyarakat sehingga ilmu tersebut bermanfaat bagi nusa dan bangsa. Selain itu dengan kuliah juga memberikan “prestige” dalam dunia kerja seperti kenaikan jabatan yang signifikan yang dicontohkan dalam penggolongan ASN yang terdapat golongan 1a sampai pada eselon. Karena dunia perusahaan juga membutukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dapat berpikir kritis, memiliki referensi yang banyak dalam meningkatkan engangement perusahaan dan kebijakan perusahaan.
Bagaimana cara kita mengupayakan fenomena ini agar menjadi trend yang baik?
- Dari sisi masyarakat yang menempuh pendidikan tinggi
1. Selalu upayakan untuk memberikan penjelasan dengan baik, karena bisa saja apa yang ada di media sosial untuk menggiring opini bahwa “Orang yang kuliah tidak punya attidude”.
2. Share pengalaman yang dapat menyadarkan bahwa di kuliah selain belajar juga memberikan impact kepada masyarakat seperti menjadi sukarelawan untuk korban banjir,dll. Dengan adanya hal ini masyarakat akan lebih yakin bahwa pendidikan tinggi itu penting
- Dari sisi masyarakat yang belum berkesempatan menempuh pendidikan tinggi
1. Menjelaskan bahwa apa yang tidak bisa membuat individu tidak dapat kuliah, hal ini juga menaruh respons perhatian untuk masyarakat.
2. Lalu berbagai pengalaman bagaimana cara membuka usaha atau meningkatkan ketrampilan bekerja ditengah peningkatan pemgangguran ini
- Saran untuk pemerintah
1. Mengatur birokrasi pelayanan public yang efisien dan sesuai tujuan dengan melalakukan pelatihan teknologi infomasi kepada ASN yang Gaptek ( Gagap teknologi agar kefisienan dalam pelayanan public dapat optimal)
2. Mengurangi beban administrasi public, sejauh ini pasar yang ada di Indonesia masih dikuasai oleh negara, mungkin bisa memulai privatisasi atau membuat kompetensi di pasar yang dapat mengurangi pengangguran.
3. Memperpanjang kebijakan pra-kerja sekaligus menambahkan kelas teori bagi yang tidak mendapatkan pendidikan tinggi agar menciptakan SDM yang dapat melakukan riset pengembangan suatu perusahaan
4. Memperbaiki Sistem pendidikan dasar dan menengah yang sekiranya bisa meningkatkan daya tarik belajar seperti kurikulum yang mengajarkan kolaborasi serta melakukan efisiensi administrasi yang di tanggung oleh guru agar dapat mengajar murid dengan optimal.
5. Pengoptimalan kelas karyawan di universitas seperti penekanan biaya yang dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat yang tidak berkesempatan kuliah namun telah bekerja.
Konklusi dari semua ini adalah baik bekerja dan kuliah sama sama diperlukan untuk membangun suatu negara dan juga perlunya pemahaman terhadap berbagai pihak dengan sudut padang yang lain agar tidak terjadi respons negatif dalam aktivitas nyata maupun media sosial.
Daftar Pustaka
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTYxMCMx/persentase-penduduk-umur-15-tahun-ke-atas-menurut-klasifikasi-desa--jenis-kelamin--dan-jenjang-pendidikan-tertinggi-yang-ditamatkan--2009-2023.html
https://jakarta.bps.go.id/indicator/155/1126/1/distribusi-pendapatan-penduduk-menurut-kriteria-bank-dunia-di-provinsi-dki-jakarta.html
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/09/14/sebanyak-115-juta-masyarakat-indonesia-menuju-kelas-menengah
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/05/05/awal-2023-ada-79-juta-pengangguran-di-indonesia
