Konten dari Pengguna

Mahasiswa BBK 8 UNAIR Sosialisasikan “Save One Soul” Kepada Warga Desa Tamansari

Jhonriz Steven

Jhonriz Steven

Mahasiswa Universitas Airlangga

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jhonriz Steven tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jason Oktavian, Mahasiswa BBK 8 UNAIR sedang menjelaskan prosedur pompa Jantung (Foto : Tim BBK 8 Tamansari)
zoom-in-whitePerbesar
Jason Oktavian, Mahasiswa BBK 8 UNAIR sedang menjelaskan prosedur pompa Jantung (Foto : Tim BBK 8 Tamansari)

Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 8 Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kegiatan di bidang kesehatan bertajuk Save One Soul (S.O.S) di Balai Desa Tamansari, Kecamatan Tegalsari, Jawa Timur, pada Rabu (27/7/2026). Kegiatan ini menghadirkan sosialisasi mengenai bantuan hidup dasar sekaligus memberikan perhatian terhadap peran dan kondisi caregiver dalam merawat anggota keluarga. Berlangsung secara interaktif dan partisipatif, kegiatan tersebut mengajak masyarakat untuk tidak hanya memahami pentingnya pertolongan pertama dalam situasi darurat, tetapi juga mampu menerapkannya secara tepat sebelum mendapatkan penanganan dari tenaga medis.

Program S.O.S dirancang untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam menghadapi kondisi gawat darurat. Selain memberikan edukasi mengenai langkah-langkah praktis pertolongan pertama, kegiatan ini juga mendorong masyarakat untuk memahami pentingnya peran caregiver dalam menjaga keselamatan dan kesehatan anggota keluarga. Di sisi lain, perhatian turut diberikan pada kesehatan mental caregiver, mengingat beban perawatan yang berlangsung terus-menerus dapat memicu kejenuhan atau caregiver burnout. Melalui kegiatan ini, mahasiswa BBK 8 UNAIR berharap masyarakat dapat lebih sigap menghadapi keadaan darurat sekaligus memiliki kesadaran yang lebih baik dalam menjaga kesehatan fisik dan mental para caregiver.

Gunakan Peraga untuk Bantuan Hidup Dasar

Pelaksanaan program diawali dengan sesi interaktif untuk mengukur pemahaman awal masyarakat mengenai bantuan hidup dasar. Selanjutnya, Jason Oktavian, pemateri dari tim BBK 8 UNAIR, menyampaikan materi mengenai langkah-langkah pertolongan pada kondisi gawat darurat, khususnya ketika seseorang tidak sadarkan diri atau mengalami napas megap-megap.

Dalam pemaparannya, Jason menekankan pentingnya prinsip 3A, yaitu Amankan Diri, Amankan Pasien, dan Amankan Lingkungan, sebelum melakukan pemeriksaan kesadaran. Peserta kemudian diperkenalkan pada tahapan A-B-C (Airway, Breathing, Circulation) sebagai dasar dalam memberikan bantuan hidup dasar hingga tindakan pijat jantung.

Mahasiswa BBK 8 Unair sedang memperagakan prosedur bantuan hidup dasar melalui Focus Group Discussion (Foto : Tim BBK 8 Tamansari)

Untuk memastikan materi dapat dipraktikkan, sesi evaluasi dikemas dalam bentuk focus group discussion (FGD). Masyarakat dibagi ke dalam beberapa kelompok dan didampingi mahasiswa BBK 8 UNAIR untuk mempraktikkan prosedur bantuan hidup dasar secara langsung. Dengan pendekatan ini, peserta tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam menerapkannya pada situasi darurat.

Pentingnya Mental Caregiver

Regina, Mahasiswa BBK 8 UNAIR sedang menjelaskan pentingnya kondisi mental caregivers (Foto : Tim BBK 8 Tamansari)

Tidak kalah penting, setelah sesi bantuan hidup dasar terdapat pemaparan materi bagaimana pentingnya mengetahui kondisi mental caregiver yang disampaikan oleh Regina. Caregiver sendiri merupakan orang yang memberikan pendampingan dan perawatan kepada orang lain. Regina menjelaskan bahwa dibalik tanggung jawab seorang caregiver terdapat beban mental yang besar salah satunya adalah burnout, hal ini bisa diidentifikasi dengan melihat kondisi fisik yang lelah terus-menerus, mudah marah atau cemas dan sering menarik diri dari lingkungan sosial. Regina juga menjabarkan strategi self-care mental dan teknik grounding serta tidak lupa untuk mencari bantuan profesional jika dirasa kondisi mental tidak membaik.

Program ini tersebut disambut baik oleh masyarakat desa Tamansari, salah satu warga desa menuturkan “ Kegiatan bantuan dasar hidup seperti ini sangat membantu kami untuk bisa membantu orang yang tidak sadarkan diri yang memang kebetulan banyak terjadi kejadian seperti itu di desa ini” ujarnya.

Tak luput juga kegiatan sosialisasi ‘S.O.S’ mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) poin ke-3 tentang “Kehidupan Sehat dan Sejahtera”

Berita ini mendukung pencapaian SDG 3 : Good Health and Well-being #SDG3 #GoodHealthandWell-being