Konten dari Pengguna

Multi Level Marketing: Strategi Menuju Kehidupan Mewah?

Lorenzo Ricsamana

Lorenzo Ricsamana

Mahasiswa Master of Management in Technology, President University

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lorenzo Ricsamana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah diminta untuk bergabung dengan sebuah bisnis yang dapat mengubah hidup? Pernah mendengar “Jika mengumpulkan sekian poin, kamu akan mendapat ini dan itu”? Hal seperti itu sudah menjadi stigma masyarakat luas dalam hal pemasaran berjenjang atau Multi-Level Marketing yang juga disebut pemasaran jaringan. Pada dasarnya, perusahaan Multi Level Marketing adalah metode pemasaran penjualan produk perusahaan yang dilakukan secara individu atau kelompok yang membuat jaringan secara bertahap, setelah itu perusahaan akan menghitung insentif berdasarkan hasil penjualan per bulan dari jaringan pribadi dan kelompok.

Multi-Level Marketing Berbentuk "Pohon Jaringan". Source: istockphoto
zoom-in-whitePerbesar
Multi-Level Marketing Berbentuk "Pohon Jaringan". Source: istockphoto

Terdapat tiga hal yang dapat menggambarkan apa itu Multi Level Marketing.

  1. Karena nama lain dari MLM adalah network marketing, jadi secara tepat mendefenisikan bahwa kita membutuhkan koneksi/network untuk menjalankan bisnis ini. Dengan mengundang seseorang untuk bergabung dengan “jaringan”, kita telah menjadikan orang tersebut sebagai downline di pohon jaringan. Semakin banyak orang yang kita ajak bergabung dalam jaringan, maka semakin besar pula penghasilan yang bisa kita dapatkan.

  2. Kedua adalah menjual. Umumnya dengan bergabung dalam bisnis MLM, selain kita mengajak orang untuk bergabung dalam jaringan grup, kita juga menjual produk dari perusahaan itu sendiri. Penjualan produk ini dilakukan untuk meningkatkan poin grup. Semakin banyak poin grup yang ada, semakin banyak pendapatan yang bisa kita dapatkan. Ini juga menjadi alasan mengapa sistem pemasaran berjenjang meminta kita untuk mengundang sebanyak mungkin orang. Plus adanya keuntungan dari penjualan langsung.

  3. Poin terakhir yang dapat diuraikan apa itu multi level marketing, setiap orang yang memasuki bisnis ini akan menerima hadiah atau kompensasi lain jika berhasil mencapai target yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Reward yang diterima biasanya tidak hanya berupa uang tunai tetapi juga barang.

Jika berbicara tentang keberhasilan cara kerja multi level marketing, penulis percaya bahwa hal ini tidak lepas dari strategi harga dan promosi yang kuat. Jika dilihat dari sudut pandang MLM sendiri, harga produk menjadi faktor keuntungan bagi konsultan independen yang bekerja untuk perusahaan. Sebagai contoh, Oriflame yang merupakan perusahaan MLM yang menjual kosmetik bisa dilihat dari 2 sisi, yang pertama adalah harga yang dibandingkan dengan merek sekelas terlihat cukup tinggi karena ingin menciptakan persepsi eksklusivitas. Mengingat, produk Oriflame berbasis di Swedia. Di sisi lain, ada keuntungan langsung bagi konsultan independen jika berhasil menjual produknya. Persentase keuntungan tergantung masing-masing perusahaan, tetapi Oriflame sendiri sekitar 23%.

Peran penting kedua adalah promosi. Strategi promosi yang dilakukan oleh MLM secara signifikan akan memengaruhi dua subjek, yang pertama adalah konsultan independen dan yang kedua adalah konsumen. Dari sudut pandang konsumen, trik promosi yang biasa digunakan oleh multi level marketing adalah kontinuitas maupun saling melengkapi. Misalnya seseorang membeli produk, karena tergiur untuk mendapatkan hadiah lain jika membeli produk tersebut, atau membeli produk kedua, setelah membeli produk pertama karena merasa produk tersebut sangat saling melengkapi dan akan memiliki efek yang lebih baik jika keduanya diterapkan. Ini adalah tugas konsultan independen dalam berkomunikasi dengan konsumen.

Salah satu fenomena yang menjadi perhatian penulis dalam siklus “produk pelengkap” ini adalah seringnya terjadinya Barnum Effect. Efek ini merupakan efek psikologis yang dapat dilakukan oleh konsultan independen kepada konsumen. Ketika konsumen menganggap deskripsi akurat tentang diri mereka dibuat oleh konsultan independen khusus untuk mereka, meskipun deskripsi tersebut sebenarnya sangat umum dapat berlaku untuk banyak orang.

Multi level marketing merupakan kegiatan pemasaran yang cukup kompleks, dimana perusahaan dan konsultan independen menggunakan strategi yang cukup banyak dalam kelangsungan usahanya. Namun biasanya ada strategi yang sering kita temukan, dan tanpa strategi tersebut perusahaan MLM tidak akan bisa berkembang. Hal tersebut adalah strategi media sosial dan strategi pemasaran konten. Saat ini, bisa dikatakan media sosial sudah menjadi nafas kehidupan atau makanan sehari-hari bagi banyak orang. Berdasarkan data dari Forbes, rata-rata pengguna internet di dunia menghabiskan waktu sekitar 3-4 jam per hari untuk membuka media sosial di gawai mereka. Angka yang cukup besar mengingat tidak semua orang yang melihat media sosial juga akan mendapatkan penghasilan dari sana.

Analisa Data Pada Media Sosial. Source: Unsplash

Tidak heran jika media sosial adalah wadah terbesar untuk melakukan pemasaran, di mana kita dapat mengarahkan traffic hingga build awareness. Hal ini juga dimanfaatkan oleh para pelaku MLM, baik perusahaan langsung maupun konsultan independen dalam melakukan social selling. Dengan bentuk strategi ini, jika Anda tidak menggunakan hal ini dengan benar, Anda tidak akan tahu seberapa besar jangkauan yang sebenarnya bisa Anda capai. Kembali ke gambaran dasar dari banyak media sosial, infinity pool.

Di akhir cerita, Multi Level Marketing adalah strategi pemasaran yang sebenarnya banyak diterapkan dalam beberapa aspek kehidupan. Selain itu, strategi ini mengaitkan pemangku kepentingan mendapatkan "lebih banyak" dari apa yang mereka kerjakan. Nah, apakah Anda tertarik untuk menerapkan strategi ini?

Lorenzo Ricsamana Sawato Telaumbanua

Mahasiswa Master of Management in Technology, President University