Dunia Dorong Energi Hijau, Afrika Malah Dipaksa Bertahan di Minyak

Mahasiswa Universitas Sriwijaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Lovenia zahrah Shaffa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Afrika saat ini berada dalam posisi yang dilematis. Di satu sisi didorong untuk ikut dalam transisi energi global, tetapi di sisi lain justru semakin dikunci dalam ketergantungan pada energi fosil karena kebutuhan pasar dunia.
Di saat negara-negara maju berlomba menekan emisi karbon dan berjanji mencapai net zero, kenyataan di lapangan justru bergerak ke arah sebaliknya. Krisis di Timur Tengah pada 2026 yang mengganggu jalur distribusi energi global kembali memperlihatkan satu hal, ketika situasi genting, dunia tetap bergantung pada minyak. Dalam kondisi seperti ini, Afrika kembali diposisikan sebagai penyelamat pasokan, bukan sebagai bagian dari masa depan energi bersih, tetapi sebagai penopang sistem lama yang belum benar-benar ditinggalkan.
Dalam situasi seperti ini, Afrika kembali diposisikan sebagai penyelamat. Negara-negara penghasil minyak di benua ini mendadak dilirik untuk menutup kekurangan pasokan global. Namun, kondisi ini juga membuka pertanyaan yang lebih dalam: apakah Afrika benar-benar sedang naik peran dalam sistem energi global, atau hanya kembali mengisi kekosongan sementara yang ditinggalkan kawasan lain?
Afrika di tengah tekanan
Afrika saat ini berada dalam posisi yang tidak sederhana. Di satu sisi, ada dorongan kuat dari komunitas internasional agar negara-negara berkembang ikut dalam transisi energi menuju sumber yang lebih bersih. Agenda seperti net zero emission dan pengurangan emisi karbon terus didorong dalam berbagai forum global, termasuk melalui skema pendanaan iklim dan kerja sama internasional.
Namun di sisi lain, realitas pasar global menunjukkan hal yang berbeda. Ketika terjadi krisis, negara-negara besar justru kembali mencari pasokan energi fosil dalam jumlah besar. Hal ini membuat Afrika berada di tengah dua tekanan yang bertolak belakang: mengikuti tuntutan transisi energi atau merespons kebutuhan pasar yang masih sangat bergantung pada minyak dan gas. Posisi ini membuat kebijakan energi di Afrika sering kali bersifat reaktif, bukan strategis.
Ketimpangan investasi energi global
Secara global, tren investasi energi memang menunjukkan pergeseran ke arah energi bersih. International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa investasi energi bersih mencapai lebih dari US$1,7 triliun pada 2023, melampaui investasi di sektor fosil yang berada di kisaran US$1 triliun. Angka ini sering dijadikan bukti bahwa dunia sedang bergerak menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.
Namun, jika dilihat lebih dekat, distribusi investasi tersebut sangat timpang. Afrika hanya menerima sekitar 2–3% dari total investasi energi bersih global, meskipun memiliki sekitar 60% potensi tenaga surya terbaik di dunia. Artinya, meskipun secara narasi Afrika didorong untuk beralih ke energi hijau, secara material benua ini belum mendapatkan dukungan yang cukup untuk benar-benar melakukan transisi tersebut.
Ketergantungan yang sulit dilepaskan
Ketimpangan investasi ini berdampak langsung pada struktur ekonomi negara-negara Afrika. Banyak negara masih sangat bergantung pada sektor minyak dan gas sebagai sumber utama pendapatan. African Development Bank mencatat bahwa di negara seperti Nigeria dan Angola, lebih dari 70% pendapatan ekspor masih berasal dari sektor energi fosil.
Selain itu, tantangan domestik juga tidak kecil. World Bank melaporkan bahwa lebih dari 600 juta orang di Afrika Sub-Sahara masih belum memiliki akses listrik. Dalam kondisi seperti ini, prioritas utama pemerintah bukanlah mengurangi penggunaan energi fosil, melainkan memastikan masyarakat memiliki akses energi yang memadai. Hal ini membuat transisi energi menjadi isu yang kompleks, karena harus bersaing dengan kebutuhan dasar yang belum terpenuhi.
Risiko jangka panjang: terjebak di masa lalu
Ketergantungan terhadap energi fosil memang memberikan keuntungan jangka pendek, terutama ketika harga dan permintaan sedang tinggi. Namun, dalam jangka panjang, strategi ini mengandung risiko besar. World Bank memperkirakan bahwa permintaan global terhadap bahan bakar fosil dapat menurun secara signifikan dalam beberapa dekade ke depan seiring percepatan transisi energi di negara maju.
Jika hal ini terjadi, negara-negara yang terlalu bergantung pada minyak berpotensi mengalami penurunan pendapatan yang drastis. Fenomena ini dikenal sebagai stranded assets, di mana sumber daya yang sebelumnya bernilai tinggi menjadi kurang atau bahkan tidak bernilai secara ekonomi. Dengan kata lain, Afrika berisiko kehilangan momentum jika tidak mulai menyiapkan alternatif sejak sekarang.
Standar ganda dalam transisi energi
Tekanan untuk beralih ke energi bersih juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik global. Negara-negara maju yang saat ini paling vokal dalam isu dekarbonisasi adalah pihak yang selama lebih dari satu abad membangun ekonominya dengan energi fosil. Mereka memiliki kapasitas finansial, teknologi, dan infrastruktur yang jauh lebih siap untuk melakukan transisi.
Ekonom Joseph Stiglitz menyoroti bahwa sistem ekonomi global sering kali tidak adil karena aturan mainnya ditentukan oleh negara yang sudah lebih dulu maju. Dalam konteks ini, tuntutan agar Afrika segera meninggalkan energi fosil tanpa dukungan yang memadai mencerminkan adanya standar ganda. Afrika diharapkan berubah cepat, tetapi tidak diberi sumber daya yang cukup untuk melakukannya.
Solusi dan rekomendasi yang dapat diajukan
Melihat berbagai tantangan tersebut, Afrika tidak bisa hanya berada dalam posisi reaktif terhadap dinamika global. Diperlukan langkah yang lebih strategis agar keuntungan dari sektor energi tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga mampu menjadi fondasi pembangunan jangka panjang. Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain:
• Meningkatkan investasi domestik di energi terbarukan, terutama solar
• Mendoorng transfer teknologi dari negara maju, bukan hanya investasi
• Mengembangkan industri hilir untuk mengurangi ekspor bahan mentah
• Menggunkan pendapatan dari minyak sebagai modal transisi energi
• Memperkuat posisi tawar dalam negosiasi pendanaan iklim global
Krisis energi global kembali menunjukkan bahwa dunia belum siap sepenuhnya meninggalkan minyak. Dalam situasi ini, Afrika memang mendapatkan peluang ekonomi, tetapi peluang tersebut datang bersama risiko yang tidak kecil. Tanpa strategi yang jelas, keuntungan hari ini bisa berubah menjadi kerugian di masa depan.
Pada akhirnya, tantangan terbesar Afrika bukan memilih antara energi fosil atau energi bersih, tetapi bagaimana keluar dari posisi sebagai pihak yang selalu bereaksi terhadap perubahan global. Jika tidak, pola lama akan terus berulang, di mana dibutuhkan saat krisis, tetapi tertinggal ketika dunia benar-benar berubah.
