Konten dari Pengguna

Nrimo ing Pandum: Sehat Mental Saat Pandemi Covid-19 ala Kearifan Budaya Jawa

Regina Lovey Taqiyyah

Regina Lovey Taqiyyah

Seorang Mahasiswi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Regina Lovey Taqiyyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi masyarakat menjalani kehidupan New Normal sebagai salah satu bentuk perwujudan nrimo ing pandum saat pandemi Covid-19. Foto: dok. oleh Farhan Abbas via Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi masyarakat menjalani kehidupan New Normal sebagai salah satu bentuk perwujudan nrimo ing pandum saat pandemi Covid-19. Foto: dok. oleh Farhan Abbas via Unsplash

Sudah lebih satu setengah tahun lamanya sejak WHO (World Health Organization) secara resmi mendeklarasikan virus corona (Covid-19) sebagai pandemi pada tanggal 9 Maret 2020. Hingga kini pun, pelbagai isu terkait Covid-19 masih melanda, seperti permasalahan persebaran vaksin, isu gelombang kedua dan ketiga pandemi, serta berbagai macam varian baru virus Covid-19 yang ditengarai lebih berbahaya dibandingkan sebelumnya.

Pandemi Covid-19 telah membuat sebagian besar masyarakat mengalami banyak tekanan hingga duka karena kehilangan yang terjadi di sekitar kita. Dari mulai ‘dipaksa’ untuk beradaptasi dengan konsep New Normal dengan berbagai protokol kesehatan, sosialisasi kebijakan pemerintah yang tak henti-henti, hingga mungkin suara ambulans yang hampir selalu meraung-raung tiap hari.

Beberapa masalah pun timbul hingga menyebabkan persoalan menjadi kompleks, kejadian-kejadian yang tidak terduga berpotensi memicu kecemasan dan stres. Situasi ini dapat dimengerti, mengingat dampak pandemi terhadap kehidupan masyarakat. Selama masa darurat Covid-19, orang-orang takut terinfeksi, ancaman kematian, kehilangan anggota keluarga, serta ketidakpastian masa depan, yang mana hal ini berdampak signifikan pada kesehatan mental masyarakat. Tak pelak, penyebaran pandemi Covid-19 di seluruh dunia tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik tetapi juga kesehatan mental.

Kesehatan Mental Saat Pandemi

Kesadaran akan pentingnya untuk menjaga kesehatan mental di tengah kondisi pandemi seperti ini tentunya sangat diperlukan. Kesehatan mental harus menjadi yang terdepan dan menjadi pusat respon dan pemulihan setiap negara dari pandemi Covid-19. Dalam konteks masa pandemi Covid-19, menjaga kesehatan mental itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kementrian Kesehatan RI menyatakan dengan kesehatan mental yang baik, kondisi batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar meskipun di tengah masa pandemi Covid-19.

Kesehatan mental menurut WHO sendiri adalah keadaan sejahtera di mana individu menyadari kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan kehidupan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya.

Sejalan dengan hal tersebut, dalam UU RI Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, mendefinisikan kesehatan jiwa sebagai kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.

Kesehatan Mental dalam Konteks Masyarakat Budaya Jawa

Dalam konteks masyarakat budaya jawa, ada hal-hal yang bisa relevan dengan kesehatan mental. Budaya Jawa dikenal memiliki peran strategis dalam pengembangan sumber daya masyarakat dikarenakan nilai budaya Jawa melekat pada manusia yang akan dibesarkan dimanapun dan dimanapun ia berada, dalam hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat tau dengan budaya Jawa (Putri, 2018).

Pada masyarakat Jawa khususnya, kearifan lokal yang berupa filosofi hidup berkaitan dengan kesehatan mental banyak sekali ragamnya. Salah satu filosofi hidup yang dikenal secara luas oleh masyarakat Jawa yang memiliki keterkaitan dengan kesehatan mental adalah ‘Nrimo ing pandum’.

Nrimo Ing Pandum

Filosofi nrimo ing pandum ini diambil dari sesanti masyarakat Jawa yang populer dengan ungkapan Nrimo ing Pandum, Makaryo ing Nyoto; berarti masyarakat Jawa diharapkan dapat menerima pemberian dari Yang Maha Kuasa setelah bekerja keras secara nyata. Nrimo artinya menerima, sedangkan pandum artinya pemberian. Secara singkat nrimo ing pandum berarti menerima segala pemberian Tuhan apa adanya tanpa mengeluh atau mempertanyakan kehendak-Nya.

Jadi, pandangan yang didasarkan pada doktrin ukum pinesthi atau takdir yang menyatakan bahwa Tuhan merupakan sumber nilai-nilai spiritual masyarakat Jawa yang menciptakan dan merancang keharmonisan disebut sebagai nrimo ing pandum (Darmastuti, Prasetya, & Setyawan, 2020). Dalam hal ini, manusia hanya perlu mengikuti apa yang telah ditakdirkan, seperti aturan, nasib, dan takdirnya. Nrimo ing pandum dapat dipahami dengan dua cara: individu harus menerima takdir apa pun yang diberikan dan tanpa berhenti berusaha. Namun, jika hal tersebut memang tidak berjalan seperti yang diharapkan, maka individu harus menerima dan memahami bahwa hal tersebut mungkin rencana yang terbaik dari Tuhan.

Nrimo ing pandum sendiri merupakan sikap menerima atas kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya, yaitu dengan bersikap sabar, lapang dada, dan bijak, serta bertanggung jawab dalam menempatkan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya sesuai kemampuan yang dipahami dari dirinya (Putri, 2018).

Elemen Psikologis Nrimo Ing Pandum

Nrimo ing pandum memiliki tiga indikator atau elemen psikologis, yaitu syukur (kebersyukuran), sabar (kesabaran), dan nrimo (penerimaan). Elemen syukur, kesabaran, dan nrimo yang kuat memudahkan dalam menancapkan sikap nrimo ing pandum dalam jiwa seseorang, memungkinkan seseorang menerima dengan lapang dada segala keadaan, bukannya terjerumus pada pengalaman pahit masa lalu dan ketidakpastian masa depan. Penjelasan masing-masing elemen adalah sebagai berikut:

  • Syukur. Sukur adalah emosi atau perasaan positif atas penerimaan anugerah, yang kemudian berkembang menjadi sikap dan kebiasaan yang pada akhirnya mempengaruhi respon seseorang terhadap lingkungan (Emmons & Mccullough, 2003).

  • Sabar. Sabar merupakan dasar dari nilai ketahanan dan banyak digunakan ketika menghadapi masalah psikologis, seperti ketika menghadapi situasi stres, menghadapi masalah, bencana, atau mengalami situasi emosional yang marah (Subandi, 2011).

  • Nrimo. Endraswara (2012) mengatakan bahwa karakter dasar orang Jawa pada dasarnya adalah 'attitude of receive'. Attitude of receiving adalah mengangkat segala sesuatu dengan kesadaran kejiwaan, tanpa merasa nggrundel (berbicara tentang ketidaksetujuan/ ketidaksukaan di belakang). Nrimo didefinisikan sebagai ketenangan dalam menyelesaikan masalah, gambaran respon afektif dan kognitif seseorang dalam menyelesaikan masalah, dan kemampuan seseorang untuk melakukan introspeksi diri bahkan saat seseorang itu sedang dihadapkan dalam sebuah masalah (Herdiana dan Trisepdiana, 2013).

Bentuk Perwujudan Perilaku Sehat Mental Berdasarkan Elemen Psikologis Nrimo ing Pandum Saat Pandemi Covid-19

Sebelum seseorang melakukan nrimo ing pandum, ada sebentuk usaha yang harus dilakukan terlebih dahulu baru kemudian berserah kepada Sang Pencipta. Elemen usaha inilah yang seringkali terlewat ketika membicarakan nrimo ing pandum, sehingga seolah-olah orang yang nrimo hanya pasrah saja menerima nasib tanpa berbuat apa-apa sebelumnya. Padahal jelas tidak seperti itu. Usaha-usaha yang dilakukan dalam konteks pandemi ini bisa seperti menjalankan protokol kesehatan dan taat akan kebijakan pemerintah terkait Covid-19, serta:

1. Tetap Bersyukur walau dalam kondisi pandemi Covid-19.

Meskipun sebenarnya pandemi Covid-19 ini diidentikkan sebagai ‘bencana’ setidaknya ada banyak hal yang mungkin bisa kita syukuri. Beberapa bentuk perwujudan perilaku berdasarkan nrimo ing pandum pada elemen syukur ini adalah senantiasa bersyukur telah diberikan kesehatan, kesembuhan, kesempatan berkumpul kembali dengan keluarga dalam waktu yang lama, memiliki pengalaman, hobi dan teman baru, serta dapat bertahan hingga saat ini, dll.

Dalam hal ini berarti syukur adalah bagaimana kita dapat tetap melihat sisi positif dan menyadari kemampuan diri sendiri meskipun dalam sebuah situasi yang tidak menyenangkan dengan tetap mensyukurinya.

2. Sabar dalam menghadapi perubahan kehidupan selama pandemi Covid-19.

Beberapa bentuk perwujudan perilaku berdasarkan nrimo ing pandum pada elemen sabar dalam konteks pandemi Covid-19 adalah bersabar dengan segala perubahan yang terjadi, tidak ngeyel (susah diatur atau ingin menang sendiri) dan tidak mengeluh dalam menghadapi situasi yang ada, serta patuh terhadap segala kebijakan pemerintah terkait penanganan Covid-19.

Adanya kebijakan-kebijakan pemerintah serta protokol kesehatan yang harus dilalui memang terkadang sedikit menyulitkan bahkan tak jarang butuh pengeluaran yang besar di tengah situasi ekonomi yang sedang sulit ini. Namun, jika kita dapat bersabar dalam menghadapinya kita akan lebih mudah dalam mengatasi tekanan, mendapatkan jalan menuju ketentraman dan kenyamanan serta tidak mudah stres oleh berbagai keadaan.

3. Nrimo atau Menerima kenyataan bahwa kita sementara ini harus hidup berdampingan dengan Covid-19 selama masa pandemi.

Dalam konteks pandemi Covid-19, beberapa bentuk perwujudan perilaku berdasarkan nrimo ing pandum pada elemen nrimo adalah dapat beradaptasi dan menerima keadaan seperti ini. Situasi yang tidak menentu, tidak tahu kapan pandemi akan berakhir, isu gelombang covid-19 ketiga, dll ini harus diterima terlebih dahulu, kita hidup berdampingan dengannya, serta menjalani kehidupan New Normal dengan produktif.

Jika kita telah nrimo, maka selanjutnya mudah untuk kita memberikan sumbangsih terhadap lingkungan sekitar seperti membantu tetangga yang sedang karantina mandiri dan turut andil dalam menciptakan kesadaran taat protokol kesehatan.

Kesimpulan

Menjaga kesehatan mental pada saat masa pandemi Covid-19 ini penting agar kondisi batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar. Pada konteks masyarakat budaya jawa, terdapat hal-hal yang bisa relevan dengan konsep kesehatan mental, yakni berasal dari filosofi nrimo ing pandum.

Nrimo ing pandum sendiri merupakan sikap menerima atas kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya, yaitu dengan bersikap sabar, lapang dada, dan bijak, serta bertanggung jawab dalam menempatkan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya sesuai kemampuan yang dipahami dari dirinya, serta menerima apa-apa yang telah terjadi tanpa banyak mengeluh, dengan tanpa berhenti untuk berusaha. Nrimo ing pandum sendiri memiliki tiga elemen psikologis, yaitu syukur (kebersyukuran), sabar (kesabaran), dan nrimo (penerimaan).

Individu yang menjalani hidupnya sesuai dengan prinsip nrimo ing pandum, maka individu tersebut akan merasa tentram dan tidak mudah gelisah dalam menjalani hidup.

Oleh karena itu, ketiga elemen dalam nrimo ing pandum ini dapat berperan penting dalam menunjang kesehatan mental, terutama di masa pandemi ini. Meskipun pada keberjalanan hidup banyak dibenturkan oleh kesulitan dan halang rintang, maka individu tersebut tidak akan merasakan susah dan dapat menjalani hidup penuh kebahagiaan (Maulida, 2019).

Kendati nrimo ing pandum berasal dari budaya Jawa, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya memiliki karakter universal dan sejalan dengan konsep sehat mental pada umumnya. Sehingga nrimo ing pandum ini termasuk salah satu kearifan budaya Jawa berupa filosofi hidup yang berkaitan dengan kesehatan mental dan dapat diterapkan oleh seluruh masyarakat terutama pada masa pandemi Covid-19.

Referensi

Darmastuti, R., & Prasetya, B. E. A. (2020). The Identity Construction of Solo's Adolescent regarding 'Narimo Ing Pandum'. Jurnal ASPIKOM, 5(2), 352-364.

Emmons, R.A., & McCullough, M.E. (2003). Counting Blessing Versus Burdens: An Experimental Investigation of Gratitude and Subjective Well Being in Daily Life. Journal of Personality and Social Psychology, 84(2), 377-389.

Endraswara, S. (2012). Falsafah Hidup Jawa: Menggali Mutiara Kebijakan Dari Intisari Filsafat Kejawen. Yogyakarta: Cakrawala.

Herdiana, I & Triseptiana, N.A. (2013). Gambaran Kesehatan Mental Narapidana Suku Jawa di Tinjau Dari Konsep Nrimo. Jurnal Psikologi Kepribadian dan Sosial.Volume No.1.April 2013.

Maulida, Dian Maya (2019) Konsep “Nrimo ing Pandum” pada Paguyuban Tukang Becak 02 di Lirboyo-Kediri. Undergraduate (S1) thesis, IAIN Kediri.

Putri, R. K. (2018). Meningkatkan self-acceptance (penerimaan diri) dengan Konseling Realita berbasis Budaya Jawa. In Prosiding Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling, 2(1), 118-128.

Subandi. (2011). Sabar: Sebuah Konsep Psikologi. Jurnal Psikologi UGM, 3(2), 215-227.