Konten dari Pengguna

Toxic Productivity dan Dampaknya pada Kesejahteraan Psikologis dan Kinerja

Lovina Fitri Aulia Caniago

Lovina Fitri Aulia Caniago

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lovina Fitri Aulia Caniago tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.freepik.com/free-vector/flat-design-ptsd-illustration_28625288.htm#fromView=search&page=1&position=2&uuid=a983af30-a050-493f-ba39-3a24fef928d4
zoom-in-whitePerbesar
https://www.freepik.com/free-vector/flat-design-ptsd-illustration_28625288.htm#fromView=search&page=1&position=2&uuid=a983af30-a050-493f-ba39-3a24fef928d4

1. Pengertian dan Latar Belakang Toxic Productivity

Toxic productivity didefinisikan sebagai obsesi berlebihan untuk selalu produktif, sering kali dengan mengabaikan kebutuhan dasar seperti istirahat, hubungan sosial, dan kesejahteraan mental. Menurut Ahmad Zain Fahmi, seorang mental health promotor, istilah ini terkait erat dengan "hustle culture" yang mendorong individu untuk terus bekerja keras tanpa mengenal batas, bahkan hingga merasa bersalah jika tidak melakukan sesuatu yang dianggap "produktif".

Teknologi modern juga menjadi salah satu penyebab utama. Dengan email dan platform komunikasi kerja yang terus aktif, batas antara kehidupan profesional dan pribadi menjadi kabur, sehingga individu sering merasa harus selalu tersedia untuk pekerjaan mereka. Fenomena ini diperkuat oleh tekanan sosial, terutama dari media sosial, yang sering kali menggambarkan kesuksesan sebagai hasil dari kerja tanpa henti.

2. Penyebab Toxic Productivity

Ada beberapa faktor yang mendorong seseorang mengalami toxic productivity:

- Budaya Kerja Kompetitif: Di banyak organisasi, individu sering diukur berdasarkan hasil kerja kuantitatif, bukan kualitas atau keseimbangan hidup.

- Tekanan Sosial: Menurut Dr. Julie Smith, media sosial menciptakan ilusi bahwa kesuksesan hanya dapat dicapai dengan kerja keras tanpa henti, yang mendorong individu merasa bersalah jika beristirahat.

- Kurangnya Kesadaran Diri: Banyak individu tidak menyadari bahwa kebutuhan fisik dan mental mereka terganggu karena fokus yang terlalu besar pada produktivitas.

3. Dampak terhadap Kesejahteraan Psikologis

https://www.freepik.com/free-vector/flat-illustration-person-being-overwhelmed_24014061.htm#fromView=search&page=1&position=12&uuid=a983af30-a050-493f-ba39-3a24fef928d4

Studi oleh Wahdaniyah dan Miftahuddin (2019) menunjukkan bahwa tekanan kerja yang berlebihan dapat menyebabkan kecemasan dan stres. Individu yang terus-menerus mengejar produktivitas tinggi sering kali menunjukkan gejala burnout, seperti kelelahan fisik dan emosional, sinisme terhadap pekerjaan, dan rasa tidak puas terhadap hasil kerja.

Penelitian juga mengungkapkan bahwa orang yang mengalami toxic productivity cenderung kehilangan waktu untuk aktivitas yang memberikan kebahagiaan, seperti berkumpul dengan keluarga dan teman, yang pada akhirnya memperburuk kondisi mental mereka.

4. Dampak terhadap Kinerja Individu

Ironisnya, meskipun tujuan toxic productivity adalah untuk meningkatkan kinerja, dampaknya justru sebaliknya. Menurut Maslach dan Jackson (1981), individu yang mengalami burnout cenderung kehilangan motivasi dan fokus, sehingga kualitas pekerjaan mereka menurun.

Selain itu, penelitian oleh Harter et al. (2004) menemukan bahwa keseimbangan kerja-hidup yang buruk sering kali berujung pada penurunan inovasi dan kreativitas. Seseorang yang bekerja terlalu keras tidak memiliki cukup energi untuk berpikir strategis atau menyelesaikan masalah secara efektif.

5. Cara Mengatasi Toxic Productivity

Untuk mengatasi toxic productivity, langkah-langkah berikut dapat diambil:

1. Mengenali dan Mengakui Masalah: Penting untuk menyadari bahwa produktivitas tanpa henti tidak selalu menghasilkan kesuksesan yang lebih besar. Menurut Dr. Julie Smith, menerima bahwa istirahat adalah bagian penting dari produktivitas dapat membantu mengubah pola pikir.

2. Membuat Batasan Waktu: Membagi waktu 24 jam menjadi tiga bagian—8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk aktivitas pribadi, dan 8 jam untuk istirahat—dapat membantu mencapai keseimbangan hidup.

3. Mengutamakan Kesejahteraan Psikologis: Penelitian oleh Janssen dan Van Yperen (2004) menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis karyawan adalah salah satu faktor utama dalam menjaga produktivitas jangka panjang.

4. Mengubah Lingkungan Kerja: Organisasi dapat membantu dengan menciptakan budaya kerja yang mendukung keseimbangan kerja-hidup, misalnya dengan memberikan fleksibilitas waktu kerja dan mendorong karyawan untuk mengambil waktu istirahat yang cukup.

5. Mengadopsi Pola Pikir yang Realistis: Mengakui bahwa tidak semua tugas dapat diselesaikan sekaligus dan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dapat membantu mengurangi tekanan yang tidak perlu.

Toxic productivity adalah tantangan modern yang memengaruhi kesejahteraan dan produktivitas secara signifikan. Dengan memahami penyebab, dampak, dan cara mengatasinya, individu dapat menciptakan pola kerja yang lebih sehat dan memuaskan. Keseimbangan antara produktivitas dan kehidupan pribadi bukan hanya kebutuhan, tetapi juga kunci keberhasilan jangka panjang.