Konten dari Pengguna

Lemak Trans, Ancaman Nyata bagi Kesehatan Jantung

Vito Damay

Vito Damay

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah dengan Pengalaman menjadi dokter selama lima belas tahun. Dr. Vito mendalami varises salah satu penyakit pembuluh darah vena yang merupakan bagian penting dari sistem kardiovaskular.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vito Damay tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tubuh dengan lemak berlebih. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tubuh dengan lemak berlebih. Foto: Shutter Stock

Penyakit jantung tidak lagi menunggu usia tua. Di ruang praktik saya, semakin sering saya menerima pasien berusia awal 30-an—usia produktif—dengan tekanan darah tinggi, penyempitan pembuluh darah, bahkan serangan jantung pertama. Mereka datang bukan karena faktor genetik semata, melainkan akibat paparan risiko yang berlangsung diam-diam selama bertahun-tahun.

Faktor-faktor ini sebenarnya sudah akrab di telinga kita: merokok, kurang bergerak, berat badan berlebih, serta pola makan yang tidak sehat. Namun ada satu ancaman yang sering luput dari perhatian masyarakat, padahal dampaknya sangat merusak bagi jantung: asam lemak trans.

Dalam makanan sehari-hari, tidak semua lemak itu sama. Ada lemak yang perlu dibatasi, ada yang justru dibutuhkan tubuh, dan ada pula yang sebaiknya benar-benar diwaspadai. Lemak jenuh, misalnya, perlu dibatasi karena dapat meningkatkan kolesterol jahat. Sebaliknya, lemak tidak jenuh justru membantu menjaga kesehatan jantung. Namun ada satu jenis lemak yang sering luput dari perhatian, padahal dampaknya paling merugikan: lemak trans.

Mayo Clinic menyebut lemak trans sebagai ‘double trouble’ bagi kesehatan jantung—artinya, lemak trans ini bekerja dengan dua cara yang sama-sama merugikan. Ia menaikkan kolesterol jahat, sekaligus menurunkan kolesterol baik. Kombinasi ini membuat pembuluh darah lebih cepat rusak.

Dari sudut pandang klinis, dampaknya sangat jelas. Lemak trans membuat lemak menempel lebih cepat di dinding pembuluh darah. Lama-kelamaan, pembuluh darah menjadi kaku dan menyempit, sehingga aliran darah ke jantung dan otak terganggu dan pada akhirnya memicu serangan jantung atau stroke. Masalahnya, proses ini sering terjadi tanpa keluhan apa pun selama bertahun-tahun.

Sebagai dokter jantung, saya melihat ujung dari proses ini hampir setiap hari. Saat pasien datang, sering kali kerusakan sudah cukup jauh. Kita memang memiliki teknologi medis yang canggih: pemasangan ring, bypass jantung, hingga penggunaan obat-obatan. Namun tidak ada satu pun tindakan medis yang dapat sepenuhnya menghapus kerusakan akibat paparan lemak trans bertahun-tahun. Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan.

Pencegahan sebenarnya tidak rumit, meski memang membutuhkan komitmen dan disiplin diri. Berhenti merokok, bergerak aktif beberapa kali seminggu, menjaga berat badan, dan mulai lebih selektif memilih makanan—termasuk menghindari lemak trans. Membaca label makanan mungkin terdengar sepele, tetapi kebiasaan kecil ini bisa melindungi jantung kita dalam jangka panjang. Produk yang memiliki label“bebas asam lemak trans” dapat menjadi pilihan utama ketika berbelanja untuk kebutuhan rutin.

Namun kita juga harus jujur: masalah ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya pada individu. Penyakit jantung telah menjadi wabah diam-diam yang didorong oleh peredaran makanan tinggi lemak trans di sekitar kita. Data dari WHO menunjukkan bahwa sebagian produk pangan di Indonesia masih mengandung lemak trans jauh di atas batas aman. Bahkan beberapa jajanan populer yang sering kita anggap biasa, ternyata mengandung lemak trans beberapa kali lipat dari batas yang direkomendasikan.

Sebagai dokter, kita tidak akan pernah meresepkan obat yang secara jelas meningkatkan risiko serangan jantung. Maka pertanyaannya sederhana: mengapa kita membiarkan zat dengan dampak serupa tetap berada dalam sistem pangan kita?

Di sinilah peran pemangku kebijakan menjadi krusial. Pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah tegas dengan membatasi kandungan asam lemak trans dalam pangan, atau bahkan mengeliminasi sumber utamanya yaitu penggunaan partially hydrogenated oil(PHO), sebagaimana direkomendasikan WHO. Lebih dari 60 negara, termasuk di antaranya negara tetangga kita Singapore, Filipina, dan Thailand telah melakukannya dan telah berhasil melindungi hampir setengah populasi dunia.

Kesehatan jantung bukan hanya soal pilihan pribadi, tetapi juga tentang lingkungan dan sistem yang membentuk pilihan tersebut. Kesehatan pembuluh darah adalah kebiasaan, dan dimulai dari hal sederhana sehari hari.