Ummu Mahjan, Bukti Nyata Kontribusi Tak Mesti dengan Potensi Tinggi

Mahasiswi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam STIBA Ar Raayah.
Tulisan dari Luthfiati Afifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Tunjukkan Padaku Letak Makamnya.”
Tak dipungkiri jika memiliki segudang potensi, kontribusi besar pun dapat dilakukan untuk Islam. Namun, andil dalam Islam tak harus menunggu diri kita menjadi cendekiawan, ulama, mujahid, ataupun dipenuhi bakat yang berjibun.
Jangan dikira saat Islam sedang jaya-jayanya, semua umat muslim terkenal layaknya Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu yang selalu berada di garda depan medan jihad atau seperti Aisyah radhiyallahu ‘anha yang memiliki IQ tinggi, sehingga banyak menghafal hadis dan menjadi rujukan para sahabat. Nyatanya, ada juga sosok dibalik layar yang jarang, bahkan tak diacuhkan keberadaannya di antara mereka muslim hebat. Namun, mendapat perhatian khusus dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, bahkan beliau merasa kosong saat sosok itu absen dari pandangannya.
Sampai-sampai, Umar Abdullah, penulis buku Islam Hebat itu terhenyak saat membaca kisahnya yang ditulis oleh Syekh Mahmud Mahdi Al-Istanbuli dan Musthafa Asy-Syalabi dalam karya mereka yang berjudul, Nisa’ Haula Ar-Rasul dengan sub judul “Darsun la yunsa,” pelajaran tak terlupakan.
Siapa gerangan tokoh misterius itu? apa yang menyebabkan Rasulullah salallahu 'alaihi wa salam kehilangan sosok tersebut?
1400 tahun silam
Di tengah-tengah hamparan gurun pasir yang tandus, di antara pegunung dan perbukitan batu, terdapat kota yang terkenal akan wabah yang selalu menyerang penduduknya, menjadikan Yatsrib -nama kota itu- terbengkalai dan terbelakang, sebelum Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam datang membawa Risalah kenabian dan selalu memohon keberkahan di dalamnya.
Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa salam menjadikan kota tersebut tujuan hijrahnya (pindah dari tanah kelahiran -pen). Beliau serta kaum Muhajirin berbondong-bondong berhijrah dari kota kelahiran Makkah, guna menghindari segala siksaan dan diskriminasi yang dilancarkan kaum kafir Quraisy kala itu. Meninggalkan harta benda juga sanak keluarga yang enggan lagi mengakui mereka, demi menggapai kebebasan beribadah tanpa ada gangguan dan siksaan.
Kemudian, beliau menyebarkan nubuwwah-nya. Hingga Yatsrib berevolusi menjadi Madinah Munawwarah, kota pusat kejayaan Islam yang melahirkan para Muslim dan Muslimah tangguh yang siap mengabdikan diri mereka kepada Islam demi meraih Ridho-Nya.
Memiliki kunyah Ummu Mahjan serta nama asli Kharqa’, tidak banyak yang mengetahuinya kecuali wanita tua renta penduduk Madinah. Hitam kulitnya, tak berwisma, jarang yang menganggapnya ada, tak dirindukan keberadaannya dan apabila ia bertanya tak mendapat jawabnya (mungkin di era modern ini, ia biasa disebut tunawisma yang menjadi beban masyarakat -pen).
Meskipun tenaga Ummu Mahjan tak seberapa, namun ia adalah sosok yang sholiha, amanah, dan setia. Ia juga seorang pekerja keras dan ulet. Kesehariannya tak lepas dari menjaga kebersihan masjid Nabawi dari dedaunan kering dan cela, sehingga Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum merasa nyaman berlama-lama berkumpul di sana sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta alam semesta raya.
Sampai pada suatu ketika, nenek miskin itu jatuh sakit, setelah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bertanya keadaannya, beliau bersabda,” Jika dia meninggal, jangan kalian makamkan jenazahnya sampai aku salatkan.”
Dan akhirnya, di malam dingin gelap gulita, malaikat maut datang menutup usianya yang senja. Guna menghindari matahari yang sangat terik di siang hari, para sahabat radhiyallahu 'anhum mengurus jenazah dan memakamkannya malam itu juga di Pemakaman Baqii’ al Gharqid. (Sahih An-Nasa’i: 1968) Mereka tidak mengabarkan Nabi shalallahu 'laihi wasalam, karna segan mengusik waktu istirahat beliau, jadilah proses pemakaman tanpa menghadirkan Nabi dan Rasul akhir zaman, sosok termulia.
Setelah pagi menyapa, Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam merasa ada sesuatu yang kurang, seperti ada yang hilang, tetapi beliau tidak mengerti sesuatu itu. Lantas beliau bertanya kepada para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum, “Di mana dia (Ummu Mahjan -pen)?" Setelah menyadari sosok yang hilang tersebut. Para Sahabat menjawab," Dia sudah tiada."
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam sangat kecewa dengan kenyataan yang baru saja beliau terima itu, karna para sahabatnya radhiyallahu 'anhum seakan-akan meremehkan peran wanita tua renta tersebut, "Mengapa tidak ada yang mengabariku?" Lanjutnya. "Kami tidak sampai hati mengusik ketenangan Anda di malam hari, Ya Rasulullah," jawab mereka merasa bersalah. Nabi shalallahu 'alaihi wasalam pun berkata, “Tunjukkan padaku letak makamnya.” Mereka pun bergegas menunjukkan jalan ke makam Ummu Mahjan.
Setelah tiba, Pemimpin umat muslim itu pun mendirikan salat gaib di belakang makam Ummu Mahjan -seperti posisi saat sebelum dikebumikan- sebagai ganti salat jenazah yang tidak beliau hadiri. Selesai menunaikan salat, beliau shalallahu 'alaihi wasalam bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini dipenuh kegelapan bagi penghuninya, Dan Allah benar-benar akan meneranginya karena salat yang aku lakukan atas mereka.” (Sahih Muslim: 956)
Dialah wanita renta pengabdi setia Masjid Nabi. Mungkin keberadaannya jarang dianggap, pun begitu Allah Ta ‘ala dan Rasul-Nya tidak menganggap perannya sebelah mata, bahkan memuliakannya sedemikian rupa.
Mungkin dimata manusia, apa yang dikerjakan Ummu Mahjan merupakan hal remeh, tapi di mata Allah Ta’ ala hal itu merupakan amal yang besar. Banyak orang yang menghina ras kulit hitam, ingatlah bahwa mereka juga hamba yang diciptakan Allah Ta’ala. Tidak ada yang bisa mengubah rupa ciptaan-Nya, sekalipun hasil reka dokter terhebat pasti masih bercela. Tapi, mereka bisa mengubah akhlak dan perilaku mereka menjadi lebih baik. Karna suatu nilai amal perbuatan bukan dinilai oleh mata telanjang, namun dengan mata hati, yaitu niat dan keikhlasannya.
Setelah menyimak kisah menakjubkan ini, apa masih ada alasan bagi kita untuk tidak mengambil peran dalam Islam?
Sumber :
Abdillah, Abu Umar. Muslim Hebat. Sukoharjo: CV. Arrisalah Cipta Media.
Al Bassam, Abdullah bin Abdurrahman. 2006. Taisir Al-Allam Syarah Umdah Al-Ahkam. Maktabah At-Tabieen.
Alukah.net, “Al-Mar’ah allati Kaanat Taqumul Masjid”, 10 November 2015. https://www.alukah.net/sharia/0/94351/, diakses pada 26 Maret 2021 Pukul 23:22 WIB
Ar.islamway.net, “Dulluunii ‘ala Qabriha”, 11 Juli 2016. https://4cs4mnojlf5a7mcccpqne4wckm-fe3tvbk6lcbjw-ar-islamway-net.translate.goog/article/64035/, diakses pada 27 Maret 2021 Pukul 00:39 WIB
Islamweb.net, “Khulul Madinah Al-Munawwarah minal Waba’”, 25 Mei 2014. https://www.islamweb.net/ar/article/193741/, diakses pada 24 Maret 2021 Pukul 09.05 WIB
Qssas.com, “Qissotu Ummu Mahjan”, 20 Mei 2018. https://www.qssas.com/story/28716, Diakses pada 22 Maret Pukul 22:20 WIB
