Stilistika Suku Bajau: Bahasa yang Menghidupkan Cerita

Aku Lucky Arya Kusuma, bisa di panggil lucky. Sekarang kuliah di FIB Universitas Mulawarman.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Lucky Arya Kusuma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Cerita rakyat selalu punya daya tarik tersendiri, apalagi kalau dibaca bukan cuma dari alurnya, tapi juga dari cara bahasanya disusun. Hal inilah yang terlihat dalam cerpen “Suku Bajau”, sebuah kisah yang bukan hanya seru untuk dibaca, tapi juga menarik untuk dikaji dari segi gaya bahasanya.
Saya, Lucky Arya Kusuma, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Mulawarman, mencoba melihat cerpen ini dari sudut pandang stilistika. Sederhananya, stilistika itu adalah cara kita memahami bagaimana bahasa digunakan dalam sebuah karya sastra untuk membangun suasana, karakter, sampai makna yang lebih dalam.
Cerpen “Suku Bajau” sendiri diambil dari buku Cerita Rakyat Daerah Kalimantan Timur karya Moh. Noor, Drs. Ilham Herman, Anni Sukarni, B.A., dan Abd. Azis. Cerita ini mengangkat asal-usul dan perjalanan masyarakat Bajau yang awalnya berasal dari Kerajaan Johor, lalu menyebar hingga ke wilayah pesisir Kalimantan, khususnya di daerah Berau.
Sampul buku Cerita Rakyat Daerah Kalimantan Timur yang menjadi sumber cerpen “Suku Bajau”. Buku ini memuat berbagai kisah legenda dan tradisi lisan masyarakat Kalimantan Timur yang kaya akan nilai budaya dan bahasa.
Yang langsung terasa saat membaca cerpen ini adalah nuansa bahasa yang “jadul”, tapi justru di situlah letak keunikannya. Kata-kata seperti “Baginda”, “titah”, “konon”, dan “punggawa” bikin cerita ini terasa seperti kita sedang mendengar kisah lama yang dituturkan dari generasi ke generasi. Gaya bahasa seperti ini memang khas cerita rakyat yang punya akar kuat di tradisi lisan.
Selain itu, cara penulis menggambarkan suasana juga cukup hidup. Misalnya, ketika laut digambarkan “tenang seperti kolam”, pembaca bisa langsung membayangkan situasi yang damai sebelum konflik muncul. Di sisi lain, ada juga bagian yang terasa “lebay” (dalam arti positif), seperti ketika suara tokoh digambarkan sampai membuat ikan dan burung ketakutan. Nah, ini yang disebut majas hiperbola dan justru bikin cerita jadi lebih dramatis dan seru.
Hal menarik lainnya adalah adanya pengulangan kata, seperti “Mara—tua” yang akhirnya menjadi Maratua. Gaya seperti ini terasa banget nuansa lisan-nya, seolah-olah cerita ini memang dulunya diceritakan secara langsung dari mulut ke mulut sebelum ditulis.
Nggak cuma soal bahasa, cerpen ini juga kaya akan unsur budaya dan kepercayaan lokal. Misalnya, adanya cerita tentang hantu kunyang dan kebiasaan masyarakat membakar akar tuba untuk mengusirnya. Buat sebagian orang mungkin terdengar mistis, tapi di situlah letak kekayaan budaya yang ditampilkan dalam cerita ini.
Kalau dilihat dari kacamata stilistika, cerpen “Suku Bajau” menunjukkan bahwa bahasa punya peran besar dalam menghidupkan cerita. Bukan cuma soal apa yang diceritakan, tapi bagaimana cara menyampaikannya. Gaya bahasa yang khas bisa bikin cerita terasa lebih hidup, lebih emosional, dan lebih membekas di ingatan pembaca.
Menariknya lagi, cerita seperti ini sebenarnya bukan cuma hiburan. Di dalamnya ada nilai budaya, sejarah, bahkan cara pandang masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Bahasa jadi jembatan penting untuk menjaga semua itu tetap hidup, meskipun zaman terus berubah.
Jadi, lewat analisis sederhana ini, bisa dibilang kalau cerpen “Suku Bajau” bukan sekadar cerita rakyat biasa. Di balik alurnya yang menarik, ada kekuatan bahasa yang membuat cerita ini tetap relevan dan layak untuk terus dibaca, bahkan dikaji lebih dalam.
