Melawan Kutukan Negeri Kaya Sumberdaya Alam (Resource Curse)

ASN Pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka Selatan
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Luhung Amin Firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita tentu sering mendengar istilah kutukan negeri kaya sumber daya alam atau Resource Curse. Sebenarnya apa itu Resource Curse?
Resource curse atau kutukan sumber daya alam bukanlah sekedar istilah akademik, melainkan realitas yang sering menjerat negeri kaya minyak, gas, atau mineral tertentu seperti timah, nikel, emas, bauksit dan sebagainya. Alih-alih menjadi berkah, kekayaan ini justru menimbulkan ketergantungan ekonomi yang membuat sektor lain melemah akibat fenomena Dutch Disease. Disisi lain, tata kelola yang rapuh membuka ruang bagi pemburu rente dan patronase politik, sehingga akuntabilitas menjadi rendah. Hal ini diperparah dengan volatilitas harga komoditas global membuat kebijakan fiskal menjadi tidak stabil, sementara itu konflik kepentingan sering memicu perebutan pemanfaatan sumberdaya. Penjualan komoditas sumberdaya alam ini akan memicu uang kaget atau windfall yang sering habis untuk kebutuhan jangka pendek yang memicu ketimpangan dan ketidakadilan sosial, padahal harusnya digunakan untuk modal pembangunan dan upaya diversifikasi ekonomi.
Kisah negeri Nauru adalah potret dramatis bagaimana kekayaan alam bisa mengubah menjadi sebuah kutukan. Pulau kecil di Pasifik ini pernah berjaya derkat cadangan fosfat yang melimpah yang menjadikannya salah satu negara terkaya per kapita pada 1970-an. Namun, uang kaget dari sumber daya fosfat justru lebih banyak dihabiskan untuk konsumsi yang tidak produktif dan berbagai investasi ekonomi yang gagal. Ketika sumber daya alam fosfat habis, Nauru terjerumus dalam krisis. Infrastruktur rusak, pengangguran tinggi dan ketergantungan besar pada bantuan luar negeri. Cerita Nauru mengingatkan kita bahwa tanpa tata kelola bijak dan strategi diversifikasi ekonomi, sumber daya alam bisa menjadi jebakan yang meninggalkan jejak panjang kemiskinan dan ketidakstablian, alih-alih menjadi berkah pembangunan.
Sebagai ASN yang bekerja di Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung dimana dikenal dengan negeri bumi serumpun sebalai, merupakan daerah produsen timah terbesar di Indonesia sekaligus peringkat kedua dunia. Estimasi produksi timah dalam 10 tahun terakhir diperkirakan mencapai 600.000-650.000 ton dengan estimasi nilai ekonomi mencapai USD 30-35 miliar atau setara lebih dari 400 triliun rupiah. Dengan kondisi tersebut Kepulauan Bangka Belitung berpotensi mengalami keadaan resource curse dan dutch disease karena ketergantungan ekonomi pada timah yang menjadikan dominasi ini melemahkan sektor lain seperti pertanian dan pariwisata. Ketika harga global turun atau tata kelola melemah, ekonomi daerah langsung mengalami kontraksi ekonomi, sebagaimana terlihat pada tahun 2024 hingga saat ini. Selain itu, eksplotiasi berlebihan lewat tambang ilegal menimbulkan kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial. Tanpa diversifikasi ekonomi, transparansi fiskal, dan pengelolaan berkelanjutan, Bangka Belitung beresiko menjadikan timah bukan berkah, melainkan kutukan jangka panjang.
Untuk melawan kutukan sumber daya alam tersebut, diversifikasi ekonomi berbasis pertanian merupakan strategi penting untuk dilakukan. Pertanian mampu menjadi sektor penyeimbang karena dapat menyerap tenaga kerja lokal, memperkuat ketahanan pangan, serta mengurangi ketimpangan sosial. Banyak sub sektor yang dapat dikembangkan antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan dan agroindustri, Bangka Belitung dapat memperluas basis ekonomi non-timah sekaligus menciptakan nilai tambah melalui produksi olahan yang berdaya saing ekspor. Contoh negeri yang berhasil melawan kutukan negeri kaya sumber daya alam salah satunya adalah Norwegia, yang mengelola pendapatan minyak buminya dengan memperkuat sektor perikanan, teknologi, dan melalui sovereign wealth fund.
Sebagai ASN, langkah pengabdian dalam melawan kutukan sumberdaya melalui sektor pertanian adalah dengan pengembangan komoditas tanaman pangan yaitu padi. Negeri yang terkenal sebagai penghasil timah kini perlahan menjadi daerah lumbung pangan di Kepulauan Bangka Belitung. Pada tahun 2025, Bangka Selatan sudah mencapai swasembada beras. Tentu ini bukan hanya kerja satu orang, melainkan hasil kerja seluruh tim dan stake holder terkait.
Salah satu sentra beras yang sangat terkenal di Kepulauan Bangka Belitung adalah desa Rias, yang memiliki telah menanam lebih dari 1.600 Ha. Banyak petani yang dulu bekerja sebagai penambang kini sudah istiqomah untuk bertani padi, salah satunya adalah para petani pada Kelompok Tani Marsudi Tani 1, Desa Rias. Saat ini kelompok tersebut sudah mengoperasionalkan beberapa Alsintan yang diperoleh baik dari bantuan Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Pemerinah Kabupaten Bangka Selatan, serta dukungan dari Bank Indonesia Kanwil Bangka Belitung. Secara kelembagaan kelompok, merupakan salah satu mitra strategis Bulog yang telah menyerap lebih dari 3700 ton gabah dengan harga yang sangat layak yaitu Rp.6.500/per kg. Adanya Bulog juga menjadi stimulan semangat bagi para petani untuk bertani karena dulu pada saat musim raya harga gabah jatuh, sedangkan saat ini para petani sudah mempunyai kepastian harga yang layak. Marsudi Tani 1 juga menjadi Poktan pertama dan satu-satunya yang mampu memproduksi beras kualitas premium di Kepulauan Bangka Belitung. Harapan penulis pengabdian ke depan adalah terus mencetak Marsudi Tani 1 lain yang bisa terus berkontribusi melawan kutukan negeri kaya sumber daya alam.
