Konten dari Pengguna

Literasi Keuangan, budgeting 50-30-20, serta Kewirausahaan bagi Siswa

Lukas Makarius

Lukas Makarius

Saya adalah mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lukas Makarius tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Mahasiswa Universitas Pamulang
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Mahasiswa Universitas Pamulang

Belajar mengatur keuangan serta membangun jiwa wirausaha sejak sekolah

Kemampuan mengelola uang sejak usia sekolah menjadi salah satu bekal penting bagi siswa dalam menghadapi kehidupan setelah lulus. Hal tersebut mendorong tim mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang untuk menyelenggarakan pelatihan literasi keuangan, budgeting 50-30-20, serta kewirausahaan bagi siswa SMK Utama Bintaro, Tangerang Selatan, pada 23 April 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang bertujuan memberikan pemahaman dasar mengenai pengelolaan keuangan sekaligus menumbuhkan jiwa wirausaha sejak dini.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh empat mahasiswa, yaitu Lukas Makarius, Rivaldy Saputra, Alexander Pito Oldani, dan Muhamad Fajar, dengan bimbingan dosen Pak Eko Sasongko. Peserta pelatihan merupakan siswa kelas X dan XI SMK Utama Bintaro. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui pemaparan, diskusi, penyuluhan, serta sesi tanya jawab sehingga siswa dapat menghubungkan materi dengan kondisi keuangan yang mereka alami sehari-hari.

Pentingnya literasi keuangan sejak usia sekolah juga didukung oleh sejumlah data. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada 2023 mencatat skor literasi keuangan Indonesia sebesar 57, yang masih berada di bawah rata-rata global sebesar 60. Sementara itu, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2022 menunjukkan tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 49,68 persen. Pada kelompok usia 15–17 tahun, tingkat literasi keuangan tercatat sebesar 43,28 persen.

Rendahnya pemahaman mengenai pengelolaan keuangan dapat membuat generasi muda lebih rentan mengambil keputusan keuangan tanpa perencanaan yang matang. OJK juga mencatat bahwa pada 2023, kelompok usia 19–34 tahun memiliki porsi besar dalam pinjaman daring bermasalah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa edukasi mengenai pengelolaan uang perlu diberikan sejak bangku sekolah agar siswa terbiasa mengambil keputusan keuangan secara lebih terencana dan bertanggung jawab.

Dalam pelatihan tersebut, siswa mendapatkan materi mengenai berbagai hal yang dekat dengan kehidupan mereka. Materi dimulai dari cara membedakan kebutuhan dan keinginan, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan konsep budgeting 50-30-20 sebagai salah satu cara sederhana dalam mengatur uang. Siswa juga diberikan pemahaman mengenai pencatatan pemasukan dan pengeluaran harian, pentingnya menabung, serta cara menentukan target tabungan menggunakan metode SMART Goal.

Selain pengelolaan keuangan, siswa diperkenalkan pada konsep dasar kewirausahaan. Materi ini diarahkan agar siswa tidak hanya memahami cara menggunakan uang, tetapi juga mulai memiliki pola pikir produktif dalam menciptakan peluang. Dengan demikian, literasi keuangan dapat menjadi salah satu dasar bagi siswa untuk mengembangkan kemandirian ekonomi, baik ketika memasuki dunia kerja maupun ketika ingin memulai usaha.

Pelatihan juga membahas perilaku konsumtif dan fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang dapat mendorong seseorang melakukan pembelian hanya karena mengikuti tren atau lingkungan sekitar. Melalui materi tersebut, siswa diajak memahami bahwa mengelola uang bukan sekadar membatasi pengeluaran, tetapi juga menentukan prioritas dan membuat keputusan berdasarkan kebutuhan serta tujuan keuangan.

Selama kegiatan berlangsung, siswa menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi. Hal tersebut terlihat dari keterlibatan mereka dalam diskusi dan sesi tanya jawab mengenai cara mengatur uang saku serta kebiasaan keuangan sehari-hari. Sebelum pelatihan, sebagian siswa mengaku belum terbiasa mencatat pemasukan dan pengeluaran serta masih mengalami kesulitan dalam membedakan kebutuhan dengan keinginan.

Setelah mengikuti pelatihan, siswa mulai memahami pentingnya membuat perencanaan keuangan, membedakan kebutuhan dan keinginan, menerapkan prinsip dasar budgeting, serta menentukan tujuan menabung. Meskipun demikian, tim pelaksana mencatat bahwa kegiatan ini belum menggunakan instrumen evaluasi berupa pretest dan posttest. Evaluasi tersebut diharapkan dapat digunakan pada kegiatan berikutnya untuk mengukur perubahan pemahaman peserta secara lebih terukur.

Melalui pelatihan ini, mahasiswa Universitas Pamulang berharap siswa SMK Utama Bintaro dapat membangun kebiasaan keuangan yang lebih sehat sejak dini. Pemahaman mengenai literasi keuangan, budgeting 50-30-20, menabung, dan kewirausahaan diharapkan dapat menjadi bekal bagi siswa untuk lebih mandiri dalam mengelola keuangan serta memiliki keberanian untuk melihat dan menciptakan peluang usaha di masa depan.

Sumber: Diolah dari artikel “Pelatihan Literasi Keuangan Dasar bagi Siswa sebagai Bekal Jiwa Wirausaha Sejak Dini di SMK Utama Bintaro”, DEDIKASI Vol. 6 No. 1, Oktober 2026.