Konten dari Pengguna

Healing Tipis-Tipis: Ketika Anak Muda Menganggap Alfamart adalah Bali Kecil

Muhammad Lukman Hakim

Muhammad Lukman Hakim

Mahasiswa S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga angkatan 2025 yang memiliki ketertarikan pada bidang edukasi kesehatan dan kegiatan pengembangan.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Lukman Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://www.freepik.com/free-photo/attractive-handsome-stylish-indian-man-wear-shirt-holding-mobile-phone-sitting-terrace-modern-lounge-cafe-his-work-break_25761985.htm#fromView=search&page=1&position=2&uuid=d24dfa20-b955-495f-a568-29e747de44c7&query=duduk+depan+toko
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://www.freepik.com/free-photo/attractive-handsome-stylish-indian-man-wear-shirt-holding-mobile-phone-sitting-terrace-modern-lounge-cafe-his-work-break_25761985.htm#fromView=search&page=1&position=2&uuid=d24dfa20-b955-495f-a568-29e747de44c7&query=duduk+depan+toko

Beberapa tahun terakhir, kata “healing” semakin populer di kalangan anak muda. Dalam Gaya Hidup di berbagai platform, healing sering digambarkan sebagai liburan mewah, staycation dengan view pantai, atau bepergian ke luar negeri. Namun, realita di kehidupan sehari-hari berbeda jauh.

Bagi banyak anak muda, healing tidak selalu berarti pergi ke Bali. Healing sekarang bisa sesederhana beli minuman dingin di minimarket, jalan sore di komplek, atau duduk di warung sambil ngopi. Healing tipis-tipis yang murah tapi efektif.

Fenomena ini muncul karena tekanan hidup makin tinggi. Tugas kampus bertumpuk, jam lembur makin panjang, harga tiket pesawat makin mahal. Sementara itu, waktu libur tidak bertambah. Maka, healing menjadi versi praktis: cari ketenangan dekat rumah.

Anak muda kini memaknai healing sebagai jeda dari rutinitas, bukan wisata mahal. Yang penting adalah rasa “bebas sebentar”, bukan destinasi. Bahkan, nongkrong di teras rumah sambil makan mie instan bisa terasa seperti liburan pribadi.

Beberapa orang menyebut minimarket seperti “destinasi wisata era modern”. Di sana ada musik, camilan enak, jajanan es krim, minuman dingin, dan AC yang menyenangkan. Butuh pelarian murah? Tinggal jalan kaki lima menit.

Healing tipis-tipis juga menunjukkan bagaimana perubahan gaya hidup terjadi. Jika dulu liburan dianggap harus jauh, kini banyak yang lebih memilih menikmati momen kecil. Tidak perlu rencana panjang, tinggal berangkat saat butuh.

Scrolling TikTok sambil rebahan juga dianggap healing. Menonton kucing lucu, video estetik, atau resep simpel bisa membuat hari terasa lebih ringan. Bahkan, membersihkan kamar pun bisa jadi healing kalau bikin pikiran lega.

Tujuan healing sekarang bergeser: bukan untuk terlihat keren, tapi untuk merasa tenang. Bukan untuk pamer destinasi, tapi untuk mengistirahatkan batin. Healing tidak harus difoto, selama hatinya merasa lebih baik.

Anak muda juga semakin sadar bahwa self-care tidak perlu mahal. Alih-alih menghabiskan uang untuk liburan mewah, mereka lebih memilih merawat diri dengan cara sederhana. Makan enak, tidur cukup, atau sekadar mandi air hangat bisa jadi perawatan mental.

Fenomena healing tipis-tipis juga membuat orang lebih menghargai waktu luang. Satu jam tidur siang, 15 menit jalan kaki, atau 10 menit meracik kopi bisa terasa seperti hadiah. Era sibuk membuat jeda kecil jadi terasa berharga.

Minimarket, warung kopi pinggir jalan, atau taman kecil di dekat rumah menjadi ruang pemulihan yang tidak pernah dianggap penting sebelumnya. Tempatnya mungkin biasa saja, tapi suasananya bisa memberi kenyamanan.

Healing tidak tentang lokasi, tetapi tentang sensasi lega. Bahkan, berbicara sebentar dengan teman dekat sambil makan gorengan bisa membuat stres berkurang. Tidak perlu panorama mahal untuk merasa damai.

Pada akhirnya, healing tipis-tipis adalah bentuk adaptasi terhadap tekanan hidup. Anak muda mencari cara realistis untuk bertahan tanpa harus menguras dompet. Karena kesehatan mental bukan soal kemewahan, tetapi keseimbangan.

Healing bukan harus pergi jauh. Kadang, kita hanya butuh es kopi susu Rp 12 ribuan, cas handphone, dan suasana AC yang tenang. Kalau terasa lega, berarti itu sudah cukup jadi liburan.