Makan Sendirian di Restoran: Self-Care atau Tanda Hidup Terlalu Capek?

Mahasiswa S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga angkatan 2025 yang memiliki ketertarikan pada bidang edukasi kesehatan dan kegiatan pengembangan.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Lukman Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Makan sendirian dulu sering dipandang aneh, bahkan menyedihkan. Beberapa orang takut terlihat seperti tidak punya teman. Tetapi sekarang, fenomena itu mulai berubah menjadi bentuk self-care.Dalam Gaya Hidup sekarang, makan sendiri sudah jauh dari kesan menyedihkan. Kadang kita cuma ingin menikmati makanan tanpa obrolan basa-basi yang bikin lelah.
Sebagian orang menikmati makan sendiri sambil mendengarkan lagu favorit, menonton video pendek, atau justru tidak membuka gadget sama sekali. Tidak perlu menunggu siapa pun, tidak perlu kompromi menentukan tempat makan, dan menu yang dipesan pun sesuai selera pribadi. Solo dining memberi kebebasan penuh tanpa drama sosial yang sering terjadi saat makan bersama.
Makan sendiri ternyata juga membantu seseorang mengenali rasa dan kebutuhannya. Ia menyadari kapan benar-benar lapar, apa yang ia inginkan, dan apa yang membuatnya nyaman. Tidak perlu memesan menu tambahan demi menyesuaikan diri dengan orang lain, dan rekening yang dibayar hanya makanan yang benar-benar dinikmati. Sederhana, tapi memberi ruang pada tubuh dan pikiran.
Fenomena ini mengubah cara kita memandang kesendirian. Generasi muda semakin sadar bahwa kebahagiaan tidak harus dirayakan dalam keramaian. Ketika rutinitas makin padat, waktu tenang justru terasa seperti kemewahan. Solo dining pun berubah menjadi momen memulihkan energi sosial. Seseorang yang terlihat makan sendiri di sudut restoran bukan berarti kesepian, tetapi sedang merawat dirinya setelah interaksi panjang seharian.
Tubuh butuh makanan, tetapi pikiran juga butuh ruang untuk tenang. Banyak restoran kini menyediakan kursi khusus satu orang, tanda bahwa kebiasaan ini semakin diterima dalam kehidupan modern. Self-care pun tidak lagi identik dengan spa, produk estetik, atau liburan mahal. Terkadang cukup duduk diam dan makan tanpa percakapan basa-basi. Ini sejalan dengan meningkatnya minat pada self-care yang fokus pada kesehatan mental, bukan hanya penampilan luar.
Generasi Z dan milenial mulai mengutamakan kenyamanan dibanding gengsi sosial. Mereka memilih makan sendiri karena butuh jeda, bukan karena sendirian. Tidak perlu bukti foto, tidak perlu terlihat estetik di media sosial, yang penting merasa tenang. Pada akhirnya, makan tetap makan entah sendiri atau ramai-ramai, tujuannya tetap memberi rasa lega pada tubuh. Nilai sesungguhnya bukan pada jumlah orang di meja, tetapi bagaimana makanan itu dinikmati.
Jika satu porsi makanan bisa membuat hati pulih, maka tidak ada yang salah dengan meja untuk satu orang. Solo dining bukan tanda tidak punya teman. Justru itu tanda seseorang memilih memprioritaskan diri sendiri, memberi ruang pada pikiran, dan menikmati hidup tanpa tekanan sosial.
