Work-Life Balance: Impian Anak Muda yang Selalu Gagal di Jam Kerja

Mahasiswa S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga angkatan 2025 yang memiliki ketertarikan pada bidang edukasi kesehatan dan kegiatan pengembangan.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Lukman Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang bilang hidup harus seimbang antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Istilah work-life balance terdengar seperti kunci kebahagiaan versi modern. Banyak orang menyangka keseimbangan hidup hanya soal membagi waktu, padahal tantangannya muncul ketika pekerjaan mulai masuk ke ruang pribadi.
Banyak anak muda justru merasa semakin sibuk ketika mencoba membatasi jam kerja. Notifikasi pekerjaan tetap muncul saat makan malam, telepon kantor masih menyala ketika sedang mandi sore, bahkan di saat liburan pun pesan pekerjaan tidak berhenti.
Banyak anak muda mencoba membatasi jam kerja, tetapi notifikasi pekerjaan tetap muncul saat makan malam. Telepon kantor masih menyala ketika sedang mandi sore. Bahkan ketika sedang liburan, pesan pekerjaan masih mengejar seolah tidak punya batas.
Teknologi membuat kerja terlihat fleksibel, tetapi di saat yang sama membuat pekerjaan menempel ke kehidupan pribadi. Laptop bisa dibawa ke mana pun, tapi pekerjaannya ikut ikut terus. Rasanya seperti pekerjaan punya akses VIP ke hidup kita.
Media sosial membuat semuanya semakin rumit. Foto teman liburan, nongkrong estetik, dan gaya hidup mahal membuat banyak orang merasa harus bekerja lebih keras agar punya kesempatan yang sama. Ambisi terlihat keren, meski sebenarnya tubuh sedang kelelahan.
Kelelahan itu akhirnya muncul dalam bentuk insomnia, kehilangan fokus, pusing, bahkan burnout. Istirahat seharusnya bukan hadiah setelah bekerja mati-matian, tetapi kebutuhan dasar yang tak boleh ditawar.
Banyak orang mulai membuat batas kecil untuk melindungi diri. Ada yang mematikan email setelah jam tertentu, menolak rapat di jam makan, atau memberi hadiah sederhana pada diri sendiri setelah bekerja seharian. Kadang hanya minum dingin di minimarket, tidur siang sebentar, atau berjalan sore menghirup udara.
Work-life balance tidak harus terlihat estetik. Tidak harus di kafe mahal, tidak butuh keanggotaan gym premium. Duduk diam tanpa membuka notifikasi pun bisa menjadi perawatan mental.
Self-care tidak selalu berarti skincare mahal atau ritual spa. Kadang cukup menghidupkan mode pesawat dan tidur sebelum jam 10 malam. Pada akhirnya, keseimbangan bukan soal waktu ideal, tetapi soal kemampuan memberi ruang bagi tubuh untuk istirahat.
Tidak semua orang punya jam kerja fleksibel, tapi semua orang bisa mencuri momen jeda. Bukan untuk malas, tapi untuk tetap waras. Hidup bukan hanya soal bekerja keras; ada keluarga, teman, hobi, bahkan waktu sendirian yang layak diperjuangkan.
Work-life balance bukan tujuan akhir yang harus dicapai, melainkan perjalanan menjaga diri agar tetap sehat, produktif, dan tetap punya hidup yang terasa hidup.
