Bukan Malas, Tapi Lelah: Krisis Motivasi Kerja Anak Muda Indonesia
Tulisan dari Lukman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah pasar kerja yang lesu dan tekanan yang makin besar, fenomena quiet quitting bukan sekadar tren — ia adalah sinyal bahaya yang perlu segera didengar.
Memasuki 2026, kondisi pasar kerja Indonesia belum banyak berubah dari tahun sebelumnya. Haryo Suryosumarto, pendiri Headhunter Indonesia, "Tahun 2026 masih akan menjadi tahun survival bagi tenaga kerja. Situasinya tidak akan banyak berubah dibanding 2025". Bukan hanya sulitnya mencari kerja. Haryo juga mencatat perubahan perilaku perekrut. Perusahaan yang masih tumbuh pun kini jauh lebih selektif, sementara beberapa sektor termasuk manufaktur sedang dalam tekanan. Ketidakpastian ekonomi membuat banyak perusahaan mengerem rekrutmen, bahkan terus melakukan PHK.
Di saat yang sama, generasi yang paling banyak mengisi angkatan kerja baru Gen Z justru sedang bergulat dengan krisis motivasi yang jarang dibicarakan secara terbuka.
Dalam kondisi seperti ini, banyak pekerja muda yang akhirnya "terpaksa bertahan" di tempat kerja yang tidak ideal. Dan di situlah benih motivasi yang melemah mulai tumbuh.
Quiet quitting bukan soal berhenti kerja diam-diam. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang memilih bekerja secukupnya saja menyelesaikan tugas yang diminta, tidak lebih, tidak kurang. Tidak ada lembur sukarela. Tidak ada inisiatif ekstra. Hanya melakukan apa yang tertulis di job description.
Kedengarannya wajar. Tapi bagi perusahaan, ini adalah tanda bahaya: karyawan yang secara fisik hadir namun secara mental sudah pergi.
Peneliti Zaky Ainun Narendra dan Rizky Nur A'yuninnisa dari studi mereka di 2025 menemukan bahwa di Indonesia, Gen Z lebih menghargai fleksibilitas, pengakuan, dan keseimbangan emosional dibandingkan imbalan materi semata. Ketika tiga hal itu tidak terpenuhi, quiet quitting menjadi jalan keluar yang paling rasional.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Reslaj pada Desember 2025 melibatkan 354 pekerja Gen Z di Karawang, berusia 18 hingga 27 tahun. Hasilnya tegas: burnout secara signifikan mendorong perilaku quiet quitting.
Studi lain dari Jakarta yang dipublikasikan di Economics and Business Solutions Journal (2026) memperkuat temuan ini. Peneliti menemukan bahwa job insecurity dan burnout secara bersamaan meningkatkan tendensi quiet quitting menandakan bahwa tekanan psikologis mendorong pekerja untuk menarik diri dari keterlibatan ekstra.
Sementara itu survei global yang dikutip peneliti Nuttall (2025) mencatat angka yang tidak bisa diabaikan: 39% profesional Gen Z berencana pindah kerja dalam enam bulan ke depan. Bukan karena malas tapi karena mereka mencari lingkungan yang sejalan dengan nilai dan kondisi psikologis mereka.
Tiga Akar Masalah yang Jarang Diakui
Tekanan kerja tanpa dukungan yang sepadan. Ketika tuntutan tinggi tapi sumber daya entah itu otonomi, apresiasi, atau fleksibilitas sangat minim, burnout bukan kemungkinan. Ia kepastian. Penelitian di Karawang pada 354 pekerja Gen Z menunjukkan bahwa burnout secara signifikan mendorong perilaku quiet quitting. Tubuh masih hadir di kantor, tapi pikiran sudah angkat koper.
ketidakpastian pasar kerja yang menekan dari luar. PHK massal di startup, persaingan yang semakin ketat, dan sulitnya transisi dari kampus ke dunia kerja membuat banyak anak muda masuk kerja dengan rasa takut, bukan dengan rasa antusias. Rasa takut itu, jika tidak dikelola, perlahan berubah jadi apatis.
kesenjangan antara ekspektasi dan realita. Gen Z datang ke dunia kerja dengan nilai yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka menghargai fleksibilitas, pengakuan, dan keseimbangan emosional bukan sekadar gaji. Ketika nilai itu bertabrakan dengan budaya kerja lama yang mengagungkan lembur dan loyalitas buta, yang pecah bukan karyawannya, tapi motivasinya.
Narasi bahwa Gen Z manja dan tidak mau kerja keras adalah narasi yang keliru dan berbahaya, karena ia menutupi masalah struktural yang nyata.
Telaah literatur dari Universitas Airlangga (2025) yang menganalisis delapan studi menemukan bahwa faktor seperti job insecurity, beban kerja berlebih, burnout, dan lingkungan kerja yang toksik adalah penyebab nyata quiet quitting. Sebaliknya, work-life balance, dukungan organisasi, dan kepuasan kerja terbukti menekan fenomena ini.
Motivasi kerja tidak tumbuh dari slogan atau ceramah pagi. Ia tumbuh dari lingkungan yang aman secara psikologis, atasan yang mendengar, dan pekerjaan yang terasa bermakna.
Lalu Apa yang Harus Dilakukan?
Untuk perusahaan: mulailah mendengarkan sungguh-sungguh. Bukan survei tahunan yang hasilnya masuk laci, tapi percakapan nyata tentang beban kerja dan kebutuhan tim. Fleksibilitas bukan kemewahan riset konsisten menunjukkan ia adalah salah satu faktor terkuat dalam mempertahankan motivasi karyawan muda.
Untuk individu: quiet quitting yang disadari sebagai strategi menjaga kesehatan mental adalah sah. Tapi jika ia menjadi sinyal bahwa kamu ada di tempat yang salah, jangan terlalu lama mengabaikannya.
Dan untuk kita semua: sudah saatnya kita berhenti merayakan kelelahan sebagai tanda kerja keras. Produktivitas yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang punya energi, rasa aman, dan alasan untuk benar-benar peduli pada pekerjaan mereka.
Lalu bagaimana meningkatkan motivasi kerja?
Temukan Kembali "Mengapa"-mu
Minta Umpan Balik, Jangan Tunggu Evaluasi Tahunan
Jaga Lingkungan Kerjamu Sekondusif Mungkin
Investasi pada Dirimu Sendiri
Tetapkan Batasan yang Sehat, Ini Bukan Kelemahan
Cari Makna di Luar Jabatan dan Gaji
Kalau Sudah Semua Dicoba dan Tetap Kosong, Pertimbangkan Pindah
Quotes dari author "Yang dibutuhkan pekerja muda bukan motivasi dari atasan yang pandai bicara. Yang mereka butuhkan adalah lingkungan yang aman, pekerjaan yang bermakna, dan jaminan bahwa usaha mereka tidak akan sia-sia begitu saja."

