Bagaimana Trump Mengubah Peta Kekuasaan di Amerika Latin?

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sriwijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Lukyta Rahmadanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemenangan Donald Trump kembali menempatkan Amerika Latin sebagai salah satu titik panas geopolitik dunia. Setelah bertahun-tahun dikesampingkan dalam prioritas kebijakan luar negeri Amerika Serikat, kawasan ini kini masuk kembali dalam pusat strategi Washington. Melalui dokumen keamanan terbarunya, pemerintahan Trump menegaskan bahwa Belahan Barat adalah “prioritas keamanan utama” dan bahwa AS akan mengembalikan pengaruhnya sambil mencegah kekuatan asing menguat di wilayah tersebut. Dalam konteks inilah peta kekuasaan Amerika Latin mulai bergeser, bukan karena dinamika internal semata, tetapi karena perubahan tajam dalam cara AS memperlakukan kawasan tersebut.
Salah satu perubahan paling signifikan adalah munculnya kembali pola intervensi ala Monroe Doctrine, hanya saja dibungkus dengan narasi baru. Melalui Operation Southern Spear, Pemerintah AS menggelar operasi militer skala besar yang diklaim sebagai upaya memberantas kartel narkoba. Meski terdengar seperti agenda keamanan yang sah, operasi lintas-batas ini menyalakan kembali trauma lama negara-negara Amerika Latin yang pernah berkali-kali menjadi lokasi intervensi AS. Bagi banyak pemerintah di kawasan, operasi ini bukan sekadar aksi penegakan hukum, melainkan upaya AS untuk memulihkan dominasi historis di wilayah yang selama ini dianggap sebagai “halaman belakang.”
Upaya Trump mengubah lanskap kekuasaan di kawasan juga terlihat dari sikap kerasnya terhadap negara-negara yang menjalin kemitraan ekonomi dengan China. Dalam dua dekade terakhir, Beijing telah menjadi kekuatan ekonomi dan infrastruktur terbesar di Amerika Latin, membangun pelabuhan, menggarap proyek energi, hingga mengamankan akses ke mineral strategis. Trump memandang ekspansi China di kawasan sebagai ancaman langsung terhadap kepentingan nasional AS. Karena itu, strategi barunya secara eksplisit menegaskan upaya menahan, bahkan membendung, pengaruh ekonomi maupun teknologi China. Amerika Latin pun kembali berubah menjadi arena kontestasi dua kekuatan besar dunia, menghidupkan dinamika yang lebih dekat dengan Perang Dingin dibanding realitas multipolar saat ini.
Namun kebangkitan sikap keras AS tidak diterima begitu saja. Ketegangan diplomatik mulai muncul di berbagai negara. Presiden Kolombia, misalnya, memberi peringatan keras agar AS tidak kembali menjalankan intervensi yang dapat mengguncang stabilitas kawasan. Pemerintah Brasil menegaskan orientasi globalnya yang semakin independen, sementara Meksiko semakin vokal menolak tekanan dalam isu migrasi. Bahkan negara-negara yang sebelumnya sangat bergantung pada Washington kini berani mengambil posisi lebih tegas, menunjukkan bahwa Amerika Latin sudah jauh berbeda dari era 1950-an.
Bukan hanya resistensi politik yang meningkat, perubahan ekonomi kawasan turut memperkecil ruang manuver AS. China telah menjadi mitra dagang terbesar bagi sebagian besar negara Amerika Latin, sementara blok-blok regional seperti CELAC dan Mercosur bergerak menuju pola kerja sama yang lebih otonom. Dalam konteks ini, pendekatan Trump yang menekankan kekuatan militer dan tekanan geopolitik membuat strategi AS justru tampak usang. Ketika dunia bergerak ke arah multipolaritas, Trump kembali menggunakan logika geopolitik abad ke-20 yang semakin sulit diterapkan di kawasan yang kini lebih berani menegosiasikan posisinya.
Jika Trump berharap dapat mengembalikan tatanan lama di mana AS memegang posisi dominan tanpa perlawanan berarti, dinamika saat ini menunjukkan arah yang berbeda. Kebijakan agresif Washington justru berisiko menjadi bumerang, meningkatkan resistensi diplomatik, mendorong negara-negara Amerika Latin makin dekat ke Beijing, dan melemahkan legitimasi AS sebagai mitra strategis. Dalam situasi ini, upaya AS mengubah peta kekuasaan di Amerika Latin justru menghasilkan akibat yang tidak terduga, yakni percepatan transformasi kawasan menuju kemandirian geopolitik.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan Trump bukan sekadar menciptakan ketegangan baru, tetapi membuka kembali pertarungan lama tentang siapa yang berhak menentukan masa depan Amerika Latin. Dan berbeda dari dekade-dekade sebelumnya, kawasan ini kini memiliki lebih banyak pilihan, lebih banyak mitra, dan lebih banyak ruang untuk menolak narasi dominasi. Trump mungkin berusaha memutar ulang sejarah, tetapi Amerika Latin tampaknya siap memainkan perannya sendiri dalam peta kekuasaan global yang sedang berubah.
