Ketika Popularitas Jadi Alat Persuasi: Teknik Propaganda Testimonial

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sriwijaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Lukyta Rahmadanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jujur saja, siapa yang menyangka sosis bisa berubah menjadi “fandom item”? Namun fenomena itulah yang terjadi ketika sebuah brand makanan menggandeng TREASURE dalam kampanye promosinya. Timeline media sosial langsung ramai. Dengan mekanisme promo beli tiga sosis mendapatkan satu gacha photocard, produk tersebut terasa lebih seperti merchandise resmi fandom daripada sekadar makanan beku. Sistem gacha ini membuat pengalaman membeli menjadi lebih emosional dan kompetitif. Konsumen tidak hanya membeli karena rasa atau kebutuhan, tetapi juga karena kemungkinan mendapatkan photocard member favorit. Di titik ini, konsumsi berubah menjadi permainan peluang yang memicu antusiasme sekaligus dorongan membeli berulang.
Apa itu Teknik Testimonial?
Salah satu teknik propaganda yang paling sering digunakan dalam dunia pemasaran adalah testimonial atau celebrity endorsement. Teknik ini memanfaatkan figur publik untuk memengaruhi sikap dan keputusan audiens. Dalam praktiknya, selebritas tidak perlu memiliki keahlian khusus terkait produk yang dipromosikan. Yang dipinjam bukanlah keahlian, melainkan popularitas dan pengaruh sosial.
Dalam kasus kolaborasi brand makanan dengan TREASURE, para idol tidak hadir sebagai ahli kuliner atau pakar nutrisi. Mereka hadir sebagai simbol tren global, representasi budaya K-pop, dan figur yang memiliki hubungan emosional kuat dengan penggemarnya. Popularitas itulah yang kemudian menjadi alat persuasi.
Fans K-pop dikenal memiliki loyalitas tinggi. Hubungan antara idol dan penggemar sering kali terasa personal, meskipun sebenarnya dibangun melalui layar dan algoritma media sosial. Fans mengikuti siaran langsung, konten vlog, konser, hingga aktivitas promosi yang melibatkan idol mereka. Ketika idol yang mereka dukung muncul dalam kampanye sebuah produk, keputusan membeli tidak lagi sepenuhnya rasional. Konsumsi berubah menjadi bentuk partisipasi. Membeli terasa seperti mendukung, sementara membagikan produk di media sosial terasa seperti menunjukkan kesetiaan.
Di sinilah teknik testimonial bekerja secara efektif. Ia tidak secara langsung memerintah konsumen untuk membeli. Sebaliknya, ia menciptakan asosiasi emosional. Idol yang populer, muda, dan relevan dengan generasi muda secara tidak langsung mentransfer citra tersebut kepada produk yang mereka promosikan. Tanpa perlu klaim berlebihan, pesan yang tersampaikan cukup sederhana: Jika idol favoritmu ada di sini, maka produk ini juga bagian dari dunia yang kamu sukai.
Efek Ikut-ikutan dan Tekanan Sosial Digital
Selain testimonial, kampanye semacam ini juga sering diperkuat oleh efek bandwagon. Ketika media sosial dipenuhi unggahan penggemar yang membeli produk, membuat konten unboxing, atau berburu photocard tertentu, tercipta kesan bahwa semua orang sedang ikut terlibat. Dalam budaya digital yang sangat bergantung pada validasi sosial, tekanan ini terasa nyata. Tidak membeli bisa terasa seperti tertinggal dari momen kolektif fandom.
Algoritma media sosial memperkuat efek tersebut. Semakin sering konten tentang kolaborasi itu muncul di timeline, semakin besar pula dorongan untuk ikut berpartisipasi. Pada akhirnya, keputusan membeli tidak lagi hanya berkaitan dengan kebutuhan konsumsi, tetapi juga dengan keinginan untuk menjadi bagian dari percakapan.
Konsumsi sebagai Ekspresi Identitas
Menariknya, propaganda dalam konteks ini tidak hadir dalam bentuk politik atau ideologi besar. Ia muncul dalam ranah sosial-budaya yang tampak ringan dan menyenangkan. Namun dampaknya cukup nyata, yaitu perubahan perilaku konsumsi.
Kolaborasi antara brand dan idol menunjukkan bagaimana identitas dan konsumsi semakin sulit dipisahkan. Produk tidak lagi sekadar barang guna, tetapi juga simbol afiliasi. Bagi banyak penggemar, membeli produk yang dipromosikan idol bisa menjadi cara untuk menunjukkan siapa diri mereka dan komunitas mana yang mereka dukung.
Di satu sisi, brand memanfaatkan gelombang popularitas budaya K-pop dan kekuatan fandom global untuk memperluas pasar. Di sisi lain, fans merasa sedang mendukung idol mereka. Dua kepentingan ini bertemu dalam satu titik yang sama: transaksi.
Apakah hal ini salah? Tidak juga. Dari sudut pandang bisnis, strategi tersebut tergolong cerdas. Namun yang perlu dipahami adalah bagaimana teknik propaganda testimonial bekerja secara subtil. Konsumen merasa mengambil keputusan secara bebas, padahal pilihan tersebut dipengaruhi oleh ikatan emosional yang telah dibangun sejak lama.
Ketika Emosi Lebih Kuat dari Logika
Fenomena kolaborasi brand makanan dengan TREASURE menunjukkan bahwa di era Gen Z, kekuatan selebritas tidak hanya terletak pada karya, tetapi juga pada daya dorong ekonomi yang mereka miliki. Idol menjadi jembatan yang menghubungkan emosi dengan konsumsi. Selama hubungan emosional antara idol dan penggemar tetap kuat, teknik testimonial akan terus menjadi alat persuasi yang efektif.
Hari ini, yang dijual bukan hanya makanan. Yang dijual adalah rasa memiliki. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, rasa memiliki sering kali jauh lebih bernilai dibanding sekadar fungsi sebuah produk.
Pada akhirnya, kolaborasi semacam ini memperlihatkan bagaimana popularitas dapat berubah menjadi alat persuasi yang sangat kuat. Tidak ada paksaan dan tidak ada ancaman, hanya asosiasi yang terasa natural dan menyenangkan. Justru karena terasa natural itulah pengaruhnya menjadi lebih efektif.
Generasi saat ini hidup dalam ekosistem di mana hiburan, identitas, dan konsumsi saling bertaut. Membeli produk yang dipromosikan idol dapat terasa seperti bentuk dukungan, kebanggaan, bahkan solidaritas fandom. Padahal pada saat yang sama, keputusan tersebut juga menggerakkan roda industri yang memahami dengan sangat baik bagaimana cara memainkan emosi kolektif.
Karena di era sekarang, propaganda tidak datang dengan wajah serius atau bahasa besar. Ia datang dengan senyum idol, desain yang menarik, dan kampanye yang viral di media sosial. Dan mungkin langkah paling kritis yang bisa dilakukan bukanlah menolak sepenuhnya, melainkan memahami bagaimana cara kerjanya.
