Benarkah Madu Dapat Menurunkan Nyeri Haid?

Lulu Syahab
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah jakarta
Konten dari Pengguna
2 Desember 2021 14:29 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Lulu Syahab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
sumber : pixabay
zoom-in-whitePerbesar
sumber : pixabay
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Tahukah teman-teman mengenai kesehatan reproduksi? berbicara mengenai kesehatan reproduksi sangat kompleks. Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat pada fisik, mental, dan sosial yang tidak hanya terbebas dari penyakit, namun juga dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi. Salah satu diantaranya yang penting bagi kesehatan reproduksi perempuan adalah kesehatan menstruasi.
ADVERTISEMENT
Kemungkinan wanita yang mengalami menstruasi biasanya mengeluhkan gejala-gejala dalam dua hari pertama. Gejala tersebut ditunjukan seperti emosi yang tidak stabil, sakit kepala dan nafsu makan yang menurun. Sedangkan gejala fisik yang paling umum adalah adanya ketidaknyamanan, kembung di daerah perut, rasa tertekan pada daerah kemaluannya, dan nyeri haid.
Nyeri haid biasanya dialami setiap wanita selama menstruasi. Penyebab nyeri haid bermacam-macam. Namun, harus waspada ya! terutama jika nyeri haid yang muncul tidak tertahankan dan kunjung hilang, karena bisa jadi hal ini menandakan adanya penyakit atau gangguan tertentu. Rasa sakit ini biasanya tidak begitu menyiksa pada sebagian wanita, sehingga masih dapat melakukan aktivitas seperti biasa. Namun, beberapa wanita lainnya mungkin merasakan nyeri haid yang tidak tertahankan sehingga tidak mampu melakukan aktivitas apa pun.
ADVERTISEMENT
Apakah kalian tau penyebab dari nyeri haid? nyeri haid biasanya terjadi akibat pelepasan yang berlebihan senyawa kimia berupa mediator rasa nyeri. Mediator ini adalah suatu perangsang kuat yang akan menimbulkan rasa nyeri hebat.
Nyeri haid didefinisikan sebagai nyeri pada saat menstruasi yang disertai dengan rasa kram dan dirasakan di perut bagian bawah. Di Indonesia, menurut data Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja tahun 2009 didapatkan angka kejadian nyeri haid primer sebesar 72,9 persen. Banyaknya angka tersebut memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan para remaja. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk antisipasi terhadap nyeri haid ini.
Meskipun akhir-akhir ini penanganan pada nyeri haid dapat langsung diantisipasi dengan minum obat seperti ibuprofen atau parasetamol, hal ini dapat menimbulkan efek samping, terutama jika dikonsumsi terus menerus. Nah, penanganan yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan bahan herbal berupa madu yang memiliki nutrisi beragam.
ADVERTISEMENT
Siapa yang tidak kenal madu? sebelum kita membahas manfaat madu, kalian pernah mendengar apa itu manfaat dari madu? selain rasanya yang manis dan harganya yang sangat terjangkau, ternyata madu memiliki manfaat yang dapat menjaga daya tahan tubuh, salah satunya kandungan pada madu yang dapat menurunkan nyeri haid. Tahukan teman-teman? saat ini terdapat kebiasaan penggunaan herbal beserta pengobatan alternatif untuk nyeri haid, salah satunya adalah dengan mengonsumsi madu ini.
Sebenarnya, bagaimana madu dapat menurunkan nyeri haid? Simak Penjelasannya
sumber : pixabay
Madu terdapat kandungan vitamin B1, E, dan flavonoid. Kandungan flavonoid dan kandungan mineral seperti Ca, Mg, Zn menunjukkan bahwa nutrisi-nutrisi tersebut dapat menghilangkan nyeri haid melalui mekanisme kerja anti nyeri dengan cara menghambat mediator nyeri. Inilah alasannya mengapa madu dapat menurunkan nyeri haid.
ADVERTISEMENT
Dari manfaat anti nyeri pada madu tersebut, madu memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk mengurangi nyeri haid karena kandungan gizi di dalamnya baik untuk kesehatan.
Tahukah kalian? madu juga dapat mengurangi gangguan nyeri haid secara signifikan terhadap aktivitas secara umum, seperti suasana hati, kemampuan dalam berjalan, pekerjaan, hubungan dengan orang lain. Berkurangnya tingkat nyeri pada saat minum madu akan berdampak terhadap berkurangnya gangguan yang dirasakan.
Karena biasanya nyeri haid dirasakan pada remaja, maka hal ini dapat menyebabkan para remaja sulit untuk hadir ke sekolah untuk belajar akibat rasa nyeri ini yang mungkin datang tiap bulannya, sehingga dapat berakibat pada penurunan kualitas belajar.
Nah, Bagaimana teman-teman bisa mendapatkan manfaat madu? mudah banget! teman-teman bisa mendapatkan manfaat pada madu hanya dengan minum madu setiap hari sebanyak satu sampai dua sendok makan, atau boleh dilarutkan terlebih dahulu dalam segelas air hangat.
ADVERTISEMENT
Untuk teman-teman yang sedang mengalami nyeri haid, bisa mencoba mengonsumsi madu. Karena kandungan yang dijelaskan sebelumnya menyebutkan bahwa madu benar-benar memiliki manfaat yang cukup baik untuk meredakan nyeri haid yang teman-teman alami. Oleh karena itu, mengonsumi madu dapat menjadi pengobatan alternatif untuk teman-teman konsumsi.
Dari manfaat madu diatas, sebagian besar madu bermanfaat dalam bidang kesehatan. Namun, tidak menutup kemungkinan kita dapat memperoleh manfaat madu selain untuk mengatasi nyeri haid. Karena berdasarkan khasiatnya, nutrisi-nutrisi pada madu dapat meningkatkan imunitas tubuh sehingga dapat terhindar dari risiko penyakit jantung, kanker, dan penyakit lainnya. Apalagi jika dikonsumsi rutin. Oleh karena itu, kita dapat mengajak keluarga untuk rutin mengonsumsi madu. Karena rutinitas yang sehat menyebabkan pikiran lebih jernih dan sehat pula sehingga dapat melakukan banyak hal positif.
ADVERTISEMENT
Sumber :
1. Prayuni ED, Imandiri A, Adianti M. THERAPY FOR IRREGULAR MENSTRUATION WITH ACUPUNTURE AND HERBAL PEGAGAN (CENTELLA ASIATICA (L.)). Journal of Vocational Health Studies. 2018.87.
2. Munjidah A. The Correlation of Body Fat Thickness and Menstrual Cycle Length. Jurnal Ners dan Kebidanan. 2016;[3]1:9.
3. Tsamara G, Raharjo W, Putri EA. The Relationship Between Lifestyle with The Incident of Primary Dysmenorrhea in Medical Faculty Female Students of Tanjungpura University. Jurnal Nasional Ilmu Kesehatan.2020;[2]3:131.