DCF Sarana Pelestarian Ruwatan Rambut Gimbal

Mahasiswa fakultas Informatika, Institut Teknologi Telkom Purwokerto
Tulisan dari LULU MUFIDAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lulu Mufidah

Rambut gimbal adalah helai rambut mirip tali yang berbentuk anyaman. Awalnya rambut gimbal menjadi sesuatu yang aneh, karena jarang orang yang memilikinya. Masyarakat mulai menerima orang yang berambut gimbal bersamaan dengan berkembangnya musik Reggae di tahun 1970. Musik Reggae sendiri identik dengan rambut gimbal. Di Dataran Tinggi Dieng rambut gimbal menjadi mitos yang sangat iconic hingga dibuatkan sebuah upacara atau ruwatan.
Sejarah Ruwatan Rambut Gimbal
Ruwatan rambut gimbal yaitu upacara pemotongan rambut pada anak berambut gimbal dan biasanya diadakan pada satu Suro menurut kalender Jawa. Menurut kepercayaan warga Dieng, ruwatan ini untuk membersihkan anak yang berambut gimbal dari kesialan dan malapetaka.
Menurut warga Dieng anak berambut gimbal dipercaya sebagai keturunan Kyai Kolodete dan titipan Kanjeng Ratu Kidul. Jadi tidak boleh sembarangan untuk memotong rambutnya. Pemotongannya harus ketika anak itu sudah meminta untuk dipotong, kalau tidak si anak akan menjadi sakit-sakitan. Sebelum dipotong, biasanya anak akan mengajukan permintaan yang kadang unik dan susah ditebak. Dan orangtuanya harus menuruti meskipun sulit.
Tradisi ruwatan ini digelar setiap tahun dengan tujuan melestarikan budaya leluhur agar tidak hilang di era globalisasi seperti sekarang ini. Dahulu orangtua yang anaknya berambut gimbal harus mengadakan acara pemotongan sendiri. Namun, setelah adanya acara Dieng Culture Festival (DCF), ruwatan rambut gimbal diadakan secara massal sehingga warga tidak perlu membuat upacara sendiri dan melalui DCF acaranya tentu lebih meriah dari biasanya.
Dieng Culture Festival
DCF merupakan festival budaya Dieng yang menyeimbangkan antara unsur budaya masyarakat, potensi wisata alam serta pemberdayaan masyarakat lokal. DCF menjadi harmonisasi sosial antara nilai-nilai kearifan lokal, agama, dan sosial ekonomi pada masyarakat Dieng dengan menjadikan ritual potong rambut gimbal sebagai acara inti. DCF digagas oleh Pokdarwis Dieng Pandawa yang bekerjasama dengan Equator Sinergi Indonesia, dan Dieng Ecotourism.Festival ini awalnya disebut "Pekan Budaya Dieng" dan pertama kali diadakan tahun 2010
Selain ruwatan rambut gimbal , DCF juga dimeriahkan berbagai macam acara. Seperti jalan sehat dan minum Purwaceng, pertunjukan pentas seni budaya, pemutaran nominator Festival Film Dieng, pagelaran wayang kulit, pesta lampion dan kembang api, pagelaran Jazz Atas Awan, camping DCF, dan lain-lain.
DCF menjadi magnet bagi wisatawan, baik domestic maupun mancanegara. Keindahan alam wisata Dieng dan budaya unik yang jumlahnya cukup banyak menjadi daya tarik utama pariwisata. Konsep dari DCF sendiri menyuguhkan perpaduan seni tradisi, kekayaan indie dan kontemporer yang dikemas dengan sangat baik dan selalu ada hal yang baru tiap tahunnya.
DCF menjadi perantara untuk menunjukkan kepada masyarakat luas akan kekayaan alam, budaya dan adat istiadat yang dimiliki Dieng. Melalui DCF kita mengenalkan potensi wisata dan seni budaya yang dimiliki kepada semua lapisan masyarakat baik dalam negeri maupun mancanegara. Selain itu, DCF bisa dijadikan sebagai sektor untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat Dieng.
Dengan demikian DCF menjadi sarana yang sangat cocok untuk melestarikan tradisi ruwatan rambut gimbal di era serba teknologi seperti sekarang ini agar budaya tersebut tidak hilang dimakan zaman. Dan menjadikan semua budaya yang ada di Dieng menjadi salah satu kearifan lokal yang mampu mengundang banyak wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Sekaligus dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat Dieng.
